Inovasi Pengembangan Kearifan Lokal yang Hampir Terlupakan melalui Digitalisai Teknologi

Kearifan Lokal, Foto : https://materibelajar.co.id/pengertian-kearifan-lokal/


#DigitalBisa #UntukDaerahLebihBaik

Perkembangan teknologi di Indonesia saat ini sedang berada pada puncaknya. Banyak orang yang akhirnya fokusnya terpecahkan oleh perkembangan teknologi yang ada, terutama mengenai keberadaan ponsel kecil yang bisa dibawa kemana-mana dan bisa digunakan sendiri. Walaupun terkadang perkembangan teknologi di Indonesia saat ini sering mengacu pada hal-hal yang negatif, namun nyatanya keberadaan teknologi ini dapat memiliki nilai positif jika dapat dimanfaatkan dengan baik oleh semua orang. Salah satu pemanfaatan keberadaan teknologi dan internet di Indonesia adalah pemanfaatannya dalam memperkenalkan karya atau kearifan lokal yang berkembang di suatu daerah.

Berbicara tentang kearifan lokal, setiap daerah di Indonesia tentunya memiliki kearifan tersendiri. Bukan hanya karya-karya buatan tangan seperti batik atau pakaian adat, namun makanan dan rumah adat juga merupakan bagian dari kearifan lokal yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita yang harus selalu dijaga dan dilestarikan agar tidak diambil oleh negara lain atau bahkan hilang begitu saja. perkembangan. Kearifan lokal ini menjadi gambaran citra suatu daerah di mata penduduk daerah lain. Menjadi ciri atau pembeda yang tidak semua daerah memilikinya.

Sebelum membahas lebih dalam tentang proses digitalisasi dalam kaitannya dengan kearifan lokal, perlu diketahui makna dari keduanya yang menjadi inti atau pokok bahasan dalam analisis yang dilakukan. Berdasarkan pengertiannya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, digitalisasi dapat diartikan sebagai suatu proses pemberian atau penggunaan suatu sistem digital yang ada. Digital sendiri dapat diartikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan angka atau penomoran, dalam istilah teknologi sering disebut dengan coding. Sedangkan menurut seorang ahli, digitalisasi dapat diartikan sebagai proses pemindahan media dari bentuk cetak, audio, dan video ke bentuk digital. Dengan pengertian tersebut tentunya dapat dipahami bahwa digitalisasi merupakan suatu proses pengenalan melalui suatu media seperti telepon seluler yang telah dirancang melalui suatu penomoran atau pengkodean. Pelaksanaan proses digitalisasi ini didukung dengan adanya beberapa peralatan seperti komputer, scanner, dan aplikasi pendukung lainnya (Sukmana, 2005).

Pemahaman selanjutnya yang perlu diketahui adalah terkait kearifan lokal. Jika diartikan secara terpisah berdasarkan artinya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kearifan adalah kearifan, sedangkan lokal dapat diartikan sebagai sesuatu yang terjadi di suatu tempat. Salah satu pakar mengungkapkan pendapatnya tentang kearifan lokal. Berdasarkan pendapatnya, kearifan lokal adalah pandangan hidup dan pengetahuan mengenai pembentukan strategi yang dikembangkan oleh suatu masyarakat di suatu daerah, yang berupa suatu kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat setempat dalam menanggapi berbagai permasalahan yang terjadi dan menjadi suatu berarti memenuhi kebutuhannya. Wujud kearifan lokal yang berkembang di Indonesia terbagi menjadi dua macam. Yang pertama adalah kearifan lokal yang berwujud dan yang kedua adalah kearifan lokal yang tidak berwujud. Kearifan lokal itu nyata, dapat dilihat melalui keberadaan karya-karya leluhur seperti rumah adat, tarian daerah, pakaian adat, senjata tradisional, lagu daerah, bahasa, suku, dan makanan khas.

