Percepatan Digitalisasi Daerah untuk Mendukung Sistem Pembelajaran Jarak Jauh

Kindergarten Boy Looking at Laptop Computer During First Day of Virtual Learning Online School II Thomas Park (https://unsplash.com/photos/6MePtA9EVDA


#DigitalBisa #UntukDaerahLebihBaik

 

Waktu bergulir begitu cepat, tak terasa, kita telah hidup berdampingan bersama pandemi Covid-19 selama lebih dari satu setengah tahun. Dalam kurun waktu satu setengah tahun, telah terjadi banyak perubahan – perubahan besar pada kehidupan masyarakat. Sebagai seorang pelajar yang sedang mengenyam ilmu di bangku akhir jenjang sekolah menengah atas, saya sangat merasakan perubahan – perubahan besar tersebut.

 

Selama satu tahun belakangan ini, keberadaan pandemi Covid-19 berhasil memaksa setiap orang untuk siap mengalami berbagai perubahan yang ada, salah satunya perubahan dalam sistem pendidikan. Sejak Indonesia merdeka 76 tahun yang lalu, rasanya, baru kali ini sistem pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan kemajuan digital diadopsi oleh pemerintah Indonesia. Pemberlakuan sistem pembelajaran jarak jauh ini semata – mata untuk menekan angka penyebaran virus Covid-19 yang selalu meningkat tajam setiap harinya. Para pelajar dari berbagai latar belakang jenjang pendidikan, para pelajar dari berbagai latar belakang daerah, haruslah mampu beradaptasi dengan sistem pembelajaran jarak jauh ini.

 

Di awal penerapannya, sistem ini menuai banyak kegundahan serta kekesalan dari masing – masing pelajar, termasuk saya. Menurut saya, transisi dari sistem pembelajaran tatap muka menjadi sistem pembelajaran jarak jauh belum terlalu matang dan tidak memikirkan berbagai aspek pendukung sistem ini. Permasalahan utama yang sering saya jumpai dari pembelajaran jarak jauh berupa masalah koneksi internet, permasalahan ini tentu saja telah menguak fakta jika Indonesia, negara kita yang tercintai ini, belum sempurna dalam hal yang menyangkut tentang digitalisasi.

 

Keterbatasan koneksi internet dalam mendukung kegiatan pembelajaran jarak jauh sering dirasakan oleh beberapa daerah di Indonesia yang masuk ke dalam golongan daerah terpencil atau daerah – daerah yang jauh dari pusat kota.

 

Sebagai seorang pelajar yang tengah mengikuti sistem pembelajaran jarak jauh, saya sering melihat keadaan dimana teman – teman saya tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran melalui video conference, seperti Zoom, Google Meet, dan lainnya, akibat keterbatasan koneksi internet. Tak jarang juga, mereka memiliki keterlambatan waktu dalam mengirim tugas maupun mengerjakan ujian akibat jaringan koneksi yang bergerak begitu lambat.

 

Saya memiliki seorang teman, saat ini, ia tinggal di salah satu perkampungan yang berada di Kabupaten Samosir. Ia merupakan salah satu dari sekian temanku yang sering mengalami masalah koneksi internet, meskipun begitu, semangat temanku tersebut untuk mengais ilmu tak pernah padam. Untuk mensiasati keterbatasan koneksi internet, temanku tersebut berinisiatif untuk melakukan kegiatan pembelajaran jarak jauh di daerah - daerah yang memiliki tower atau yang memiliki kekuatan jaringan internet tinggi. Saya begitu salut dengan tekadnya untuk tetap mengikuti pembelajaran jarak jauh di tengah permasalahan koneksi internet yang begitu mencekik leher para pelajar.

 

Berdasarkan   informasi yang dipublikasikan oleh Asosiasi   Penyelenggara   Jasa   Internet   Indonesia   (APJII),  tercatat bahwa jumlah pengguna  internet  di  Indonesia  masih menyentuh angka  143,26  juta  atau  sekira  55%  dari  jumlah keseluruhan masyarakat Indonesia. Melalui informasi ini, kita dapat menyimpulkan masih terdapat 45% atau 117 juta masyarakat yang masih belum memiliki akses internet. Berangkat dari hal ini,  Pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah, haruslah lebih sigap dalam mempercepat digitalisasi di berbagai daerah.

 

Dengan dilakukannya percepatan digitalisasi di berbagai daerah, diharapkan kegiatan pembelajaran jarak jauh dapat berjalan dengan lancar sehingga para pelajar tak perlu lagi harus meninggalkan rumah mereka untuk mendapatkan koneksi internet yang baik karena hal ini tak hanya membuang – buang waktu para pelajar namun juga berpotensi untuk menyebabkan terjadinya peningkatan kasus Covid-19 akibat para peajar yang terpaksa harus berinteraksi di luar rumah mereka masing – masing.

 

Selain itu, percepatan digitalisasi juga tak hanya menguntungkan sektor pendidikan saja, namun juga beberapa sektor lainnya akan diuntungkan, salah satunya sektor ekonomi. Dengan dilakukanna percepatan digitalisasi, para pelaku ekonomi akan memiliki lahan promosi baru untuk produk mereka sehingga pemulihan ekonomi nasional dapat terlaksana dengan baik.

 

Sebagai seorang pelajar, saya memiliki harapan yang begitu besar untuk kemajuan bangsa Indonesia, terutama dalam dunia digital, karena saat ini, dunia digital merupakan hal krusial yang harus dikuasai oleh berbagai bangsa di belahan dunia.

 

 

Sumber Foto : 

Kindergarten Boy Looking at Laptop Computer During First Day of Virtual Learning Online School II Thomas Park (https://unsplash.com/photos/6MePtA9EVDA)

 

 

 

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Tekan ESC untuk keluar