Menikmati Digitalisasi di Puncak Beliung

Menikmati Digitalisasi di Puncak Beliung; dokumen pribadi


#DigitalBisa #UntukDaerahLebihBaik

 

Batam cukup terik siang itu, si anak lubuk termenung dan mengatur kembali nafasnya setelah berlarian menuju puncak bukit. Puncak bukit di seberang bukit Senimba yang dinamakan puncak beliung. Tak selang lama sampai di puncak, lelahnya berlari dihadiahi minuman khas puncak beliung oleh mas Gondrong. Mas Gondrong, petugas warung di puncak per hari itu. Minuman penuh warna bak pelangi ini dilengkapi kesegaran es sehingga dengan segera lelah si anak lubuk tersirami. Lelah setelah berlari-lari dari pintu gerbang tempat wisata yang baru di inisiasi di 2018 ini. Ia berlari hingga mencapai puncak untuk membuat sebuah video agar bisa ikutan lomba yang diadakan oleh rumah BUMN Batam. Walau ia tidak mungkin menang karena ia bagian dari panitia,  si anak lubuk ingin ikut serta untuk memberikan warna dalam lomba yang dilaksanakan itu.

 

Fakta bahwa si anak lubuk tidak mungkin bisa menang, tidak menyurutkan upayanya ikut membuat konten agar dapat berpartisipasi. Si Anak lubuk ini tak bisa hanya duduk diam saja dan menunggu. Ia merasa perlu ada yang memberikan contoh agar orang lain ikutan acara yang diinisiasi dalam sebuah pertemuan online tentang digitalisasi wisata tiga hari yang lalu itu. Si anak lubuk membuat konsep HUT RI mengingat pelaksanaan perlombaan ini mendekati hari ulang tahun Republik Indonesia. Ia berlari dari gerbang lokasi wisata puncak beliung hingga sampai puncak dengan membawa Bendera Merah Putih.

 

Ia masih termenung di puncak beliung siang itu, menatap danau harapan yang berada persis di sisi timur puncak. Danau harapan juga sering disebut sanau si harap, danau siang itu terlihat begitu tenang dan bersahaja. Padahal danau ini dinamakan danau siharap karena danau ini cukup sering mengalami kekeringan. Ia menetap sekeliling danau itu, dan berucap dalam diam, wah, si danau bisa dilihat dari berbagai penjuru, tidak hanya dari puncak lokasinya termenung siang ini. Bila memutar pandangan ke sisi barat, si anak lubuk bisa melihat gedung-gedung tinggi pencakar langit kepunyaan negara tetangga. Sayangnya negara tetangga itu saat ini tidak menerima tamu karena pandemik. Di dalam renungannya, ia mengingat bahwa dulu si anak lubuk tidak pernah melihat kota panas ini sebagai tujuan wisata. Namun tanpa disangka-sangka, anak lubuk bisa menikmati pembangunan wisata di kota ini sekarang.

 

Puncak beliung salah satu pembangunan itu, berada di tengah kota, di kawasan hutan yang dilindungi.  Destinasi wisata ini memberikan suasana nyaman dan angin sepoi-sepoi terutama jika sudah sampai puncak. Destinasi ini juga memiliki banyak spot photo bagi yang suka mengabadikan moment-moment berharganya.

 

Industri pariwisata yang sempat mati suri dampak pendemi juga berdampak pada wisata puncak beliung. Aturan PPKM membuat objek ini ikut harus ditutup yang berdampak pada dihentikannya beberapa rencana investasi.  Namun sesuai dengan pemandangannya tiap hari, menurut mas Gondrong, ia hanya perlu mencari cara untuk bangkit.

 

Jika kamu calon pelancong yang mencari wisata outdoor bisa menjadikan puncak beliung menjadi salah satu tujuanmu. Bahkan bila ingin bekerja dari lokasi ini pun bisa. Si anak lubuk pernah mencoba melakukan Work From Destination di lokasi ini dan berhasil memperoleh kesegeran nan berbeda. Itulah yang terjadi, digital bisa mengubah kebiasaan manusia. Digital bisa memudahkan pemilihan lokasi kerja. Digital bisa menciptakan lingkungan digital yang kemudian bisa menjadikan mayarakat digital yang siap menciptakan ekonomi digital. Kamu, iya kamu bisa menjadi salah satu yang membawa perubahan digital itu, seperti cerita tari mencoba mengisahkannya. Cerita tentang anak lubuk yang tetap berusaha berlari.

 

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Tekan ESC untuk keluar