Ketimpangan Digitalisasi Antara Daerah Perdesaan dan Perkotaan

Pembangunan Desa Belum Merata, Ketimpangan Masih Tinggi, Foto: Berdesa.com


#DigitalBisa #UntukDaerahLebihBaik

Di era perkembangan teknologi yang semakin pesat ini menuntut masyarakat untuk terus beradaptasi. Dunia global kini mulai memasuki masa revolusi industri 4.0 yang mana mulai mengadopsi teknologi digital untuk berbagai kegiatannya. Daerah perkotaan yang berperan sebagai pusat industri dan gerbang masuk globalisasi sudah mulai menerapkan teknologi digital dalam berbagai aktivitasnya. Untuk mewujudkan revolusi industri 4.0 secara merata, perkembangan teknologi digital juga harus mulai dikembangkan di daerah perdesaan. Daerah perdesaan yang berperan dalam bidang agraris biasanya cukup tertinggal oleh daerah perkotaan dalam perkembangan teknologi.

Menurut hasil survei Potensi Desa (Podes) dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2018 jumlah desa tertinggal di Indonesia menyentuh angka 17,96% (Katadata.co.id, 2019). Angka tersebut menurun dari data tahun 2014 yang menyentuh angka 26,81%. Meskipun terdapat penurunan, jumlah desa tertinggal di Indonesia masih terhitung banyak. Hal tersebut menunjukkan bahwa daerah perdesaan perlu lebih diperhatikan lagi dalam hal perkembangan teknologi.

Menurut Indeks Pembangunan Desa (IPD) tingkat kemajuan atau perkembangan desa dibagi menjadi tiga, yaitu desa tertinggal, desa berkembang, dan desa mandiri. Jumlah tertinggi terdapat pada tingkat desa berkembang yang menyentuh angka 74,49%. Angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki harapan untuk melakukan pemerataan perkembangan teknologi digital pada daerah perdesaan. Mengingat sektor agraris yang berkembang di daerah perdesaan merupakan salah satu sektor penting di Indonesia.

Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki sumber daya alam yang melimpah. Daerah perdesaan sebagai salah satu pengelola sumber daya alam tersebut harus memiliki alat dan teknologi yang dapat menopangnya agar terus berkembang. Alat-alat tradisional yang masih digunakan oleh masyarakat perdesaan dapat mulai diganti dengan teknologi baru untuk memudahkan pekerjaan. Teknologi tersebut dapat membuat pekerjaan lebih efektif dan efisien.

Selain untuk mengembangkan sektor agararis, perkembangan teknologi atau digitalisasi di desa dapat membuat masyarakat perdesaan lebih terhubung dengan dunia global. Salah satunya adalah digitalisasi dalam bidang komunikasi dan informasi. Digitalisasi tersebut dapat terwujud dalam penggunaan internet yang semakin besar di masyarakat perdesaan. Sayangnya, akses internet di Indonesia masih cukup timpang antara daerah perkotaan dan perdesaan. Menurut data dari World Bank pada tahun 2019, ketimpangan akses internet tersebut terlihat pada jumlah masyarakat desa yang menikmati internet hanya sebanyak 36%, sedangkan pada masyarakat perkotaan sebanyak 62% (Katadata.co.id, 2021).

Besarnya angka ketimpangan tersebut harus terus dipangkas agar terwujudnya digitalisasi yang merata pada seluruh lapisan masyarakat. Upaya memangkas ketimpangan tersebut juga menjadi salah satu target pemerintah untuk mewujudkan poin ke-17 dari Sustainable Development Goals (SDGs) Desa, yaitu Kemitraan dan Pembangunan Desa. Digitalisasi di desa menjadi salah satu langkah awal untuk mewujudkan desa yang mandiri agar dapat beradaptasi pada persaingan di era globalisasi.

Digitalisasi yang ada di perdesaan tidak hanya soal penggunaan internet yang masif, tetapi juga dapat membantu mentransformasi sistem pelayanan publik di desa agar lebih efektif dan efisien. Pelayanan tersebut dapat terwujud dalam bentuk e-government, e-healthy, e-learning, dan e-commerce. Dengan memanfaatkan teknologi digital pelayanan publik dapat menjangkau masyarakat lebih luas.

Meskipun begitu, proses digitalisasi di desa juga harus diiringi dengan pemberdayaan masyarakat agar dapat memanfaatkan teknologi secara bijak. Teknologi digital dan internet tidak hanya memberikan dampak positif pada masyarakat, tetapi juga dapat berdampak negatif. Masyarakat harus dibekali kemampuan literasi digital yang baik agar dapat memanfaatkan teknologi untuk hal yang bermanfaat. Selain itu, pemerintah juga perlu melakukan sosialisasi yang merata dalam hal penggunaan internet agar proses digitalisasi dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.

Digitalisasi di desa menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan oleh pemerintah. Banyaknya jumlah desa di Indonesia harus dapat dilihat pemerintah sebagai salah satu sektor penting yang dapat mendorong revolusi industri. Proses digitalisasi yang hanya terjadi di perkotaan akan terasa sia-sia jika daerah perdesaan tidak ikut dikembangkan. Digitalisasi di desa dapat membuat desa menjadi lebih mandiri dan dapat memajukan sektor perekonomian masyarakat. Kemajuan tersebut juga tentu menguntungkan bagi pemerintah.

Proses digitalisasi di desa harus melibatkan seluruh pihak, termasuk masyarakat dan pemerintah. Pemerintah harus lebih peka lagi terhadap ketimpangan yang terjadi di daerah perkotaan dan perdesaan. Kemudian program digitalisasi dan pengembangan infrastruktur yang dilakukan pemerintah juga dapat didukung dengan masyarakat yang memiliki keinginan untuk berkembang dan dibekali kemampuan digital yang baik. Dengan adanya kerja sama yang baik tersebut dapat mendorong proses digitalisasi di desa menjadi lebih masif dan efektif.

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Tekan ESC untuk keluar