Tips dan Trik Jitu untuk Pelaku Usaha Jelang Pemulihan Ekonomi Pasca Pandemi

Ilustrasi | Pixabay/stevepb


Kondisi sulit akibat pandemi Covid-19 diprediksi akan segera berakhir. Menyambut masa pemulihan nanti, pelaku usaha diharap bisa melakukan sejumlah hal untuk mempersiapkan diri menghadapi lonjakan permintaan barang dan jasa dari masyarakat.

Menurut Pakar Marketing dan Managing Partner Inventure Yuswohady,perekonomian masyarakat akan mulai pulih optimal per awal 2022. Pemulihan ini bisa terjadi apabila gelombang ketiga Covid-19 tidak terjadi, atau tak separah penyebaran virus di masa-masa sebelumnya.

“Tahun 2020 adalah tahun gelap, kemudian di 2021 ada dua fase. Pertama, ada fase ‘wait and see’ di semester I, dan fase persiapan di semester II untuk giant leap yang akan dilakukan pelaku bisnis di semester I/2022. Kita akan recover betul di 2022 dengan catatan tidak ada gelombang ketiga nantinya. Ini memberi harapan luar biasa bagi pebisnis untuk melakukan giant leap, rebound, lompatan inovasi dan value preposition mulai 2022,” ujar Yuswohady dalam acara News Normal Talks yang diadakan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. secara daring, Kamis (7/10).

Berdasarkan survei bertajuk Indonesia Industry Outlook 2nd Semester 2021 yang melibatkan 532 responden dan diadakan Inventure-Alvara pada Juni lalu, terlihat bahwa 59,5 persen masyarakat yakin ekonomi akan mulai pulih di akhir 2021. Kemudian, 81 persen masyarakat kini sudah percaya diri untuk mulai bepergian ke pasar untuk membeli berbagai kebutuhan hidupnya.

Tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi patut diantisipasi pelaku usaha. Persiapan bisa dilakukan pebisnis mulai enam bulan terakhir di 2021. Persiapan wajib dilakukan mulai sekarang untuk menjamin terjaganya kualitas produk dan jasa yang ditawarkan ke calon pembeli.

BACA JUGA: Cerita di Balik Dapur Produksi Keripik Pisang Asap Khas Samarinda

Lantas, apa saja kunci bagi pelaku usaha agar bisa siap menyambut terjadinya gelombang pemulihan ekonomi besar-besaran nanti?

Salah satu hal yang bisa dilakukan pebisnis adalah mengetahui apa saja hal yang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan/keinginan masyarakat. Pemetaan kebutuhan dan keinginan bisa dilakukan dengan mempertimbangkan adanya perubahan sifat dan gaya hidup masyarakat sejak pandemi terjadi.

Menurut Yuswohady, sejak awal 2020 mulai terjadi perubahan signifikan gaya hidup dan sikap masyarakat dalam beraktivitas atau mencari hiburan.

Sebagai contoh, masyarakat kini mulai terbiasa hidup berdampingan dengan teknologi ketika bekerja, sekolah, atau menggelar pertemuan (go virtual). Fleksibilitas kegiatan juga semakin meningkat (go digiwhere) karena pengaruh penggunaan teknologi. Masyarakat juga kini mulai terbiasa bertransaksi tanpa uang tunai (go contactless), beraktivitas secara hybrid (go omni), dan semakin percaya diri serta sadar ihwal kebutuhan privasinya (go confidential).

“Salah satu tren konsumen go digital adalah mereka makin mengurangi kontak fisik. Misalnya, kedai kopi itu sekarang banyak yang sudah terima pembayaran cashless. Metode cashless pasca pandemi jadi keniscayaan dan bukan hal aneh,” tutur Yuswohady. “Pandemi juga membuat market internet membesar, baik yang mobile internet atau fixed broadband.”

Setelah itu, pelaku usaha harus sadar bahwa di masa awal pemulihan besar-besaran nanti akan terjadi gelombang revenge travelling. Maksud istilah ini adalah, akan ada kebiasaan masyarakat untuk beraktivitas di luar rumah—baik itu pergi ke mall, tempat wisata, atau kafe—sebagai bentuk aktualisasi diri.

Pergerakan masyarakat ke luar rumah nanti harus diantisipasi pelaku usaha dengan mulai menyiapkan SDM dan teknologi digital untuk membantu efektifitas layanan nanti. Tanpa persiapan dan penggunaan teknologi digital, bisa jadi pelaku usaha akan gagap dan tak bisa memaksimalkan potensi pendapatan dari gelombang pemulihan pasca pandemi. 

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Tekan ESC untuk keluar