Hipnotis Menggunakan Tulisan? Begini Caranya!

Ilustrasi hipnotis | Pixabay/GDJ


Siapa terkena hipnotis, pasti dia akan kehilangan sesuatu.

Anggapan tersebut menjadi prasangka umum masyarakat. Hal ini bisa terjadi karena hipnotis identik dilakukan oleh penjahat yang ingin mencuri atau mencelakai orang.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hipnotis memiliki arti “dalam keadaan hipnosis.” Adapun pengertian hipnosis berdasarkan sumber yang sama adalah “keadaan seperti tidur karena sugesti, yang pada taraf permulaan orang itu berada di bawah pengaruh orang yang memberikan sugestinya, tetapi pada taraf berikutnya menjadi tidak sadar sama sekali.”

Pengertian di atas jelas menggambarkan kondisi orang yang menjadi objek hipnotis pasti akan dibuat tidak sadar oleh pelaku. Setelah tidak sadar, orang yang mengalami hipnosis bisa diperintah dan diperlakukan sesuai kehendak penghipnotis.

Apabila dilakukan oleh orang jahat, hipnotis tentu menjadi hal bahaya. Akan tetapi, bisakah hipnotis dilakukan untuk tujuan yang baik?

Jika menyimak penjelasan Pengembang Hypnotic Copywriting dan Automatic Writing Asep Herna, kita bisa mengetahui bahwa hipnotis bisa dilakukan untuk tujuan baik. Salah satu cara melakukan hipnotis untuk tujuan baik adalah melalui metode penulisan hipnotis.

Menurut Asep, hypnotic writing adalah proses penulisan naskah dengan tujuan untuk mempengaruhi alam bawah sadar pembaca agar melakukan tindakan sesuai pesan yang disampaikan. Metode penulisan hipnotis bisa dilakukan pengarang untuk menyampaikan pesan secara tidak langsung kepada orang lain.

Asep berkata, tulisan bergaya hipnotis lebih efektif digunakan untuk memengaruhi orang. Hal ini terjadi karena tulisan bergaya hipnotis menyasar sisi emosi dibanding rasionalitas manusia.

“Menyasar emosionalitas itu jauh lebih efektif ketimbang menyasar rasionalitas. Ini berkaitan dengan salah satu sifat manusia bahwa bahasa itu adalah alat bagus untuk menciptakan tren,” kata Asep dalam Webinar bertema Menggerakkan Audience dengan Hypnowriting yang diadakan Digitalbisa.id, Jumat (29/10).

Sebuah tulisan bisa dikategorikan masuk jenis hypnotic writing jika mampu membawa pesan tertentu secara tersirat. Meski tersirat, namun pesan rahasia pada tulisan terkait bisa membuat pembacanya terpengaruh dan membeli atau memakai produk/layanan yang dimaksud.

Untuk membuat tulisan hipnotis yang baik, seorang penulis harus memerhatikan keberadaan rima dan gaya bahasa yang digunakan. Asep berkata, kata adalah alat paling ampuh untuk merasuki alam bawah sadar manusia.

“Bahasa merupakan alat trance yang sangat efektif. Keberadaan rima (dalam tulisan hipnotis) adalah kunci. Penggunaan rima yang tepat bisa mempengaruhi pembaca. Selain itu, repetisi juga berdampak dan bisa membuat orang yang mendengar terpengaruh,” katanya.

Selain menyisipkan kata berima, penulis juga disarankan menulis secara repetitif agar lebih mudah memengaruhi pembaca. Kemudian, penggunaan kata ganti orang juga harus diperhatikan oleh penulis. Menurut Asep, penulis baiknya menggunakan kata ganti orang yang bersifat personal seperti “anda”, atau “kamu” untuk menghilangkan jarak dengan pembaca.

Terakhir, Asep mengingatkan agar penulis atau pelaku usaha harus mengetahui terlebih dulu apa keunikan (unique selling point) produk/jasanya sebelum membuat tulisan hipnotis untuk promosi. Tanpa nilai lebih atau ciri khas, sebuah produk tak akan bertahan lama dan laku di pasaran.

“Pahami dulu produk kita, namanya apa, kategorinya, unique selling point-nya, sebelum menulis. Setelah itu komunikasikan, jangan hanya fitur produknya, tapi hadirkan emosi atau kepuasan batin apa yang akan didapatkan audience jika menggunakan produk kita. Lakukan proses asosiasi dengan tulisan kita. Jangan bangun jarak dengan tulisan, menyatulah dengan apa yang kita tulis. Saat kita menyatu, emosi kita hadir bahkan di setiap bunyinya dan itu akan dirasakan oleh pembaca,” ujar Asep.

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Tekan ESC untuk keluar