Dosen Digital Indonesia: Tinggal di Jogja, Mengajar di Amerika

Tinggal di Jogja, Mengajar di Amerika Menjelang Subuh (sumber: koleksi pribadi)


#WritingCompetitionDigitalBisa #DigitalBisa #UntukIndonesiaLebihBaik

Ibu mertua saya kerap bercerita, konon kakek moyangnya sakti. Sang kakek katanya bisa mendalang di tujuh tempat sekaligus dalam satu malam. Dengan kesaktiannya, karyanya bisa dinikmati orang dari berbagai lokasi, kebijaksanaannya mencerahkan umat di mana-mana.

Awal tahun 2020, Indonesia menghadapi Covid-19. Semua berubah, dunia tidak lagi sama. Pergurun tinggi juga harus beradaptasi. Kuliah tidak lagi berjalan seperti biasa. Dosen tidak bisa hadir dan berkelakar di kelas. Dosen harus mau dan bisa mengajar dari jarak jauh. Distant Learning yang terkesan elitis tiba-tiba saja menjadi realita keseharian. Dalam hitungan hari, kampus ditutup dan semua pembelajaran berjalan daring.

Usaha dan dorongan untuk mengajar secara daring, sesungguhnya bukan hal baru. Di UGM, misalnya, dorongan pembelajaran mode bauran (blended learning) sudah dilakukan sejak lama melalui surat keputusan (SK) rektor. Semangat yang sama juga digaungkan oleh kementerian terkait. Sayangnya, semua dorongan itu tidak cukup kuat. SK rektor kehilangan wibawa di hadapan kenyamanan para dosen yang sudah terbiasa mengajar dengan metode tatap muka. Dorongan Menteri juga lumpuh di depan kenyataan bahwa para dosen tidak melihat urgensi perlunya mengajar secara daring.

Bukan SK rektor atau edaran menteri yang mengubah keadaan. Ada Covid-19 yang menjadi alasan utama perubahan radikal ini. Dosen yang tadinya alergi dengan penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran, kini tidak punya pilihan lain. Dosen yang tadinya begitu percaya dengan kelihaiannya mengajar secara luring tiba-tiba goyah keyakinannya ketika harus mengajar secara online. Semua perubahan itu membuatnya grogi luar biasa. Para pakar dan ahli yang tadinya dipuja-puji, mendadak mengkerut nyalinya karena ternyata mengajar online membuat mereka tampil seperti layaknya amatir yang teragagap dan terbata.

Saya merasakan ini. Meskipun sudah sejak lama berusaha akrab dengan teknologi, saya pun merasa terbata dan tergagap ketika mengajar online menjadi kewajiban. Ketika mulai mencoba mengajar online di tahun 2007, hal ini seperti ‘barang aneh’ yang tidak lazim namun keren. Kini, ketika menjadi kewajiban, megajar online perlu usaha dan daya tahan yang jauh lebih kuat dari yang saya bayangkan.

Mindset adalah hal utama. Bahwa semua ini bukan soal pilihan. Ini keniscayaan yang harus dihadapi dan bukan merupakan hasil kesalahan siapapun. Bukan salah mahasiswa, bukan juga salah dosen atau pimpinan universitas. Maka tidak sebaiknya kita mengutuk dan mengumpat. Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin untuk penerangan. Itu nasihat lama yang nampaknya kini menemukan kembali kebenarannya.

Saya mulai dengan memastikan sambungan internet yang memadai dan Indihome menjadi pilihan. Di rumah, saya bangun studio kecil semi permanen dengan lampu dan layar hijau yang memadai. Situasi ini mungkin bukan hal yang sementara. Bisa jadi ini akan menjadi norma umum dan diterima sebagai praktik permanen. Maka semua yang saya lakukan adalah investasi. Memiliki koneksi internet yang baik, penampilan prima di depan kamera, kemampuan menggunakan perangkat keras dan lunak dengan fasih dan keterampilan mengolah media audio visual adalah bentuk investasi yang penting.

Mengajar dari  rumah di Jogja
Suasana mengajar dari rumah di Jogja (sumber: koleksi pribadi)

Interaksi dengan mahasiswa adalah perihal yang tidak mudah. Jika dalam kelas regular luring saja mahasiwa tidak aktif,  maka kelas online bisa lebih ‘menakutkan’. Saya berlajar keras untuk menikmati ‘keramaian’ kelas dengan cara yang berbeda. Melempar pertanyaan atau meminta mereka bertanya secara langsung saat kelas online tidak selalu efektif. Maka saya ubah strategi interaksi melalui media digital yang bersifat anonim.

