Manfaatkan Jaringan Demi Tingkatkan Cuan

Ilustrasi UMKM | Sumber: Freepik/macrovector


Naik turun kondisi usaha pasti sering dialami para pebisnis dari berbagai level—baik itu UMKM, pelaku usaha besar, atau multinasional. Akan tetapi, tidak semua pelaku usaha bisa bertahan atau meningkatkan omzet ketika sedang mengalami pasang surut.

Salah satu hal yang bisa dilakukan pelaku usaha untuk bertahan dan meningkatkan omzet di tengah dinamisnya keadaan pasar adalah adaptasi. Lantas, apa yang dimaksud adaptasi bagi pelaku usaha?

Adaptasi atau penyesuaian diri bagi pelaku usaha adalah upaya yang harus dilakukan ketika pebisnis menemui hambatan serta kondisi baru. Adaptasi bisa dilakukan melalui berbagai cara dan di semua segmen usaha—mulai dari tahap produksi, distribusi, hingga penjualan.

Adaptasi proses produksi bisa dilakukan pelaku usaha apabila menemukan cara atau alat baru untuk membantu meningkatkan barang yang dibuat. Kemudian, distribusi juga bisa diubah-ubah caranya sesuai kebutuhan pelaku usaha.

BACA JUGA: Streaming Ilegal Bahaya Banget! Ini Buktinya

Sebagai contoh, di awal berjualan bakso, seorang pedagang hanya mengandalkan pemasaran dagangannya melalui jualan keliling atau menunggu pengunjung datang ke kedainya. Akan tetapi, setelah itu pedagang bisa berimprovisasi dan mulai menjajaki kerjasama dengan perusahaan antar-jemput makanan untuk mempermudah pengantaran dan pemesanan bakso.

Menurut Pemerhati Digitalisasi UMKM Sabri Rasyid, pelaku usaha nggak perlu ragu beradaptasi atau ‘banting setir’ apalagi saat menghadapi masa sulit, yang ditandai dengan menurunnya penjualan dan omzet. Ada tiga hal yang bisa diperhatikan pelaku usaha supaya proses adaptasinya berjalan lancar.

Pertama, pebisnis harus tahu apakah produk yang dijual bisa mudah diubah dan dimodifikasi demi mengikuti perkembangan pasar? Kedua, keberadaan jaringan usaha harus diperhatikan demi memaksimalkan proses adaptasi yang berjalan. Terakhir, pelaku usaha harus mengoptimalisasi aset yang dimiliki demi melakukan proses perubahan secara lancar.

Ada banyak pelaku usaha yang terbukti sukses beradaptasi dan keluar dari masa sulit. Kesuksesan ini juga dialami beberapa pebisnis ketika menghadapi pandemi Covid-19 yang terjadi sejak Maret 2020.

Sebagai contoh, seperti dipaparkan Sabri dalam bukunya yang berjudul Tara Cape; 20 Strategi Jitu Membuat UMKM tetap Cuan dan Unggul, ada UMKM Sambal Congor dari Depok, Jawa Barat, yang beradaptasi menjual produk makanan beku (frozen food) selama pandemi. Perubahan produk ini dilakukan karena UMKM Sambal Congor merasa susah menjual dagangannya dengan model biasa di masa pandemi.

BACA JUGA: Cara Mudah Menulis Feature dan Storytelling

Sabri juga memberi contoh keberhasilan UMKM Vandeesa menjual produk masker dan sajadah travel selama pandemi. Dua produk ini dikeluarkan Vandessa sebagai cara UMKM ini bertahan selama pandemi, saat aktivitas manusia harus dibatasi.

“Saat pembeli sepi, jangan ragu untuk banting setir. Sepinya pelanggan bukan menjadi akhir dari segalanya. Menjadi reseller produk orang lain dengan memanfaatkan jaringan bisnis yang dimiliki adalah salah satu solusi cerdas. Bangun bisnis baru, kenapa tidak?” kata Sabri dikutip dari bukunya.

 

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Tekan ESC untuk keluar