Sentuhan Digital Wujudkan Pertanian Berkelanjutan

Sentuhan Digital di Sektor Pertanian | Pexels (Anna Shvets)


#57TahunTelkom #DigitalBisaUntukSemua

“Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman…”

Begitulah penggalan lirik lagu yang dibawakan oleh grup musik legendaris Indonesia, Koes Plus. Penggalan lirik yang menggambarkan tentang betapa suburnya tanah Indonesia tersebut, dalam kehidupan nyata memang begitulah adanya. Ini artinya apapun jenis tumbuhan yang ditanam pada tanah kita, pasti memberikan hasil panen yang melimpah bagi kehidupan masyarakatnya.

Berbicara mengenai kesuburan tanah di Indonesia tentu tak telepas dari pengelolaan oleh petaninya. Sebagai media tanaman, tanah yang dikelola oleh petani sudah menjadi syarat mutlak untuk subur. Hal ini dimaksudkan agar kesuburan tanahnya memberikan hasil panen yang melimpah, sehingga berujung memberikan ketahanan pangan di masa yang akan datang.

Penurunan Minat Generasi Muda di Sektor Pertanian

Setiap hal yang baik dalam hidup pasti ingin tetap berlanjut walaupun pencetus pertama sudah tidak ada. Mereka ialah para petani lanjut usia, yang menginginkan generasi muda untuk melanjutkan kiprahnya di sektor pertanian.

Di Indonesia, berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2018 tercatat bahwa jumlah petani muda yang berusia kurang dari 35 tahun hanya sekitar 10,52%, kalah jauh dengan jumlah petani kelompok usia 35-54 yang berjumlah 51,98. Bahkan, jumlah petani dari kalangan usia di atas 54 tahun juga masih lebih besar jumlahnya ketimbang petani muda, yakni mencapai 37,5%.

Berdasarkan pengalaman bertanya kepada beberapa anak muda terkait dengan pendapatnya tentang sektor pertanian di Indonesia. Maka, secara sederhana disimpulkan bahwa ada penurunan minat mereka terhadap sektor tersebut. Hal ini karena adanya persepsi, bahwa pertanian bersifat konvesional sehingga masih manual dalam pengelolaan tanaman dan secara ekonomi kurang menguntungkan di zaman modern.

Temuan adanya penurunan minat generasi muda di sektor pertanian, yang sebagaimana juga diperkuat oleh hasil riset “The Smeru Research Institute”. Tentu, dalam jangka panjang akan mengkhawatirkan sebab ketahanan pangan sangat ditentukan oleh kesuburan tanah yang dikelola oleh petaninya.

Apalagi, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga memperkirakan bahwa populasi dunia akan mencapai 8,9 miliar jiwa pada 2050. Pertumbuhan populasi dunia tentu saja mengartikan, bahwa akan ada peningkatan kebutuhan pangan. Sehingga, dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM) tentu keberlangsungan petani akhirnya juga akan sangat dibutuhkan demi menjamin ketahanan pangan di masa yang akan datang.

Teknologi Digital di Sektor Pertanian, Magnet Bagi Generasi Muda

Persepsi bahwa pertanian bersifat konvesional, sehingga dalam pengelolaan masih dikerjakan manual dan kurang menguntungkan di zaman modern. Secara garis besar menjadi penyebab, menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian di Indonesia. Dalam jangka panjang, menurunya minat mereka di sektor tersebut tentu saja dapat memberikan konsekuensi bagi ketahanan pangan di Tanah Air.

Oleh karena itu, sudah saatnya kini melakukan pembauran pada proses kerja di sektor pertanian yang sesuai dengan karakteristik anak muda, yakni berorientasi pada teknologi digital. Hal ini dimaksudkan agar kehadiran teknologi tersebut dapat memperkuat regenerasi petani di Indonesia. Sehingga, keterlibatan mereka akhirnya juga akan memberikan jaminan bagi ketahanan pangan di Tanah Air pada masa yang akan datang.

Pertanian Digital | Pexels (Sorapong Chaipanya)

Berdasarkan periode lahir memang generasi muda atau kerap disebut sebagai generasi Y dan Z diakui sangat lekat dengan teknologi digital dibandingkan generasi sebelumnya, yakni generasi x, baby boomer, dan tradisional. Generasi Y yang merujuk pada orang-orang yang lahir pada 1980-an hingga 2000-an merupakan generasi yang tumbuh di tengah transisi perkembangan teknologi. Sementara itu, generasi Z merupakan penerus generasi Y yang jauh lebih melek teknologi digital karena mereka lahir saat akses terhadap internet sudah menjadi budaya global. Sehingga, informasi dan teknologi adalah hal yang sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Mengingat teknologi digital sangat lekat dengan kehidupan generasi muda. Maka, sektor pertanian di Indonesia dewasa ini juga harus disesuaikan dengan karakteristik anak mudanya. Selain dapat memperkuat regenerasi petani dan menjamin ketahanan pangan di Tanah Air. Maka, efek domino yang ditimbulkan dari adanya bauran teknologi digital di sektor pertanian akhirnya juga akan memudahkan para petani konvensional dalam mengelola tanaman dan meningkatkan pendapatan mereka dari penjualan hasil panen pertaniannya.

Komitmen Telkom Wujudkan Pertanian Berkelanjutan

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk atau Telkom lahir pada 16 Juli 1965. Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Telkom mempunyai komitmen salah satunya untuk mewadahi kreativitas generasi muda Indonesia di dunia teknologi digital.

Gelaran The NextDev | telkomsel.com

Komitmen Telkom dalam mewadahi kreativitas para anak muda sebagaimana dibuktikan dalam gelaran The NextDev, yang sudah berlangsung selama tujuh tahun. Sebagai program pencarian dan pengembangan startup digital, The NextDev menantang generasi muda untuk menciptakan starup digital yang berorientasi pada social impact. Ini artinya, karya-karya yang dibuat tidak hanya mementingkan diri sendiri tetapi juga masyarakat luas.

Salah satu sektor yang menjadi fokus pada gelaran The NextDev adalah pertanian. Habibie Garden dan Pak Tani Digital menjadi salah dua dari ribuan aplikasi di gelaran The NextDev, yang aplikasinya telah memberikan kemudahan terutama kepada petani konvensional.

Habibie Garden merupakan peserta yang berhasil memenangkan The Next Dev 2016, yang aplikasinya hadir untuk membantu mengoptimalkan pertumbuhan tanaman dengan teknologi digital. Sehingga, melalui aplikasi tersebut petani akhirnya mampu memantau dan menjaga kondisi tanamannya secara efektif. Sementara itu, Pak Tani Digital merupakan salah satu peserta The NextDev 2017 yang aplikasinya hadir dengan teknik pemasaran digital di sektor pertanian. Melalui aplikasi tersebut petani akhirnya bisa menjual komoditinya dengan harga lebih pantas, tanpa tengkulak yang memainkan harga.

Di usianya yang menginjak ke-57 tahun, Telkom melalui “The NextDev dan The NextDev Summit 2022” juga memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk menunjukkan talenta digitalnya kepada masyarakat. Bersama-sama, kita bisa #UnleashImpactWithDigital, tunjukkan kontribusi kita bagi masyarakat, dan ciptakan perubahan positif bagi indonesia, kata Direktur Utama Telkomsel Hendri Mulya Sjam.

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

X

Tekan ESC untuk keluar