Kondisi Petani Tembakau Temanggung yang Jauh dari Kata “Aku Ra Popo” di Tengah Kemajuan Teknologi

Salah Satu Foto Petani Tembakau di Parakan, Temanggung yang Sedang Merawat Tanaman Tembakaunya. Sumber : magelangekspres.com


#DigitalBisa #UntukDaerahLebihBaik

Temanggung menjadi salah satu kota yang memiliki temperatur suhu yang dingin. Terlebihlagi daerah Temanggung berada di antara Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. Kondisi suhu yang seperti ini membuat tanaman tembakau tumbuh subur didaerah Temanggung ini.

Berbagai macam tembakau dapat tumbuh subur di daerah temanggung dengan baik, mulai dari Tembakau Boyolali, Tembakau Kemloko 1, Tembakau Kemloko 2, Tembakau Kemloko 3, Tembakau Manthili serta berbagai tembakau berkualitas lainnya.

Pada tahun 2021 ini, musim tembakau kembali ada lagi. Musim tembakau biasanya berlangsung dari bulan Mei sampai dengan September. Dalam 2 tahun terakhir kami selaku petani tembakau tidak menanam tembakau karena adanya larangan berkerumun dan karena melemahnya harga tembakau di pasaran, terlebih lagi pada waktu itu kondisi perekonomian memang sedang tidak stabil karena adanya COVID-19 sehingga banyak masyarakat yang tidak memproduksi tembakau walaupun sedang musimnya.

Bahkan untuk tahun ini yang katanya harga akan naik, nyatanya tidak sesuai dengan realitanya yang ada di pasar. Harga anjlok dari hari ke hari, semakin mendekati penutupan gudang-gudang yang ada membuat harga yang diberikan asal-asalan.

Beberapa Kranjang Tembakau yang Siap Jual. (Dokpri)
Beberapa Kranjangan Tembakau yang Siap Jual. (Dokpri)

 

Untuk kualitas tembakau super harga yang diberikan oleh pemilik gudang kepada petani adalah antara Rp 50.000 – Rp 55.000 pada tahun ini. Sungguh sangat menyakitkan untuk 1 kilogram tembakau jadi dengan kualitas super diberikan harga “goban” saja, seperti yang dikatakan teman saya yang berasal dari Jakarta.

Para pemilik gudang, tengkulak, juga tidak melihat apa yang terjadi di bagian produksi, yaitu nasib petani tembakau. Adakalanya penentuan harga yang kadang membuat mereka sesak didada karena terlalu murah, namun mereka tetap menjualnya karena ada anak istri yang harus mereka beri makan.

Cuaca yang tidak mendukung pada musim tembakau kemarin yang sering hujan mengakibatkan penurunan harga yang sangat signifikan, karena dengan curah hujan yang tinggi pada daerah yang ditanami tembakau, mengakibatkan tembakau yang nantinya dihasilkan kualitasnya menjadi berkurang, terlebih lagi hal ini juga menyulitkan ketika proses penjemuran tembakau.

Kecanggihan teknologi yang ada tidak serta merta dapat diandalkan, prakiraan cuaca yang ada juga tidak bisa dijadikan patokan. Karena seringkali prakiraan cuaca yang muncul di notifikasi smartphone kurang akurat, cerah padahal hujan, begitupula sebaliknya kadang hujan, namun tertulis mendung ataupun berawan.

Kondisi Anomali Cuaca yang Seringkali Tidak Mendukung. Dokpri
Kondisi Anomali Cuaca yang Seringkali Tidak Mendukung Petani Tembakau. (Dokpri)

 

Ketika harga kualitas super hanya dihargai dengan Rp 55.000 saja, bagaimana dengan harga yang akan diberikan nantinya jika kualiasnya kurang bagus, pastinya harga yang diberikan akan jauh dibawah harga kualitas super.

Terkadang tembakau produksi kami dihargai dengan 45.000, semakin mendekati hari penutupan gudang maka harga yang diberikan akan semakin sadis. Ayah saya yang notabene termasuk petani tembakau juga mengalami nasib serupa, harga yang diberikan oleh pemilik gudang tembakau hanya dihargai Rp 25.000 pas penutupan.

