Mengenal Kubernetes, Platform “Kunci” Google yang Akan Banyak Bantu Perkembangan Startup Indonesia


Semua orang memang harus mengakui raksasa digital terbesar dunia, yaitu Google menjadi perusahaan digital yang paling terdepan dan inovatif. Kini Google tidak sesederhana orang menggunakannya sebagai platform search engine, melainkan memiliki platform lain yang mempermudah kegiatan dan aktivitas masyarakat. 

Tapi pernah tidak terlintas sebuah pertanyaan, sebenarnya bagaimana perusahaan Google pada akhirnya dengan stabil dan menjalan sekian platform tersebut? Integrasi antara platform satu dengan yang lain yang dilakukan oleh Google sampai akhirnya menguntungkan bagi kehidupan manusia.  

Sejak tahun 2014, platform ini sebenarnya sudah mulai dikenalkan oleh Google, namanya Kubernetes. Platform ini ke depan digadang-gadang akan membantu startup di Indonesia untuk berkembang lebih lincah bahkan pengembangan digitalisasinya diklaim akan lebih murah dibandingkan dengan cara umum yang hingga kini masih dijalankan di Indonesia. 

Kubernetes Adalah… 

Nama uniknya diambil dari bahasa yunani, kubernetes yang artinya juru mudi atau pilot. Untuk menyingkat namanya, mereka menyebutnya dengan K8s yang mengganti kata “ubernete” dengan angka 8. 

Sedangkan fungsi platform Kubernetes adalah sejenis open-source yang digunakan untuk melakukan manajemen workloads aplikasi yang dikontainerisasi, serta menyediakan konfigurasi dan otomatisasi secara lebih ringkas dan lebih jelas. 

Secara sederhana cara “kerja” platform ini memang mirip dengan teknologi clouds hanya saja ini sejenis aplikasi cluster management yang berasal dari aplikasi internal dengan tujuan mendongkrak naiknya peringkat Google di pasar cloud hosting. 

Jika ingin membayangkan cara kerjanya yang lebih sederhana, kamu bisa membayangkan seorang conductor pada sebuah penampilan orkestra. Seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa Kubernetes adalah sebuah container orchestrator. 

Dia akan memastikan bahwa setiap kontainer -- dalam hal ini para “pemain” orkestra -- berada dalam kontainer yang benar. Dan setiap kontainer (para pemain orkestra) bisa berfungsi secara bersama hingga menghasilkan harmonisasi kerja digital yang efektif dan berjalan semestinya. 

Dalam kontainer tersebut akan banyak poin yang bergerak dalam skala tertentu. Sama seperti conductor yang harus memastikan kalau setiap bunyi yang dihasilkan memang sesuai dengan keinginan sang komposer. Itulah sebabnya kehadiran Kubernetes untuk menghasilkan harmonisasi yang lembut yang sesuai dengan developer aplikasi inginkan. 

Semakin kompleks teknologi seperti ini pada akhirnya Kubernetes hadir dengan fitur yang diusung dan diklaim memiliki sejumlah keuntungan, di antaranya skalabilitas, portabilitas, deployment yang konsisten, dan separated automated operational development. 

Keuntungan-keuntungan tersebut seolah sejalan dengan demam semangat pengembangan startup dan kalangan enterprise yang ingin mempercepat transformasi digitalnya. Bahkan di Indonesia sendiri sebuah anomali pandemi Covid-19 terjadi karena laju startup berbasis digital justru semakin melesat seiring dengan masifnya pemanfaatan teknologi. 

Berdiri di Atas Linux dan Cocok Untuk Aplikasi dengan Unpredictable Traffic 

Meski masih dalam proses pengembangan, Kubernetes sudah lebih banyak direkomendasikan sebagai aplikasi untuk mengoptimalkan fungsi teknologi kontainer. Di Indonesia sendiri bahkan sudah masuk Hitachi Kubernetes Service. Sebuah platform digital multicloud untuk perusahaan dalam menghadapi tantangan bisnis yang semakin kompleks, khusus yang didalamnya dikelola berbagai data dari platform Kubernetes. 

Hitachi Kubernetes Service itu sudah bergerak untuk menerapkan, mengelola, memantau, dan mengatur berbagai data dari platform Kubernetes melalui berbagai cloud services maupun secara on-premises. Dengan hadirnya platform “lanjutan” sepert ini, artinya pasar Indonesia yang menggunakan Kubernetes sudah lebih tampak jelas kehadirannya. 

Kembali bahas tentang Kubernetes, platform ini juga sudah bersifat portabel karena dapat disesuikan dan dapat memfasilitasi otomatisasi, penerapan, dan konfigurasi kontainer di seluruh kelompok host. Kubernetes sendiri berdiri di atas platform Linux yang telah dirancang dengan sistem yang diklaim dalam memberi support zero down time. 

Para pengembang dan developer menyebutkan bahwa Kubernetes akan sangat cocok digunakan pada aplikasi yang trafiknya sering tidak bisa diprediksi. Apalagi untuk perusahaan-perusahaan yang dituntut untuk tetap online 24 jam dalam sehari, tujuh hari dalam seminggu, dengan beban yang akan sangat variatif setiap saat. Seperti perusahaan manufaktur, ritel, telekomunikasi, distribusi, healthcare, dan lain-lain. 

Pasalnya ketika trafik sedang tinggi dan sudah berada di kontainer besar, maka aplikasi akan secara otomatis bisa melakukan load balancing traffic. Sehingga distribusi trafik tetap bisa dijalankan dengan stabil. Dampak baiknya, akan ada penghematan biaya dan sumber tenaga untuk mengatasi trafik yang tak terprediksi yang secara “mendadak” terjadi. 

Pemampatan Pembangunan Aplikasi dan Tak Perlu Pusing Brainstorming 

VP & Managing Director Southeast Asia SUSE, Isabella Kusumawati, dalam tajuk #SelasaStartup yang diselenggarakan oleh Dailysocial.id pernah mengatakan bahwa Kubernetes memang sangat tepat untuk level enterprise atau level perusahaan rintisan yang baru akan dimulai. Ini karena sangat mendukung proses transformasi digital. 

“Apalagi startup yang sangat cost conscious, Kubernetes dapat membantu mereka dalam menekan ongkos pengembangan aplikasi.” 

Namun bagaimana dengan level perusahaan yang sudah besar? 

Isabella mengatakan tentu saja aplikasi ini bisa digunakan oleh semua level perusahaan, termasuk untuk perusahaan besar. Ini karena kehadirannya memang untuk mempercepat proses pengembagannya. 

Isabella mencontohkan, jika sebuah perusahaan biasanya membutuhkan waktu 10 bulan untuk membangun aplikasi, maka dengan Kubernetes bisa diselesaikan dengan waktu maksimal 1,5 bulan. 

“Karena dulu saat bangun aplikasi, harus bangun satu per satu ke dalam folder yang tidak beraturan. Dengan clustering, kita menciptakan cluster-cluster sesuai bidangnya masing-masing. Sehingga saat mau mulai baru, tidak perlu brainstorming sudah sampai mana.” 

Tuntutan digitalisasi yang terjadi ini memang akan menghasilkan sistem digital yang akan lebih kompleks. Tak heran jika pada akhirnya Google seolah membaca kebutuhan masyarakat dengan pengembangan Kubernetes ini. 

Sumber: Kubernetes.io | Google Cloud Tech | Dailysocial.id | idcloudhost.com | MediaIndonesia.com | Teknologi.BIsnis.com 

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Tekan ESC untuk keluar