Lalu apa hubungan antara proses digitalisasi yang terjadi saat ini dengan keberadaan kearifan lokal sebagai salah satu warisan leluhur? Keduanya tentu memiliki hubungan yang cukup kuat. Adanya digitalisasi tentunya dapat dimanfaatkan sedemikian rupa untuk memperkenalkan kearifan lokal yang ada di suatu daerah kepada masyarakat luas, khususnya generasi milenial dan generasi Z yang seolah mulai mengabaikan warisan nenek moyang.

Kearifan lokal yang merupakan hasil budaya yang diciptakan oleh masyarakat sebelumnya tidak bisa dilepaskan begitu saja dan dilupakan. Hal ini terjadi karena budaya yang telah diangkat oleh nenek moyang menjadi pembeda atau identitas diri suatu daerah. Sebagai contoh sederhana dari budaya sapaan antara masyarakat Medan dan orang Jawa, tentunya terdapat perbedaan. Orang Medan identik dengan tegas dan lantang dalam berbicara, sedangkan orang Jawa lebih lembut dalam berbicara. Dari hal kecil itu saja sudah terlihat perbedaan budaya yang dijunjung tinggi oleh kedua daerah tersebut. Tidak hanya tentang sikap, tetapi juga tentang rumah adat, tarian daerah, pakaian adat, senjata tradisional, lagu daerah, bahasa, suku, dan makanan khas.

Ada beberapa penelitian yang mengangkat topik tentang digitalisasi dan kearifan lokal. Artinya kedua hal tersebut saling berkaitan dan cukup krusial untuk mendapatkan jawaban, tanggapan, dan pernyataan yang mendukung dengan segera. Salah satu kajian yang membahas tentang digitalisasi budaya berbasis kearifan lokal, menjelaskan bahwa ada langkah baru dalam mengembangkan pemanfaatan media di bidang pengembangan budaya. Metode yang digunakan dalam mengembangkan dan memperkenalkan budaya melalui media baru seperti internet adalah dengan mengadopsi hasil yang ada, kemudian berinovasi dengan materi yang sudah ada. Inovasi yang dimaksud bukan berarti mengubah budaya yang ada, tetapi menambahkan unsur kontemporer pada budaya masa lalu agar lebih menarik bagi generasi muda.

Hal ini dilakukan melalui beberapa tahapan atau cara. Berdasarkan data yang ada, ada 5 tahapan yang dilakukan dalam proses adopsi dan inovasi untuk kemudian didigitalisasi. (1) Agenda setting yang merupakan langkah awal dalam proses digitalisasi kearifan lokal yang ada, melihat peluang yang diciptakan oleh media yang mampu menjangkau lebih banyak orang dalam waktu singkat. (2) Matching atau mencocokan kebutuhan masyarakat. Melihat potensi budaya yang akan diangkat dengan kebiasaan masyarakat. (3) Redefining / Restructuring yang merupakan tahap rekonstruksi atau pendefinisian ulang makna budaya yang akan diangkat. (4) Clarifying atau klarifikasi yang merupakan tahapan proses pemutakhiran isu yang diangkat. (5) Terakhir tentang routinizing atau rutinitas yang merupakan langkah pengembangan nilai-nilai budaya untuk diangkat kembali dan kembali menjadi kebiasaan masyarakat setempat agar tidak mudah dilupakan.

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa keberadaan teknologi dan digitalisasi di era pembangunan saat ini memberikan dampak positif yang signifikan terhadap proses pengenalan budaya atau kearifan lokal yang hampir dilupakan oleh masyarakat. masyarakat karena tertelan oleh kemajuan yang ada. Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam memperkenalkan kembali kearifan lokal yang selama ini terlupakan adalah dengan mengadopsi dan kemudian memberikan inovasi-inovasi yang terkait dengan kegiatan yang terjadi di masyarakat saat ini sehingga lebih mudah untuk diperkenalkan.

Daftar Pustaka

Mayasari, F 2018, ‘Digitalisasi dan Kebudayaan (Studi pada Pengembangan Kebudayaan Berbasis Kearifan Lokal Melalui Media Baru oleh Yayasan Sagang)', Jurnal PERSPEKTIF Komunikasi, vol. 2, no. 2.

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Tekan ESC untuk keluar