Kenali Istilah Bubble Burst dalam Startup

Ilustrasi Startup | Sumber: Pixibay


#DigitalBisa #UntukIndonesiaLebihBaik

Perkembangan startup di Indonesia sangat maju. Telah banyak masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan yang beralih menjajaki dunia startup. Bahkan anak muda Indonesia saat ini lebih tertarik untuk terjun dalam dunia startup dari bidang pendidikan, finansial, kesehatan, agrikultur, dan lainnya. Potensi yang ada di Indonesia saat ini cenderung dibawa menuju digitalisasi atau berbasis teknologi mengingat perkembangan zaman di era society 5.0.

Namun untuk berhasil mendirikan startup menjadi unicorn, decacorn, hingga hectocorn bukanlah perkara mudah. Walaupun menempati posisi pertama di Asia Tenggara sebagai negara dengan jumlah startup terbanyak, kegagalan menjalankan startup memiliki persentase 90 persen. Hal tersebut dikatakan langsung oleh Fajrin Rasyid, Direktur Bisnis Digital Telkom Indonesia yang pernah menjabat Co-Founder Bukalapak.

Pernyataan tersebut juga didukung oleh tingkat keberhasilan yang rendah dari program Gerakan Nasional 1000 Startup yang diluncurkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Dari 1.300 startup yang mengikuti Gerakan Nasional 1000 Startup, yang mampu bertahan hanya mencapai 10 persen.

Ilustrasi kegagalan | Sumber: Pixabay

Salah satu faktor penyebab kegagalan tersebut antara lain adalah kurangnya pengalaman, bisnis yang dihadirkan tidak sesuai kebutuhan pasar, dana yang terbatas, pemasaran yang buruk, serta kalah saing dengan kompetitor lainnya.

Ketika diambang kegagalan, banyak cara yang dilakukan oleh founder startup untuk mempertahankan bisnisnya. Salah satunya adalah dengan pemutusan hubungan kerja. Saat ini telah beredar kabar adanya pengurangan karyawan di sejumlah startup besar Indonesia. Antara lain Zenius, LinkAja, dan yang terbaru JD.ID. Jarak pemutusan hubungan kerja antara ketiga startup tersebut ternyata berdekatan dan diduga berkaitan dengan fenomena bubble burst. Apakah memang benar PHK yang terjadi memiliki keterkaitan dengan bubble burst?.

Fenomena bubble burst merupakan pertumbuhan ekonomi yang diawali dengan peningkatan yang pesat dengan ditandai nilai aset yang meroket tajam dan diakhiri dengan penurunan yang sangat cepat pula. Penurunan itulah yang disebut sebagai bubble burst atau ledakan gelembung.

Faktor-faktor penyebab dari bubble burst antara lain ketika permintaan konsumen mencapai puncak akibat adanya promo serta diskon. Untuk dapat bertahan dengan tetap mengadakan promo bukanlah perkara mudah. Konsumen saat ini sangat sensitif terkait ada atau tidaknya diskon. Jika tidak ada diskon atau promo maka penjualan akan menurun.

Selain itu saat ini startup di Indonesia banyak bermunculan. Pesaing baru menjadi tantangan tersendiri untuk menjaga pangsa pasarnya. Produk yang tidak memiliki nilai lebih akan kalah bersaing dengan kompetitornya. Jika telah kehilangan pasar maka akan sangat sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari investor dalam mendanai keberlanjutan bisnis. 

Ilustrasi startup | Sumber: Unsplash (Scott Graham)

Berkaitan dengan investor, akibat berbagai macam masalah pada ekonomi global membuat investor lebih selektif dalam mengeluarkan uangnya. Dahulu ketika startup sangat ramai dibicarakan, investor terbilang gampang untuk menyuntikkan dananya. Hal tersebut membuat startup menjadi ketergantungan dengan adanya dana investor. Jika tidak berhasil mendapatkan pendanaan maka kegiatan operasional pasti akan sangat terganggu. Bahkan bisa menyebabkan gulung tikar.

Namun, menurut Rudiantara yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pengawas Asosiasi Fintech Indonesia menjelaskan jika adanya PHK pada startup besar di Indonesia bukanlah akibat dari fenomena bubble burst. Adanya pemutusan kerja merupakan hal yang wajar dialami oleh suatu perusahaan. Peristiwa tersebut tidak separah fenomena bubble burst pada dunia industri internet di tahun 1990-an atau sering dikaitkan dengan dotcom bubble. 

Hal yang sama juga disampaikan oleh Heru Sutadi, Direktur Eksekutif ICT Institute, apa yang terjadi pada startup besar di Indonesia saat ini bukanlah fenomena bubble burst atau pecahnya gelembung, namun merupakan kebocoran pada gelembung. Pendanaan yang sulit menjadi alasan kebocoran gelembung pada perusahaan. Karena saat ini banyak perusahaan yang menerapkan strategi bakar uang untuk menarik minat konsumen. Namun, menurut Heru, strategi tersebut akan mengalami kerontokan dalam 1-2 tahun ke depan.

Sumber: Situs ICAAI | Situs Katadata

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

X

Tekan ESC untuk keluar