Menjadi Sociopreneur di Era Digital? Mengapa Tidak!

Ilustrasi | Sumber: Pixabay/Tumisu


Istilah sociopreneur atau pebisnis sosial beberapa tahun terakhir mungkin sering kita dengar penyebutannya. Predikat ini menjadi tren seiring bertambahnya kesadaran masyarakat untuk mulai menjalankan usaha yang dalam waktu bersamaan membawa banyak manfaat bagi lingkungan sekitar.

Pebisnis sosial berpotensi lahir di suatu daerah apabila pada wilayah tersebut terdapat banyak masayrakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Berbeda dengan jenis wirausaha konvensional, konsep sociopreneur menitikberatkan aktivitas bisnis yang dibangun untuk—tidak hanya mencari keuntungan—tapi juga membawa inovasi dan solusi untuk menyelesaikan berbagai masalah di tengah masyarakat.

Keberadaan pebisnis sosial menjadi semakin penting di era penuh tantangan akibat pandemi Covid-19 saat ini. Kehadiran sociopreneur dapat membantu masyarakat untuk lekas pulih dan perlahan mengatasi berbagai masalah yang timbul akibat pandemi, baik itu terkait masalah sosial, ekonomi, atau pendidikan. Kehadiran pebisnis sosial bisa mempercepat terciptanya kembali banyak lapangan kerja baru, dan iklim kerja yang lebih kondusif dibanding sebelumnya.

Kemunculan pebisnis sosial di tengah masyarakat harus didorong agar jumlahnya semakin banyak, terutama di era digital seperti sekarang. Hadirnya sociopreneur di tengah arus digitalisasi akan membawa banyak manfaat untuk masyarakat. Berbagai upaya bisa dilakukan untuk memicu lahirnya banyak sociopreneurship di Indonesia. Salah satu contohnya, pemicu bisa muncul melalui penyelenggaraan kompetisi bertajuk InnoVillage.

InnoVillage merupakan kompetisi sociopreneurship yang diselenggarakan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. berkolaborasi dengan Telkom University, Forum Rektor Indonesia, APERTI BUMN, dan Indonesia Career Center Network (ICCN). Ajang ini pertama kali diselenggarakan pada 2020, dan berlanjut pelaksanannya pada 2021.

Pada edisi 2021, InnoVillage diselenggarakan dengan tema Empowering Young Sociopreneur for Sustainable Digital Village. Tajuk ini dipilih dengan harapan agar melalui InnoVillage 2021 akan lahir para sociopreneur muda yang memiliki inovasi untuk membantu masyarakat desa menyelesaikan berbagai masalah sosial.

BACA JUGA: Menyambut Hadirnya Kembali Ajang Penghargaan untuk Dorong Digitalisasi Pendidikan di Indonesia

BACA JUGA: Wujudkan Masyarakat Digital Melalui Keberadaan Institut Teknologi

“InnoVillage merupakan salah satu program sosial Telkom dalam pengembangan kompetensi digital masyarakat di lingkungan perguruan tinggi. Program ini bertujuan mewadahi mahasiswa melatih kepekaan sosial, sekaligus tetap produktif di masa pandemi Covid-19 dengan menghasilkan solusi-solusi digital untuk mengatasi permasalahan sosial di masyarakat. Program ini diharapkan dapat melahirkan karya inovasi digital dan melahirkan talenta-talenta digital muda yang bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Kompetisi InnoVillage 2021 dibuka seluas-luasnya bagi mahasiswa dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia, dengan harapan setelah seleksi akan didapatkan 120 karya inovasi digital yang akan mendapat pendanaan dari Telkom dan selanjutnya direalisasikan menjadi solusi untuk masyarakat,” ujar Direktur Human Capital Management Telkom Afriwandi dalam Grand Launching InnoVillage 2021 yang digelar secara virtual, Selasa (31/8).

Telkom menyelenggarakan InnoVillage 2021 sebagai salah satu wujud komitmen BUMN sektor telekomunikasi ini dalam bertransformasi menjadi digital telco pilihan utama masyarakat. Inovasi-inovasi dari kompetisi ini ditargetkan bersifat aplikatif dan berorientasi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), sehingga membawa banyak keuntungan untuk masyarakat, ekonomi, dan lingkungan.

Cara Mengikuti InnoVillage 2021

Untuk mengikuti InnoVillage 2021, ada sejumlah syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi calon peserta. Pertama, peserta wajib berstatus mahasiswa S1/D3 aktif yang sedang menempuh studi di semester 3 ke atas, atau sedang menempuh pendidikan S2/Magister. Kedua, proposal yang dikirim harus merupakan karya dari satu tim beranggota 1-3 mahasiswa. Ketiga, seorang mahasiswa hanya diizinkan bergabung dalam satu tim. Setiap tim wajib didampingi satu dosen pendamping.

Para pendamping boleh mendampingi maksimal tiga tim di InnoVillage 2021. Keikutsertaan mahasiswa pada InnoVillage 2021 dapat dikonversi menjadi nilai SKS untuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) sesuai program Merdeka Belajar – Kampus Merdeka, dan akan mendapat sertifikat bagi 120 proyek terpilih. Peserta juga harus mengajukan ide inovasi yang berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) serta memiliki unsur kemanfatan bagi masyarakat.

View this post on Instagram

A post shared by Innovillage (@innovillage)

Selanjutnya, peserta wajib mengunggah video berdurasi 3-5 menit di YouTube yang berisi rangkuman isu dan ide inovasi. Setelah itu, calon peserta harus mendaftar melalui laman resmi InnoVillage dengan melampirkan proposal dan tautan video. Setiap tim yang ikut serta juga wajib melampirkan surat pengantar atau rekomendasi dari rektor/kepala perguruan tinggi asal.

Telkom Indonesia akan memberikan hadiah pendanaan senilai Rp15 juta kepada tiap peserta yang masuk daftar Top 120 InnoVillage 2021. Pengumuman daftar Top 120 akan dilakukan pada 26 September 2021. Pendanaan dari Telkom Indonesia harus digunakan untuk implementasi inovasi di lapangan dalam kurun 26 September – 14 November 2021. Penilaian finalis dan acara puncak akan dilakukan pada 5 – 15 Desember 2021. Seluruh informasi seputar InnoVillage 2021 bisa disimak melalui media sosial dan laman resmi kompetisi ini.

Lantas, untuk apa menunggu lebih lama agar menjadi sociopreneur? Ayo segera mulai upaya menjadi pebisnis sosial demi mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan iklim bisnis digital sehat bagi semua kalangan.

 

#DigitalBisa #UntukIndonesiaLebihBaik

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Tekan ESC untuk keluar