Simbah Zaman Now : Potret Digitalisasi di Kalangan Lanjut Usia

Potret Kehidupan Seorang Nenek dan Digitalisasi


#57TahunTelkom #DigitalBisaUntukSemua

Kondisi pandemi yang sempat merebak di seluruh dunia, nyatanya menimbulkan banyak perubahan di segala aspek kehidupan. Virus yang pertama kali dilaporkan di Wuhan, China tersebut tidak hanya berpengaruh pada perubahan kondisi kesehatan tubuh seseorang, melainkan juga berpengaruh terhadap berbagai tatanan kehidupan. Covid-19 nyatanya telah mempengaruhi berbagai aspek, seperti aspek kesehatan, aspek teknologi informasi, keagamaan maupun aspek sosial budaya. Salah satu dampak dari pandemi adalah terbatasnya intensitas interaksi secara langsung atau tatap muka. Jika masyarakat pada umumnya bersosial, melakukan komunikasi dan interaksi dengan sesama individu ataupun kelompok sosial lainnya secara tatap muka tanpa adanya perantara, maka pandemi bak mengubah segalanya. Resiko terpaparnya virus berbahaya, menyebabkan masyarakat lebih memilih melakukan interaksi sosial tanpa kontak langsung, dan memilih menggunakan media digital atau online, karena menjadi pilihan terbaik di masa sulit tersebut.

Masyarakat memilih memanfaatkan aplikasi daring dan chatting untuk berkomunikasi, seperti aplikasi WhatsApp, Facebook, atau bahkan Instagram. Sementara itu, aplikasi yang menjadi booming dan meningkat penggunaannya di masa pandemi adalah aplikasi WhatsApp serta aplikasi Zoom. Aplikasi ini banyak dipakai oleh masyarakat di era pandemi untuk bekerja, belajar mengajar, atau berkomunikasi dengan orang lain. Aplikasi ini menghadirkan fitur video call yang lengkap, sehingga si pengguna seperti berkomunikasi secara langsung atau tatap muka, meskipun jarak pemisah terpaut sangat jauh. Betapa digitalisasi dapat membantu kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia.

Seperti slogan kerennya Telkom Indonesia, yakni menghadirkan dunia dalam genggaman. Bahwa adanya digitalisasi yang semakin berkembang, masyarakat dimudahkan untuk dapat berkomunikasi dengan siapapun, bahkan sanak saudara mereka yang berada di belahan dunia lainnya. Komunikasi secara video call dengan teman atau sanak dari lintas negara pun, sudah bukan lagi menjadi suatu hal yang mustahil untuk dilakukan.

Demikian pula yang dialami oleh Mbah Sumini. Seorang pensiunan usia 70 tahunan yang terpaksa harus memutar otaknya untuk dapat belajar mengenai perkembangan di dunia digital. Simbah 11 cucu dan 2 cicit ini, mau tidak mau harus mengganti ponsel jadulnya dengan ponsel pintar atau smartphone dengan fitur Andorid yang memungkinkan beliau untuk dapat berkomunikasi secara video, dengan cucu-cucunya yang notabene jauh dari tempat tinggalnya di pedesaan.

Lansia dengan ponselnya |  Sumber : unsplash.com ( Joseph Chan)

Lansia dengan ponselnya | Sumber : unsplash.com ( Joseph Chan)

Belajar pakai aplikasi apa ini ya namanya, ya susah. Pusing juga awalnya. Tapi kalau tidak pakai ini dan tidak belajar ini ya tidak bisa lihat muka cucu. Apalagi lihat cucu yang paling kecil yang baru lahir di Jakarta, di masa Covid ini. Walaupun ya masih kepencet-pencet yang lainnya.” Begitulah cerita dari Mbah Sumini menjelaskan tentang pengalamannya belajar video call menggunakan aplikasi WhatsApp serta internet ketika masa pandemi.

Potret nyata bahwa lanjut usia yang dikenal sulit belajar, kuno atau ketinggalan zaman karena tinggal di pedesaan, nampaknya mampu didobrak oleh Mbah Sumini. Bagaimana tidak, perempuan empat anak, yang telah berusia senja tersebut nyatanya masih mampu belajar untuk mengetik dan berkirim pesan, bahkan melakukan panggilan video dengan cucu-cucunya yang berdomisili jauh dari tempat tinggalnya.

Meskipun Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyebutkan bahwa penggunaan digitalisasi di kalangan lanjut usia di Indonesia masih terbilang rendah, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa adanya masyarakat lanjut usia yang memang memanfaatkan digitalisasi tersebut untuk menunjang berbagai aspek kehidupannya. Seperti halnya yang dilakukan dan dialami oleh Mbah Sumini, pensiunan guru tersebut.

Ilustrasi seorang nenek tengah melakukan video call dengan anaknya. | Sumber : unsplash.com ( Georg Arthur Pflueger)

Ilustrasi seorang nenek tengah melakukan video call dengan anaknya. | Sumber : unsplash.com ( Georg Arthur Pflueger)

Pandemi yang merebak sejak awal 2020-an itu, menghalangi temu kangen antara perempuan lanjut usia tersebut dengan cucu-cucu kesayangannya. Sudah 3 tahun sejak awal pandemi terhitung, beliau tidak dapat melepas kerinduan secara langsung dengan keluarganya. Anak dan cucunya yang notabene tinggal di kota besar seperti Jakarta, dan Yogyakarta yang berjarak sangat jauh dari desa tempat tinggalnya di ujung timur Jawa Tengah tersebut, tentu saja mengurungkan niat mereka untuk bertemu secara langsung dengan nenek tercinta mereka. Demi menjaga kondisi kesehatan beliau yang sudah tidak prima lagi, bahkan cenderung lebih rentan dengan virus mematikan satu itu.

Potret cerita dari Simbah Sumini bisa saja dialami oleh simbah-simbah lainnya di Indonesia, di mana mereka tidak dapat bertemu dengan keluarga mereka yang berada di kota, karena pandemi yang merajalela. Untungnya, kehadiran digitalisasi yang semakin berkembang pesat mampu memberikan angin segar dan bantuan bagi mereka, untuk tetap dapat berkabar dan bahkan menatap wajah orang-orang yang mereka cinta, meskipun harus melalui dunia maya. Kenyataannya dunia digital yang semakin maju sangat dibutuhkan oleh masyarakat dalam segala aspek kehidupannya. Telkom Indonesia salah satunya turut berperan dalam terciptanya kemajuan digital, dengan menghadirkan berbagai terobosan serta koneksi internet yang dapat menjamah hingga pelosok Indonesia.

Terimakasih Telkom Indonesia.

Sumber Tulisan :

Shanti, Hreeloita Dharma.2021.Kominfo Sebut Penggunaan Digitalisasi pada Lansia Masih Rendah. 21 Oktober 2021. 

https://www.antaranews.com/berita/2472969/kominfo-sebut-penggunaan-digitalisasi-pada-lansia-masih-rendah

 

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

X

Tekan ESC untuk keluar