Mengkaji Kemungkinan Penerapan Pertanian Digital di Indonesia

Sumber: Unsplash


#DigitalBisa #UntukIndonesiaLebihBaik

Indonesia tidaklah kekurangan talenta-talenta terbaik. Jika kita melihat perkembangan dunia digital di negeri ini, angin segar itu benar-benar tampak. Sangat banyak generasi muda negeri ini yang berkecimpung dan membangun perusahaan rintisan mereka. Kita menyebutnya sebagai “startup” dan itu bukan lagi barang baru.

Ada startup menarik yang saya amati belakang ini. Misi mereka sederhana, yaitu membantu memasarkan produk segar seperti sayur dan buah dari petani ke konsumen melalui aplikasi. Itu sebuah bantuan yang besar dalam rangka digitalisasi rantai pasok produk pertanian.

Tapi bagaimana dengan pertanian itu sendiri, mungkinkan pertanian di Indonesia dapat didigitalisasi?

Mengenal Pertanian Digital

Sebelum kita lanjut, agaknya kita perlu menyamakan definisi. Secara sederhana, pertanian digital adalah pertanian yang mengadopsi teknologi digital dalam proses pra-produksi hingga distribusi hasil pertanian ke konsumen. Munculnya konsep pertanian digital ataupun digitalisasi pertanian tentu tidak terlepas dari berkembangnya era revolusi industri 4.0.

Puspitasari (2019) mempertegas definisi di atas dengan mengatakan bahwa teknologi digital harus dimanfaatkan selama proses on farm dan off farm. Pada proses on farm, teknologi digital dapat membantu petani dalam mengontrol tanaman dari jarak jauh dengan tujuan meningkatkan hasil panen.

Lebih tepatnya, dengan adanya sensor dan perangkat yang terhubung dengan jaringan, petani dapat melihat kondisi lingkungan ladang dan menerapkan tindakan yang cocok agar tanaman dapat tumbuh dengan baik.

Sedangkan proses off farm lebih kepada kegiatan pemasaran yang termasuk dalam siklus distribusi atau rantai pasok dari produk hasil pertanian itu sendiri. Harapannya, efisiensi meningkat dan tidak banyak produk gagal terjual karena busuk dan sebagainya.

Dengan kata lain, teknologi digital dapat memberikan kemudahan dalam industri pertanian di Indonesia. Namun sebelum sampai ke situ, tentu ada beberapa tantangan yang harus kita tangani.

Tantangan dalam Digitalisasi Pertanian Indonesia

Saat menulis bagian ini, saya terkenang petikan lirik lagu Koes Plus “Kolam Susu”, grup musik lawas tersebut mendendangkan “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”.

Dari dahulu kala, negeri ini terkenal sebagai negeri yang subur. Tidak heran jika sebutan negara agraris melekat padanya. Hanya saja, saat era berkembang dan teknologi digital menjadi kebiasaan, pertanian Indonesia menghadapi sebuah tantangan yang besar.

Meskipun Indonesia adalah negara agraris, ia juga merupakan negara kepulauan yang terkendala dengan pemerataan pembangunan. Sementara itu, kita tahu bahwa agar digitalisasi pertanian bisa maksimal, dibutuhkan infrastruktur jaringan yang merata. Tidak hanya ketersediaannya, Internet of Things (IoT) juga butuh kecepatan internet yang baik.

Selain itu, besarnya biaya investasi untuk mewujudkan digitalisasi pertanian menjadi tantangan berat lainnya. Harga teknologi saat ini masih mahal, terlebih jika peralatannya masih diimpor dari luar negeri.

Sebagai contoh drone pertanian yang belum bisa diproduksi oleh industri lokal. Harganya bisa dikatakan masih selangit dan tidak ramah bagi petani Indonesia–yang sebagian besarnya adalah kalangan menengah ke bawah.

Lebih jauh, wawasan dan kondisi petani yang belum melek teknologi juga menjadi pekerjaan rumah bagi kita. Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk menangani masalah tersebut adalah melakukan edukasi atau penyuluhan. Hal ini tidak bisa ditumpukan begitu saja pada pemerintah, melainkan butuh partisipasi seluruh elemen masyarakat.

Penggunaan drone dalam pertanian | Sumber: Pixabay

Peluang Digitalisasi Pertanian Masih Benderang

Setelah semua pemaparan di atas, muncul sebuah pertanyaan: apakah pertanian digital masih memungkinkan untuk diterapkan di Indonesia? Dengan optimis saya berpendapat bahwa itu masih sangat bisa.

Pertama, penyelesaian masalah infrastruktur internet yang belum merata sejauh ini terus membaik. Telkom dengan IndiHome-nya terus menjangkau berbagai wilayah di Indonesia, termasuk wilayah yang tergolong 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Semoga suatu saat bisa merata ke seluruh wilayah Indonesia–tanpa terkecuali, terutama wilayah-wilayah dengan lahan pertanian yang besar.

Kedua, biaya penerapan teknologi digital pada pertanian bisa ditekan asalkan Indonesia mau belajar memproduksi perangkat atau peralatan sendiri. Entah itu mikrokontroler, sensor, atau perangkat lainnya. Di samping itu, mengajak investor lokal dan luar negeri untuk terlibat dalam pembangunan pertanian digital juga hal yang layak untuk dicoba.

Terakhir, wawasan petani terkait teknologi dapat ditingkatkan dengan rutin melakukan penyuluhan. Akan lebih baik jika objeknya adalah petani milenial. Pasalnya, keterlibatan anak muda merupakan kunci adaptasi teknologi digital tersebut. Lagi pula, Indonesia tidak kekurangan sarjana pertanian muda. Hanya saja, mereka memang perlu didorong untuk mau terjun ke lahan pertanian dan mengamalkan ilmunya.

Peluang dan masa depan digitalisasi pertanian Indonesia masih sangat terang benderang. Persoalan apakah ia bisa diwujudkan dalam waktu yang singkat atau relatif lama, itu sepenuhnya tergantung arah kebijakan dan partisipasi kita bersama.

Referensi:

Retno Dwi Puspitasari. (2019). Pertanian Berkelanjutan Berbasis Revolusi Industri 4.0. Jurnal Layanan Masyarakat (Journal of Public Sevices), 3(1), 26-28.

Juliana C. Kilmanun dan Dwi Wahyu Astuti. (2019). Prosiding Seminar Nasional Kesiapan Sumber Daya Pertanian dan Inovasi Spesifik Lokasi Memasuki Era Industri 4.0. Tersedia di http://repository.pertanian.go.id/bitstream/handle/123456789/9158/PROSIDING%20JATENG-35-40.pdf

Media Indonesia. (2021). Pertanian Berbasis Digital untuk Menjaring Keterlibatan Anak Muda. Tersedia di https://mediaindonesia.com/humaniora/442582/pertanian-berbasis-digital-untuk-menjaring-keterlibatan-anak-muda

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Tekan ESC untuk keluar