Tren Digital di Tahun Macan Air

Pemanfaatan teknologi digital kiat menguat pada 2022. Foto: Rami Al-zayat/Unsplash.


#DigitalBisa #UntukIndonesiaLebihBaik

Tahun 2022, yang merupakan Tahun Macan Air berdasarkan sistem penanggalan Tionghoa, disebut-sebut akan menjadi tahun inovasi dan investasi dalam teknologi digital. 

Diproyeksikan, mulai awal 2022, 70 persen dari semua organisasi bisnis dan nonbisnis akan mempercepat penggunaan teknologi digital. Sektor bisnis bakal memiliki sebagian besar tenaga kerja mereka yang melakukan aktivitas kerja dari jarak jauh maupun dengan sistem hybrid. Gawai, aplikasi, situs web, dan berbagai perangkat akan semakin banyak melibatkan kecerdasan buatan.

Pada saat yang sama, teknologi 5G akan semakin menjadi arus utama, yang memberikan keandalan dan konektivitas bandwidth yang lebih tinggi untuk memungkinkan pengalaman yang lebih kaya dan lebih responsif pada perangkat seluler maupun desktop. 

Seperti kita ketahui, jaringan 5G secara signifikan lebih cepat daripada jaringan 4G, menghasilkan 20 Gbps pada saat peak dan kecepatan rata-rata lebih dari 100 Mbps. Para penyedia teknologi akan memanfaatkan kecanggihan teknologi 5G untuk membuat produk-produk mereka lebih imersif (mengaburkan batasan antara jagad nyata dengan jagad digital) dan juga memperluas penggunaan internet of things (IoT). 

Sepanjang tahun 2021, jumlah koneksi 5G global telah meningkat tiga kali lipat menjadi 670 juta dan diprediksikan bakal menjangkau pasar yang lebih luas dalam rentang 12 bulan ke depan. 

Sektor keuangan
Inovasi akan kian mengemuka pula di sektor keuangan digital, seperti mata uang kripto (cryptocurrency) dan mata uang digital yang didukung oleh bank sentral. Ini akan semakin meningkatkan inklusi keuangan dan meningkatkan pembayaran lintas batas.

Pada bulan Oktober lalu, Dana Moneter Internasional (IMF) menyebut bahwa pihaknya secara seksama melihat risiko dan peluang yang ditimbulkan oleh mata uang digital ini.

Secara keseluruhan, bank sentral di seluruh dunia menilai potensi yang semakin besar terkait mata uang digital di tengah meningkatnya minat khalayak pada cryptocurrency dan kanal-kanal pembayaran online lainnya.

Menurut laporan Moody's Investors Service, jumlah negara yang mengembangkan central bank digital currency (CBDC) telah mengalami peningkatan secara signifikan ketika konsumen beralih ke metode pembayaran digital selama pandemi virus corona sejak awal 2020 lalu.

Eswar Prasad, profesor ekonomi di Universitas Cornell dan penulis buku bertajuk The Future of Money: How the Digital Revolution is Transforming Currencies and Finance, seperti dikutip CNBC menyatakan bahwa bagi banyak konsumen dan kalangan bisnis yang beralih ke pembayaran digital, mungkin tidak ada jalan untuk kembali menggunakan uang tunai, bahkan jika kekhawatiran terkait pandemi telah surut sekalipun.

Belanja online dan AR
Dalam soal aktivitas berbelanja, masyarakat akan bertambah dimanjakan dengan kehadiran teknologi augmented reality (AR). Para vendor kini dapat membuat model produk 3D yang lebih realistik, memungkinkan calon pembeli untuk melihat item barang seolah-olah mereka menggenggamnya di tangan mereka sebelum membuat keputusan untuk membelinya. Ini tidak hanya akan memberikan contoh produk yang lebih akurat yang ingin kita beli, tetapi juga akan mendorong konsumen akhirnya merasa perlu membeli barang yang  sebelumnya kurang mereka yakini. 

Belanja online sendiri merupakan konsep revolusioner satu dekade lalu. Kini, berkat teknologi digital yang semakin canggih, kita dapat melakukan aktivitas belanja, mulai dari bahan makanan pokok, pakaian hingga gawai termutakhir, dan lantas dikirim langsung ke depan pintu rumah kita, hanya dengan meng-klak-klik layar gawai kita.

Keamanan data
Di balik berbagai inovasi digital yang semakin menguat di tahun 2022, aspek keamanan siber tetap perlu menjadi perhatian. Pakar keamanan siber dari CISSRec, Pratama Persada, mengingatkan bahwa ancaman siber pada tahun 2022 tak akan jauh seperti tahun 2021, yaitu pencurian data dan ransomware.

“Pencurian data atau serangan siber memang sangat sulit dicegah. Namun, itu semua bisa ditekan dengan pendekatan hukum lewat UU, juga pendekatan SDM dan teknologi," jelas Pratama melalui keterangan resminya, yang dikutip kantor berita Antara.

Menurutnya, pencurian data masih akan menjadi tren di tahun 2022. Data dalam jumlah masif semakin dibutuhkan oleh banyak pihak, baik untuk kegiatan legal maupun ilegal. Meski hal tersebut terjadi secara global, Pratama mengatakan Indonesia harus serius mengatasi permasalahan ini mengingat jumlah pemakai internet di tanah air menembus 200 juta orang.

Pratama berharap peristiwa seperti bocornya data institusi pemerintah seperti yang menimpa Polri, BPJS Kesehatan, e-HAC, dan banyaknya peretasan pada web pemerintah diharapkan bisa ditekan pada tahun mendatang sehingga meningkatkan kepercayaan dunia internasional pada Indonesia.***

Sumber rujukan:

1) Alkesh Sharma. 2021. Top 10 tech trends to watch out for in 2022. https://www.thenationalnews.com/business/technology/2021/12/29/top-10-tech-trends-to-watch-out-for-in-2022/

2) Anina OT. 2021. The 8 Massive Technology Trends Set for 2022.
https://www.makeuseof.com/technology-trends-2022/

3) Suci Nurhaliza & Maria Rosari Dwi Putri. 2021. Pakar: Pencurian Data dan "Ransomware" Masih Jadi Ancaman di 2022.
https://m.antaranews.com/amp/berita/2605345/pakar-pencurian-data-dan-ransomware-masih-jadi-ancaman-di-2022

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Tekan ESC untuk keluar