Road Trip Naik Motor tanpa Cek Google Maps atau Waze, Thanks Dishub!

Aplikasi navigasi / sumber: pixabay.com


#DigitalBisa #UntukIndonesiaLebihBaik

Aplikasi navigasi tidak selalu menunjukkan jalan yang benar. Itulah yang dirasakan oleh beberapa penggunanya yang mengalami nasib apes. Mereka bukannya sampai tujuan, malah nyasar ke hutan, bahkan sampai masuk jurang. Besok-besok mungkin bakalan ada yang sampai masuk MasterChef, auto disemprot Chef Juna.

Sebelum memutuskan melakukan road trip naik motor dari Cilegon-Jakarta untuk pertama kalinya, saya membuka Google Maps untuk mencari petunjuk. Namun, aplikasi navigasi buatan Google ini menyarankan saya untuk lewat jalan yang kurang familier. 

Alih-alih merekomendasikan jalan raya, petunjuk jalannya justru menawarkan opsi rute melewati perkampungan yang mungkin saja bakalan ada adegan kebo nyebrang ke jalan dari sawah di kanan-kirinya. Keanehan ini saya temukan sejak dari jalan Cilegon yang saya sendiri tahu mana jalan yang lurus.

Adik saya yang sering bolak-balik Cilegon-Tangerang justru menyarankan Waze yang lebih relevan. Menurut pengakuan beliau, Waze bisa meramalkan jalan mana yang bakalan macet, lalu mengarahkan kita ke jalan yang lebih lengang. Bahkan Waze bisa memberi aba-aba kepada kita ketika ada razia atau patroli polisi di masa depan.

Dari Google Maps dan Waze, saya bisa tahu total jarak yang saya tempuh dari titik keberangkatan menuju garis finish, yaitu 100 kilometer. Kalau ini soal tes BUMN, berapakah waktu yang dibutuhkan jika saya memacu kendaraan dengan kecepatan 40 km/jam? Ya, benar! Jawabannya: 2,5 jam. Kamu lolos ke tahap selanjutnya!

Inilah manfaat yang saya ambil dari aplikasi navigasi: mengecek perkiraan jarak tempuh. Selebihnya, saya menantang diri sendiri untuk melakukan perjalanan tanpa mengecek peta. 

Di perjalanan, saya ingin mengamalkan ilmu yang saya dapatkan dari menonton kartun Dora the Explorer setiap Subuh. Dora selalu mengajarkan kita untuk mengingat tiga lokasi berbeda. Misalnya, Wisma Atlet, Bukit Algoritma, dan Istana Merdeka. Jadi, untuk sampai ke Istana Negara, kita harus melewati Wisma Atlet, lalu lanjut ke Bukit Algoritma.

Untuk konteks perjalanan Cilegon ke Jakarta, saya harus lebih dulu sampai ke Kota Serang, lalu Kota Tangerang, barulah sampai di DKI Jakarta. Jadi, saya tinggal jalan ke Serang dulu, barulah dari sana saya cari jalan menuju Tangerang. 

Perjalanan menuju Serang masih dalam jangkauan saya. Mengingat saya pernah kuliah dan sering ada keperluan kerja di Serang. Ketika sampai Kota Serang, saya menemukan banyak titik lampu merah yang hampir tidak dimiliki oleh Cilegon. Maklum, Cilegon terkenal dengan jalan yang lurus.

Serang sendiri terbagi menjadi kabupaten dan kota yang dipisahkan oleh UMK. Selepas dari Kota Serang alias ibukota Provinsi Banten, kita masuk ke jalan Kabupaten Serang. Tepatnya, Kecamatan Cikande yang memiliki kawasan industri modern sekaligus alasan besaran UMK-nya lebih tinggi dari bagian kotanya dan otomatis lebih sering ada demonya.

Di jalan Kabupaten Serang, hujan mulai turun. Nah, inilah faktor yang tidak saya hitung bakalan terjadi di perjalanan dan bikin waktu tempuh jadi molor. Berhubung yang saya naiki bukan Honda City, tetapi Honda Beat Street, saya putuskan menepi, mengalah dengan air hujan yang mainnya keroyokan.

Entah Mbak Rara sang Pawang Hujan berbaik hati membantu saya dengan menekan tombol off pada remote AC langit miliknya, hujan akhirnya reda. Saya melanjutkan perjalanan menuju Bala yang bikin heboh. Ya, Balaraja! Soalnya di sini banyak pramugarinya, heboh, kan?

Jika sudah sampai Balaraja itu artinya saya sudah sampai titik aman kedua, yaitu Tangerang. Dari sini, saya tinggal cari jalan ke arah daerah kekuasaan Anies Baswedan.

Selama melintasi provinsi yang saat ini dipegang oleh Al Muktabar, saya melewati pasar di tengah terik, pabrik di kanan-kiri jalan, rentetan kendaraan proyek, pepohonan yang bikin adem di jalan, kecipratan genangan air, dan plang bertuliskan "Maaf ada perbaikan jalan". Sejauh itu, saya masih merasa belum butuh untuk cek Maps. Yang saya butuhkan cek ortopedi.

Dengan melihat rambu jalan yang dipersembahkan oleh Dishub, saya sudah cukup terbantu dalam memilih jalan yang bercabang. Sebab cabang satunya mengarahkan saya untuk masuk jalan tol.

Ketika melihat nama Kalideres di plang jalan warna hijau, saya merasa dekat dengan tujuan saya. Saya tinggal mengegas motor mengikuti petunjuk jalan ke arah Kalideres.

Sesampainya di Kalideres, berarti saya sudah resmi masuk DKI Jakarta. Ditandai dengan arus jalan yang mulai macet. Selanjutnya, saya serahkan kepada istri saya di jok belakang untuk jadi navigator menuju tujuan akhir kami: rumah tangga yang samawa.

Perjalanan Cilegon-Jakarta tidak hanya memakan waktu 2 setengah jam, seperti yang diprediksi aplikasi navigasi. Total waktu yang dihabiskan sampai 5 jam. Sebab kami harus berhenti di rumah makan Padang untuk makan siang. Tak lupa kami mampir ke minimarket untuk sekadar mengguyur tenggorokan dengan air dingin sembari meluruskan pinggang di samping ibu-ibu juru parkir. 

Yang jelas, MVP dalam perjalanan ini adalah pejabat Dishub Provinsi Banten dan DKI Jakarta yang sudah memasang rambu jalan yang terang dan menerangi jalan kami. Sehingga kami bisa sampai tujuan dengan selamat, aman, dan sentosa.

Sepertinya tanpa bantuan teknologi aplikasi navigasi, perjalanan kita ke depannya akan baik-baik saja selama masih ada suku ini di Indonesia: Suku Dinas Perhubungan.

Bismillah PNS!!!

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

X

Tekan ESC untuk keluar