Pemerataan Akses Digital sebagai Kunci Utama Pembangunan

Sumber: Koleksi Pribadi, Muthi Muthmainah - Sumba Timur, NTT


#WritingCompetitionDigitalBisa #DigitalBisa #UntukIndonesiaLebihBaik

 

“Mohon maaf kami agak terlambat karena masih dalam perjalanan ke pusat Kota Manokwari untuk dapat mengikuti zoom pagi ini”

Sepenggal kalimat yang didapat dari salah seorang pejabat daerah Kabupaten Pegunungan Arfak kala itu membuktikan bahwa masih belum meratanya kesempatan masyarakat untuk dapat terhubung ke dunia digital saat ini. Bagi sebagian besar orang, mengikuti pertemuan daring mungkin hanya sebatas bangun dari tempat tidur dan mengaktifkan gawai masing-masing. Namun bagi kerabat kita di Kawasan Timur Indonesia, untuk bisa hadir secara daring nyatanya harus ditempuh dengan perjalanan yang tak singkat dan memakan biaya.

Tercatat masih banyak desa di pelosok negeri yang belum terjangkau oleh layanan selular yang memadai, khususnya di daerah terdepan, terkecil, dan terluar (3T) dengan dominasi terbesar berada di wilayah timur Indonesia. Fakta ini kemudian menjadi fokus utama pemerintah dalam menuntaskan daerah blank spot yang masih sulit akan sinyal 4G. Melalui program BAKTI Kemenkominfo, diharapkan semakin banyak pengguna internet di daerah terpencil yang dapat terlayani. Persoalan infrastruktur telekomunikasi ini menjadi tugas pembangunan jangka panjang yang harus terus dikawal agar setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk dapat berkembang dan berkarya.

Di era pandemi, konektivitas digital menjadi satu-satunya ruang temu dalam mensiasati pelbagai aktivitas yang membutuhkan koordinasi. Tak heran, program akselerasi digital semakin digencarkan untuk dapat mengurangi kesenjangan. Seiring terbatasnya mobilitas, acapkali alternatif solusi yang muncul dari terhambatnya pembangunan suatu wilayah dapat diselesaikan melalui digitalisasi di berbagai lini. Seperti contohnya, kegiatan pembelajaran jarak jauh, pengadaan flying healthcare dan telemedicine, layanan masyarakat berbasis online, serta adaptasi UMKM ke platform digital. Tentu bukan perkara mudah untuk dapat mewujudkan terobosan tersebut, karena selain harus berinovasi dalam penyediaan infrastruktur konektivitas, masih terdapat tugas besar lainnya yakni mempersiapkan talenta digital yang mumpuni. Di kawasan timur, hal ini menjadi tantangan tersendiri mengingat tingkat penetrasi dan daya saing digital yang masih membutuhkan akselerasi.

Berdasarkan data Digital Competitiveness Index 2021 yang dilansir dari East Ventures featuring Katadata Insight Center, provinsi di wilayah timur Indonesia cenderung tertinggal dari segi keterampilan dan pemanfaatan teknologi digital. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan infrastruktur belum diaplikasikan secara optimal dalam meningkatkan produktivitas penggunanya. Masifnya pembangunan nyatanya masih harus ditopang oleh pemberdayaan SDM digital, agar penggunaan teknologi berbasis digital dapat memberikan multiplier effect dalam peningkatan taraf hidup masyarakat.

Telkom Indonesia sebagai tumpuan penyedia layanan telekomunikasi bangsa diharapkan mampu untuk ambil bagian dalam menjembatani permasalahan pembangunan melalui transformasi digital. Bersama pemerintah, Telkom berkomitmen menyukseskan program Palapa Ring sehingga infrastruktur digital kini semakin terasa kebermanfaatannya bagi masyarakat di seluruh pelosok Indonesia. Tentunya pemerataan distribusi layanan yang tengah dilakukan perlu diiringi oleh peningkatan kualitas, agar konektivitas tak sekedar memenuhi kebutuhan, namun juga memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat. Diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak agar adaptasi teknologi bisa memberikan dampak yang signifikan bagi kesejahteraan penduduknya, beberapa diantaranya dapat dilakukan melalui kegiatan edukasi/pelatihan, program inkubasi untuk melahirkan inovasi-inovasi baru, serta peluncuran aplikasi digital yang dapat memudahkan aktivitas pelayanan masyarakat.

Pasca pandemi, infrastruktur digital tetap menjadi prioritas dalam mendorong pemulihan ekonomi nasional. Program pemerintah dalam Making Indonesia 4.0 semakin terasa nyata urgensinya, khususnya pada peningkatan nilai tambah dan daya saing industri digital di skala global. Didukung oleh persentase pengguna internet yang semakin hari semakin bertambah, kinerja sektor digital pun terus menunjukkan tren positif dan terbukti meningkatkan efisiensi dan mendorong investasi. Untuk itu, kontribusi multipihak dan multisektor harus terus diperkuat agar kesenjangan digital dapat semakin dipersempit, sehingga akses digital tak lagi menjadi barang mahal bagi sebagian orang, melainkan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan dalam mengembangkan kapasitas sumber dayanya menuju pembangunan Indonesia yang maju dan berkesinambungan.

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Tekan ESC untuk keluar