Peran Teknologi digital dalam Mengatasi Permasalahan Sampah Plastik di Indonesia

triplepundit.com


#WritingCompetitionDigitalBisa #DigitalBisa #UntukIndonesiaLebihBaik 

Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat menimbulkan permasalahan bagi negara Indonesia. Permasalahan sampah plastik berdampak negatif terhadap berbagai segi kehidupan seperti pada segi sosial, lingkungan, dan kesehatan manusia[1]. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Jambeck (2015), menyatakan bahwa Indonesia menempati peringkat kedua sebagai penyumbang sampah plastik terbesar di dunia setelah China[2]. Demikian juga yang dinyatakan oleh Indonesia Center Environment Law (ICEL), Indonesia menghasilkan sampah plastik sebanyak 3,2 juta ton dan 1,26 juta ton diantaranya masuk ke laut[3].

Jika dibiarkan terus-menerus laut akan tercemar hingga mengancam ekosistem laut, dimana diperkirakan pada tahun 2050 akan lebih banyak jumlah plastik daripada jumlah ikan di lautan[4]. Terlebih, terjadinya pandemi COVID-19 pastinya meningkatkan jumlah sampah plastik akibat aktivitas belanja online dan pesan antar (delivery) yang meningkat saat PSBB dan PPKM. Hal ini terjadi karena kesadaran masyarakat akan dampak sampah plastik yang rendah dan pengelolaan sampah di Indonesia sendiri masih tidak memadai. Salah satu alasan masyarakat Indonesia lebih memilih membuang sampah ke sungai daripada ke tempat sampah adalah karena tempat sampah yang sulit dijangkau. Selain itu, tempat sampah yang meluap juga menjadi penyebab utama lainnya.

Indonesia berencana mengurangi sampah plastik di laut sebesar 70 persen dan meningkatkan daur ulang 300 persen pada tahun 2025[5]. Hal ini didukung oleh komitmen untuk menginvestasikan $1 miliar per tahun untuk meningkatkan infrastruktur pengelolaan sampah. Sehingga untuk menjaga agar lingkungan tetap bersih, aman, dan lestari. Lalu, bagaimana peran teknologi digital dalam mengatasi permasalahan tersebut?

Online Education

Indonesia Sustainable Oceans Program (ISOP) pada tahun 2020, melakukan studi perubahan perilaku untuk menjangkau lebih efektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat dan meyakinkan konsumen untuk mengubah cara mereka menggunakan dan membuang produk plastik[6]. Sehingga, media sosial menjadi salah satu upaya yang efektif dalam menjangkau jutaan pengguna media sosial di seluruh Indonesia untuk mengedukasi masyarakat dalam memilah sampah yang benar. Selain itu, media sosial di berbagai platform (Instagram, Twitter, Facebook, dan TikTok) juga dapat menjadi ajang kampanye dan pembuatan konten terkait sampah plastik yang dapat menarik banyak orang untuk usaha dalam mengurangi sampah plastik.

Internet of Things Technology (IoT)

Teknologi ini dapat menjadi alternatif untuk diterapkan dalam membangun smart city di Indonesia agar terciptanya lingkungan yang bersih, lestari, dan aman[7]. Internet of Things (IoT) adalah jaringan di mana sejumlah besar objek, sensor, atau perangkat terhubung melalui infrastruktur TIK untuk menyediakan layanan bernilai tambah dengan menghubungkan orang dan benda kapan saja dan di aman saja. Peningkatan keselamatan dan kualitas hidup dapat dicapai dengan menghubungkan perangkat dan infrastruktur lain secara sistematis di sekitar kota. Selama beberapa tahun terakhir sejumlah besar solusi, produk, dan layanan IoT masuk ke pasar industri. Pada tahun 2020, 50 hingga 100 miliar perangkat akan terhubung ke internet. Penggunaan IoT dapat mengefisienkan penggunaan energi dalam mengelola dan memantau berbagai hal, salah satunya permasalahan sampah plastik di TPA. Dalam Studi yang dilakukan oleh Pramanti dan Chotim (2019), Smart Trash Tracking System (STTS) diusulkan sebagai solusi alternatif dengan menerapkan teknologi IoT[8]. Disetiap TPA atau insinerator yang dilengkapi dengan perangkat pintar ini, dapat mendeteksi volume sampah dengan mengirimkan sinyal ke masing-masing operator dari jarak jauh dengan menerapkan teknologi berbasis web. STTS ini, diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat.

