Kami Tak Perlu Lagi Memanjat Tiang Dermaga

Akses transportasi melewati muara. Dok. pribadi


#DigitalBisa #UntukDaerahLebihBaik

            Timo tinggal di salah satu Dusun di Kepulauan Mentawai yang penuh dengan pantai cantik. Di suatu bulan Juli yang panas, tibalah sekelompok mahasiswa dan mahasiswi dari beberapa Universitas untuk tinggal dan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Dusun tempat tinggal Timo dan keluarganya. Dari beberapa rumah kepala keluarga yang terpilih untuk ditinggali oleh anak KKN, rumah keluarga Timo terpilih menjadi induk semang, tempat tinggal mahasiswa/i KKN selama satu bulan penuh.    

            Dari pertama kali memijakkan kaki di Dusun tersebut, mahasiswa telah menyadari bahwa sinyal operator gawai mereka akan menghilang, karena ketiadaan jaringan operator seluler, pun akses internet yang sudah pasti tidak bisa diharapkan. Lalu pertanyaan muncul, apakah para penduduk Dusun tersebut memiliki gawai sebagai alat komunikasi dengan sanak saudara yang setidaknya memiliki fasilitas untuk telepon atau berkirim pesan singkat? Jawabannya, ya, beberapa dari mereka memiliki gawai atau telepon genggam tersebut, namun tidak semua orang punya. Lalu mengapa ketiadaan jaringan operator dan internet masih terjadi di beberapa daerah Indonesia?

            Pertanyaan-pertanyaan tersebut mulai direnungkan satu per satu oleh para mahasiswa dan mahasiswi KKN di setiap kesempatan, melalui obrolan-obrolan bersama para pemuda, Bapak, dan Ibu yang memiliki telepon genggam. Jawaban pertama yang ditemukan adalah masalah akses. Akses dari bisa dikatakan pintu utama untuk memasuki dusun-dusun di sekitar Kepulauan Mentawai adalah melalui jalur air, yang biasa dilewati oleh pong-pong (sebutan perahu kecil) atau kapal boat yang banyak digunakan oleh turis untuk berkeliling perairan sekitar. Akses yang cukup sulit dan kurang memadai inilah yang menyebabkan tidak terjangkaunya sinyal operator seluler dan internet hingga ke pelosok Kepulauan Mentawai yang didominasi oleh rawa, muara, dan rimbunnya hutan. Memang, satu dua daerah sudah cukup modern, dengan kehadiran jaringan seluler dan internet yang baik, namun itu belum merata dan belum dirasakan oleh semua penduduk Kepulauan Mentawai.

Di saat anak usia Sekolah Dasar hingga Menengah Atas yang tinggal di pulau sebrang yang melimpah akses internetnya sudah mengenal dan mampu membuat konten di Instagram atau Tik-Tok, anak-anak di usia yang sama di Kepulauan yang indah ini masih berjuang dengan sinyal telepon saat rindu bertukar kabar dengan kakak atau tetangga mereka yang bekerja di Padang atau sekitarnya. Hal ini menyentuh mahasiswa-mahasiswi KKN untuk membuat tulisan dan mendokumentasikan keadaan Dusun yang menjadi tempat tinggal mereka selama KKN.

Harapan-harapan ditulis, disusun, dan didokumentasikan menjadi sebuah proposal dan video laporan yang diunggah ke Youtube, Feed, dan cerita di Instagram. Mereka ingin melihat anak-anak sejak usia dini sudah melek internet. Penggunaan internet yang positif mendukung kegiatan belajar-mengajar baik dalam jaringan (daring) atau luar jaringan (luring). Mereka berharap anak-anak tidak perlu naik ke atas bukit hanya untuk menanyakan kabar Ibu atau Bapaknya yang sedang jauh ke luar rumah. Mereka tidak rela menyaksikan anak-anak yang harus naik ke tiang-tiang kayu di dermaga hanya untuk bercakap-cakap dengan kakaknya yang sedang bersekolah di luar dusun, walau sesekali sinyal terputus atau suara mereka timbul tenggelam.

Bukankah komunikasi adalah sarana penting untuk pemerataan pembangunan suatu negara, bukankan komunikasi adalah hak istimewa semua warga negara, untuk merasakan dan menerima dengan baik setiap pesan para penguasa, yang diharapkan memelihara mereka dan membawa ke taraf kehidupan yang lebih baik, yaitu sejahtera, adil, dan damai. Mari kita memulai dengan internet masuk desa, internet masuk dusun, mari mendukung gerakan digitalisasi hingga pelosok berbukit tinggi, untuk Indonesia yang lebih baik.

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Tekan ESC untuk keluar