Miris sekali tata kelola pada industri tembakau, apalagi dengan mematikan timbangan yang membuat petani merugi. Permainan antara orang-orang berdasi dan beruang yang membuat kondisi maupun harga yang ditentukan terkadang kurang masuk di logika petani yang harus mengelola, mengolah, dan pada akhirnya mereka akan tetap menjual ke pemilik-pemilik gudang tembakau.

Gudang tembakau bukan hanya yang dimiliki oleh pabrik namun dalam bentuk perorangan juga ada. Gudang tembakau terbesar yang ada di Temanggung hanya ada 2, yang pertama di Bulu yaitu Gudang Garam, dan yang kedua di Pringsurat, yaitu Djarum. Selain itu ada juga gudang perorangan yang memang mereka langsung membeli dari para petani, rata-rata mereka ini adalah orang yang mempunyai KTA (Kartu Tanda Anggota) yang dapat memasukan kedalam 2 gudang tembakau tadi, yaitu Gudang Garam dan Djarum.

Para petani tembakau mengeluh jika harga yang diberikan kepada mereka sedikit yang bahkan tidak bisa untuk balik modal. Rata-rata dari mereka terkadang “nebas” atau berhutang dulu dan pas hasil dari tembakau yang dijual tadi sudah cair, mereka baru membayar.

Namun untuk kondisi kali ini, para petani tembakau lebih memilih langsung dimuka, karena benar karena takutnya ketika mereka ingin menebas lahan yang sudah ditanami tembakau kemudian merugi, dan mereka tidak bisa membayar, pastinya tidak ada uang yang masuk jika seperti ini.

Proses Panen Tembakau dari Lahan Persawahan Sebelum Masuk Proses Selanjutnya. (Dokpri)
Proses Panen Tembakau dari Lahan Persawahan Sebelum Masuk Proses Selanjutnya. (Dokpri)

 

Belum ada solusi dari pemerintah yang diambil untuk mengatasi adanya penstabilan harga, karena sampai sekarang ini harga yang muncul adalah harga yang memang dimonopoli oleh kalangan atas yang bahkan, mulai dari petani yang merupakan produsen tembakau malah masih hidup di kondisi ekonomi menengah kebawah.

Padahal tembakau yang dihasilkan berasal dari para petani, namun malah petani tidak sejahtera karenanya. Perlu sekali penentuan market harga tembakau di pasaran sehingga hubungan petani dengan gudang menjadi baik.

Terkadang “mateni timbangan” atau bisa dikatakan mengurangi berat timbangan ketika digudang, benar-benar sadis karena terlalu berlebihan. Miris sekali ketika kita membawa tembakau kranjangan kemudian ditimbang yaitu “kir” diperiksa dengan dibuka, baru kemudian penentuan harga. Namun setelah diterimanya nota, berat tembakau dikurangi sangat banyak, itu sungguh membuat petani benar-benar merugi antara ingin menjualnya atau tidak, tapi bagaimana kondisi yang ada di rumah jika mereka tidak menjualnya.

Proses kir ditujukan karena terkadang ada petani yang nakal dengan memasukan pemberat, tapi hal ini juga dikarenakan pemilik gudang yang memotong timbangan yang tidak masuk akal, yang terkadang hampir setengah. Misalnya 1 tembakau kranjangan masuk kir, berat brutonya 50 kg, nanti berat bersihnya hanya 30 kg, secara tidak langsung hampir setengahnya dimatikan di timbangan, ini juga pemicu petani memberatkan timbangan, terlebih lagi pemberian harga yang termasuk sadis dan tidak melihat proses sampai dengan menjadi tembakau kranjangan yang sangat sulit membuat ada petani yang melakukan penambahan berat sepertihalnya menambahi dengan pasir, bata, batu, bahkan sampai dengan ada yang memasukan tralis pada kranjangannya.

Telkom dengan adanya Aplikasi Agree dimasa yang akan mendatang bisa menambah fitur untuk para petani tembakau, sehingga harga antara petani dan gudang stabil, terukur, dan tanpa kecurangan serta membantu pemasaran, dan penentuan cuaca yang baik, karena pada musim tembakau para petani membutuhkan panas terik, mulai dari penanamanya, dan pemrosesanya sampai dengan menjadi Tembakau Kranjangan atau Tembakau Jadi.

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Tekan ESC untuk keluar