Petisi “Make Instagram Instagram Again”: Kenapa Kami Lebih Suka Konten Gambar

Petisi untuk mengembalikan Instagram. | Foto: Pixabay.com


#DigitalBisa #UntukIndonesiaLebihBaik

Petisi “Make Instagram Instagram Again” bergulir di media sosial Instagram setelah Tati Bruening, seorang influencer sekaligus fotografer memulainya, didukung oleh sejumlah tokoh ternama, termasuk Kylie Jenner dan Kim Kardashian.

Ratusan ribu pengguna mengamini petisi ini dan menandatanganinya, menyebarkan, dan bersama-sama menyinggung algoritma Instagram yang kerap berubah, termasuk soal unggahan dari akun-akun yang tidak diikuti, yang tiba-tiba muncul di beranda profil seseorang. Mereka juga menyerukan kerinduan akan Instagram zaman dulu ketika foto-fotolah yang terbanyak ditampilkan, bukannya video-video pendek Reels layaknya platform TikTok.

Namun, keinginan itu agaknya sulit terpenuhi menyusul jawaban dari Mark Zuckerberg terkait petisi tersebut. Melalui unggahannya di Facebook, Zuckerberg menggarisbawahi strateginya untuk menggabungkan interaksi publik dan sosial serta keberadaan konten. Artinya, ketika para pengguna menemukan konten menarik di feed, diharapkan pengguna itu akan membagikannya ke pengguna lainnya. Itulah yang mendorong munculnya konten-konten unggahan dari akun-akun yang tidak kita ikuti di beranda profil kita.

Dia juga menyebutkan bahwa konten video singkat di Instagram ditonton hingga 30 persen lebih lama oleh para pengguna. Angka ini meningkat dari kuartal pertama tahun 2022, yaitu 20 persen. Secara sederhana, dirinya melihat pertambahan durasi dan ketertarikan pengguna terhadap konten-konten video.

Petisi “Make Instagram Instagram Again” memang tampak kecil dibandingkan penjabaran dari Zuckerberg. Kita pun mau tak mau menyadari bahwa konten video sudah muncul di mana-mana, seakan-akan mengamin pernyataan Zuckerberg. Selagi kita scroll halaman media sosial, konten video umumnya membuat kita berhenti sejenak untuk melihatnya hingga habis. Namun, apakah ini berarti konten-konten foto sudah tak lagi bisa digunakan atau tidak direkomendasikan?

Dalam sebuah survei yang dilaksanakan oleh Virtual Objects, yaitu sebuah perusahaan yang mendorong sejumlah bisnis menemukan agensi pemasaran terbaiknya, menyebutkan bahwa konten berupa gambar dapat memengaruhi 25% orang untuk mengeklik situs di media sosial. Di sisi lain, konten video hanya dapat memengaruhi 16% orang. Jadi, meskipun video menarik perhatian dengan segera, konten gambar juga rupanya penting dalam bidang pemasaran.

Terlepas dari keuntungan yang bisa dihasilkan dalam bentuk klik, beberapa orang menemukan nilai-nilai lebih dari konten gambar atau foto. Memilih gambar terbaik dan mengunggahnya dengan caption menarik adalah cara tradisional yang bisa dilakukan dengan cepat di Instagram. Cara ini tidak pernah mati, kalau tidak mau disebut ketinggalan zaman. Justru, cara ini adalah cara paling populer karena alasan berikutnya.

Alasan berikutnya: sebuah foto bisa bercerita. Satu buah gambar bisa bermakna lebih dalam dari esai seribu kata. Video mungkin bisa merekam pergerakan lebih panjang dan luwes, tetapi bayangkan betapa hebatnya sebuah foto—yang tidak bergerak—mampu merangkum emosi hanya lewat sebuah file. Bukankah itu mengagumkan?

Foto atau gambar adalah konten yang mudah dibagikan. Untuk mengunduhnya pun tak perlu usaha keras atau waktu tunggu yang panjang. Ukurannya tak lebih besar dibandingkan video. Orang-orang menerima file foto dan gambar dengan lebih mudah, menjadikannya bergerak cepat di antara para pengguna media sosial.

Konten gambar juga sederhana dan lebih mudah dinikmati. Memang, kamu tidak akan mendengar lagu pengiring saat melihat sebuah foto, tetapi bukankah foto pernikahan sahabatmu itu menyenangkan untuk dilihat? Bukankah foto bayi pertama kakakmu di Instagram terasa manis dengan sendirinya? Bukankah foto diri adikmu berpakaian seragam di hari pertama bekerja di kantor impiannya itu membuatmu lebih tersentuh? Bukankah fotomu berseragam putih abu-abu bersama teman-teman sekelas terasa menghangatkan hati bahkan jika foto itu diambil sepuluh tahun yang lalu?

Kita tidak perlu menekan play dan menunggu menit terakhir tiba untuk meresapi “cerita” yang dibawa sebuah foto atau gambar. Tambahkan sedikit caption bila dirasa perlu dan—voila—satu lagi unggahan baru akan tersimpan rapi di akun Instagrammu. Video pendek memang menarik dan menghibur, tapi sepertinya, sampai kapan pun, konten foto atau gambar akan punya tempat penting dan spesial di dalam hati.

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

X

Tekan ESC untuk keluar