Saya gunakan Google Form atau Mentimeter sehingga peserta kuliah bisa menjawab atau mengajukan pendapat secara langsung tanpa identitas. Saya sudah buktikan, ini effektif. Saya mendapat belasan atau pulahan pertanyaan dari mahasiswa saya dalam satu sesi mengajar. Untuk kuis atau interaksi sukarela, partisipasinya bisa lebih dari 50% atau mendekti 100%. Saya selalu sampaikan “saya suka sekali kelas ini. Aktif dan ramai”.

Terbatasnya mobilitas fisik juga membuat kita ingin mengoptimalkan interaksi dengan berbagai cara lain. Kehadiran di media publik seperti sosial media menjadi alternatif diseminasi informasi yang efektif. Melalui Facebook, Instagram, dan Tiktok saya merasakan kemudahan berbagi pada dunia dengan tetap ada di rumah. Suatu saat saya mendapat undangan untuk mengajar di Michigan State University (MSU). Karena perbedaan waktu yang ekstrim, saya pun harus mengajar jam 3 pagi waktu Jogja. Senang rasanya ketika mendegar orang berbagai warna kulit merasa berterima kasih karena tercerahkan. Pagi itu saya akhiri kuliah saya dengan kumandang azan subuh dari masjid dekat rumah. Sebuah pengalaman baru yang mungkin tidak adakan saya dapatkan jika saja pandemi tidak memberi kesempatan pada teknologi untuk memaksimalkan cara kita belajar, bekerja dan mengabdi.

Suasana kelas di MSU menjelang subuh
Suasana kelas di MSU menjelang subuh (sumber: koleksi pribadi)

Kini saya percaya, Covid-19 sebenarnya tidak mengubah kita. Covid-19 justeru menunjukkan jati diri kita yang sebenarnya. Bahwa kita adalah makhluk yang bisa dan harus mau beradaptasi. Dengan teknologi informasi dan komunikasi yang memadai, bukan hanya kakek moyang kami yang sakti mandraguna. Anda dan saya pun bisa.

Komentar (8)

  • SK

    Syahputra Kembaren

    20 Jul 2021 19.07 WIB

    Super Sekalee Tulisan Antum Abangda

    Hapus
  • HH

    Handoyono Handika

    21 Jul 2021 23.50 WIB

    Tulisan2 mas Andi selalu enak dibaca serta penuh inspirasi. Ichsan anak kami yg thn ini in sya allah kulai belajar di UGM, jauh2 hari sudah saya "kenalkan" dg sosok njenengan. Suwun mas Andi

    Hapus
  • B

    Bagonk

    31 Jul 2021 18.52 WIB

    Ok

    Hapus
  • AP

    Annisa' Putri Araminta

    07 Agu 2021 16.23 WIB

    YA AMPUNNNN KERENNNNNN ASLIIIII 🧡🧡🧡🧡💖

  • FA

    Faiq Aminuddin

    17 Agu 2021 16.07 WIB

    Selamat sudah terpilih sebagai juara 1.

    Asyik. Enak dibaca dan terasa ringan.

    Beberapa salah ketik bisa dibenarkan oleh penyuting atau admin agar lebih nyaman dibaca.

    Hapus
  • IM

    I MADE YOKO VISTA YOGA

    19 Agu 2021 08.47 WIB

    Terimakasih pak untuk tulisan ini, jadi ikut termotivasi buat nulis juga. Swaha bisa jadi kayak Pak Andi

    Hapus
  • BT

    binarin tirto andika

    19 Agu 2021 14.42 WIB

    Diksi yang dipilih indah dan ringan dipahami. Maknanya pun jg tersampaikan mendalam karena pengalaman penulis yg begitu elok. Keren sekali 🙏

    Hapus
  • AH

    Anom Harya Wicaksana

    20 Agu 2021 07.34 WIB

    Wow keren sekali tulisan ini. Sangat personal seolah2 saya menjadi orang yang sedang diceritakan.

    Selamat sudah menjadi juara 1 pak. Terima kasih juga sudah menginspirasi saya untuk menulis yang ringan namun impactful seperti ini.

    Semoga sehat dan sukses selalu pak!!

    Hapus

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Tekan ESC untuk keluar