Aplikasi Online

Membuang sampah pada tempatnya saat ini tidaklah cukup karena hanya akan memindahkan sampah dari satu tong sampah ke tempat lain, yakni TPA. di Indonesia, partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah plastik masih rendah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut Inovasi teknologi digital menjadi salah satu solusi akan permasalahan sampah plastik di Indonesia. Hal ini yang dapat dilakukan oleh setiap individu dengan menyortir sampah plastik berdasarkan jenisnya kemudian menyetor ke bank sampah melalui aplikasi online yang dapat diunduh di gadget. Selain sebagai solusi mengurangi sampah plastik, tentunya mendapatkan uang dari hasil pendapatan dan membuka peluang, serta lapangan pekerjaan. Aplikasi tersebut bernama Mountrash yang dapat mengumpulkan sampah plastik dengan cepat, bersih, dan langsung dari sumbernya[9]. Sama halnya dengan aplikasi e-Recycle dapat mengenali macam-macam plastik hanya dengan memindai barcode pada plastik sampah[10]. Selain itu, aplikasi lainnya yaitu Smash, SIMALU, Rapel (Yogyakarta), Gringgo (Denpasar), Sampahmuda (Semarang), Angkuts (Pontianak), Mulung (Jakarta), Mallsampah (Makassar), dan lain sebagainya.

Berbagai pemanfaatan teknologi digital di atas diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan sampah plastik di Indonesia pada saat ini dan masa depan. Sehingga terciptanya lingkungan yang bersih, lestari, dan aman bagi seluruh makhluk hidup.

Reference:

[1] Emma Schmaltz et al., “Plastic Pollution Solutions: Emerging Technologies to Prevent and Collect Marine Plastic Pollution,” Environment International 144 (2020), https://doi.org/10.1016/j.envint.2020.106067.

[2] R. Jenna Jambeck et al., “Plastic Waste Inputs from Land into the Ocean,” 2015, https://doi.org/10.1126/science.1260352.

[3] Dwi Sasetyaningtyas, Sustaination - Zero Waste Bukan Hanya Tentang Mengganti Sedotan Plastik, 2019.

[4] Adilita Pramanti and Erna Ernawati Chotim, “Critical Review of Growth Population , Plastic Waste and the Digital Society in Indonesia,” Journal Partisipatoris UMM 1, no. 2 (2019): 79–86.

[5] Nithin Coca, “Can Digital Payouts Help Solve the Ocean Plastics Crisis?,” triplepundit.com, 2019, https://www.triplepundit.com/story/2019/can-digital-payouts-help-solve-ocean-plastics-crisis/83961.

[6] World Bank, “Stemming the Plastics Tide in Indonesia: Policy, Investments, and Research,” worldbank.org, 2020, https://www.worldbank.org/en/news/feature/2020/10/06/stemming-the-plastics-tide-in-indonesia.

[7] Jambeck et al., “Plastic Waste Inputs from Land into the Ocean.”

[8] Pramanti and Chotim, “Critical Review of Growth Population , Plastic Waste and the Digital Society in Indonesia.”

[9] Faisal Yunianto, “Teknologi Digital Diyakini Mampu Atasi Persoalan Sampah,” antaranews.com, 2020, https://www.antaranews.com/berita/1547392/teknologi-digital-diyakini-mampu-atasi-persoalan-sampah.

[10] M Hidayat, “Mengenal E-Recycle, Aplikasi Pengelolaan Sampah Plastik Terintegrasi,” liputan6.com, 2019, https://www.liputan6.com/tekno/read/4122179/mengenal-e-recycle-aplikasi-pengelolaan-sampah-plastik-terintegrasi.

Komentar (2)

  • AH

    Afra Hanifah Prasastisiwi

    03 Agu 2021 19.07 WIB

    Artikelnya sangat menginspirasi🙌

  • I

    Iftin

    04 Agu 2021 12.12 WIB

    Keren banget! Detail pemaparannya dan mudah dipahami. Semoga banyak yg baca ini dan tergugah untuk ikut ngembangin teknologinya >

    Hapus

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Dengan mengirimkan komentar, saya menyetujui peraturan berkomentar di #DigitalBisa

Tekan ESC untuk keluar