Hipokrisi Di Media Sosial, Bagaimana Mengenalinya?

Ilustrasi hipokrisi sosial sumber: www.senjahari.com


#WritingCompetitionDigitalBisa #DigitalBisa #UntukIndonesiaLebihBaik

Pernah dengar istilah hipokrisi? Istilah ini tidak jamak terdengar, istilah ini muncul di kalangan peneliti sosial baru beberapa tahun belakangan. Hipokrisi sosial ini hubungannya terkait virtue signaling. Fenomena ini yang merupakan salah satu dampak dari virtue signaling itu sendiri. Lantas apa sih  virtue signaling dan hubungan dengan hipokrisi itu. Lalu bagaimana cara menghindari hipokrisi di media sosial?

Virtue Signaling Dan Hipokrisi Untuk Pencitraan.

ilustrasi hipokrisiIlustrasi donasi dengan virtue signaling, sumber: www.senjahari.com

Pembaca pasti tidak asing lagi dengan istilah pencitraan. Istilah virtue signaling bisa dikatakan seperti pencitraan tetapi yang berkaitan dengan menjunjung tinggi secara berlebihan nilai moral pribadi. Pada sebuah jurnal yang berjudul Virtue signalling is virtuous yang mengutip Tosi dan Warmke menjelaskan bahwa suatu masalah tertentu atau isu tertentu bisa menimbulkan semacam kemunafikan pada pelaku virtue signaling. Mereka biasa mengaku prihatin atau marah atas ketidakadilan yang menimpa seseorang ,tetapi di lain sisi mereka pada batas tertentu memiliki keinginan untuk memberitahu orang lain betapa bermoralnya dirinya melalui serangkaian kegiatan tertentu. Istilah ini akhirnya berkembang menjadi kepura-puraan, kemunafikan atau bahasa lainnya hipokrisi.

Jika seseorang dalam kadar berlebihan atau overacting menyikapi suatu isu atau fenomena tertentu hal ini membuatnya menjadi seorang hipokrit. Jika apa yang ia lakukan dilakukan juga oleh masyarakat luas maka bukan tidak mungkin akan menjadi hipokrisi. Namun Apakah ada dampak hipokrisi ini dalam dunia digital?

Virtue Signaling Yang Menjurus Ke Hipokrisi Semakin Gaung Di Dunia Digital.

hipokrit cartoon by stephen collinIlustrasi Hipokrisi by stephen collin, sumber: https://www.theguardian.com

Namanya kalau segala sesuatu dilakukan secara berlebihan pasti mengundang hal yang tidak baik. Sama halnya dengan fenomena virtue signaling yang menghasilkan dampak tidak baik bagi seseorang seperti fenomena hipokrisi ini. Dampak yang terjadi di masyarakat melihat fenomena hipokrisi ini bisa menjurus pada terbukanya fitnah dan fenomena ketidakpercayaan publik akibat tindakan hipokrit di media sosial. Menghindari orang hipokrit atau menghindari tindakan tersebut pada kita adalah dengan mengenalinya.

Contohnya apa saja tindakan hipokrit itu? Misal si A influencer yang alergi terhadap makanan B , Si A diminta untuk mempromosikan makanan B karena si pemiliki terkena dampak pandemi, sebagai seorang influencer yang punya banyak pengikut si A lantas terima promosi itu dengan membeli dan memakan makanan tersebut. Tetapi pada suatu ketika ia juga cerita bahwa demi membantu pedagang makanan B ia harus masuk rumah sakit sehingga ia dengan sengaja mengatakan 'demi menjunjung rasa kemanusiaan maka ia rela melakukan tindakan itu' dan meminta masyarakat untuk membantu pedagang makanan B seperti yang dilakukannya. Bisa kita lihat bahwa si A menjadi orang yang hipokrit dengan melakukan tindakan yang overacting atau di luar kemampuan yang sesungguhnya. Jika pengikutnya banyak dan mereka terpengaruh maka pengikut tersebut bisa mengikuti apa yang dilakukan oleh si A.

Perlu diingat bahwa tidak semua tindakan virtue signaling sebagai bentuk hipokrisi, bisa jadi tindakan yang mereka lakukan murni untuk promosi kegiatan kemanusiaan. Bagaimana mengenali bahwa apa yang orang lain lakukan bukan tindakan hipokrisi? Seperti melansir dalam laman effectiviology bahwa virtue signaling yang mengarah pada hipokrisi bisa dilihat dari tujuan utama pernyataan atau tindakan pelaku dimana tidak sesuai dengan prinsip mereka atau di luar kemampuan mereka. Mereka melakukan tindakan virtue signaling untuk membuat orang lain merasa dirinya lebih unggul dari orang lain, dan mengajak orang lain untuk melakukan tindakan serupa agar menjadi unggul seperti dirinya atau kelompoknya.

Contoh tindakan virtue signaling yang tidak menjurus ke hipokrisi. Misal Si C adalah influencer yang alergi makanan D, ia diminta mempromosikan makanan D karena pemilik terkena dampak pandemi, sebagai influencer yang memiliki banyak pengikut si C mau menerima tawaran itu dengan membelinya dan dibagikan kepada orang yang membutuhkan. Ia memberikan solusi kepada pihak yang membutuhkan makanan dan pedagang tersebut tanpa harus melakukan hal yang tidak bisa ia lakukan. Ia pun kemudian mengajak masyarakat untuk melakukan kebaikan serupa demi membantu sesama yang membutuhkan tanpa menyebutkan bahwa dirinya lebih baik dari pihak mana pun. Dari ilustrasi tersebut kita bisa melihat mana orang yang melakukan hipokrisi dan mana yang memang menggaungkan norma hingga tren budaya baru lewat media sosial digital.

Dunia digital memang serba mudah dan serba cepat, beragam informasi silih berganti dalam hitungan detik. Dengan akses yang serba cepat tersebut pengguna media sosial dan perangkat digital justru menghadapi  tantangan sehingga perlu berhati-hati dalam menyarinng informasi.

Source:
https://time.com/5859459/in-defense-of-virtue-signaling-2/
https://effectiviology.com/virtue-signaling/
Levy, N. Virtue signalling is virtuous. Synthese (2020) 

Komentar (2)

  • MF

    Marissa fiddarayni

    07 Agu 2021 05.34 WIB

    Artikel bagus sangat bermanfaat, dari yg tidak tau menjadi faham 😊

    Hapus
  • I

    Incess

    07 Agu 2021 11.07 WIB

    Artikelnya menarik, sangat bermanfaat. Semoga mimin rajin2 nulis artikel yg menarik

    Hapus

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

X

Tekan ESC untuk keluar