Digitalisasi UMKM Indonesia, Bukan Sunah tetapi Wajib

Perkampungan Industri Kecil (PIK) Jakarta Timu Sumber foto: dokumen pribadi


#DigitalBisa #UntukDaerahLebihBaik

Pandemi Covid-19 memberikan pukulan telak untuk hampir semua sektor usaha riil di Indonesia. Ibarat petinju, sektor usaha rill terkena pukulan hook tepat di rahang, tentu efeknya sangat luar biasa. Ada yang langsung knock out, pingsan ataupun mati suri. Sektor usaha riil yang paling terdampak adalah sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Kondisi tersebut berbeda dengan saat krisis ekonomi tahun 1998 dan 2008 di mana UMKM mampu bertahan, kondisi pandemi Covid-19 membuat banyak UMKM terpukul karena adanya pembatasan aktivitas sosial.

Salah satu Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)
Salah satu Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)
Sumber foto: dokumen pribadi

Kriteria UMKM sendiri mengacu pada UU NO.20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dimana pengelompokan jenis usaha berdasarkan kriteria aset dan omset. Untuk usaha mikro, merupakan usaha produktif milik orang perorangan dan atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria kekayaan bersih maksimal 50 juta rupiah tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha dengan omset setahun maksimal 300 juta rupiah.

Berdasarkan data Kementerian Koperasi UMKM untuk tahun 2019, dari total 65.471.184 unit usaha, sebanyak 65.465.497 unit usaha adalah UMKM, dengan 64.601.352 unit usaha atau 98,6% dari sektor UMKM merupakan usaha mikro. Untuk jumlah tenaga kerja, UMKM menyerap 119.562.843 tenaga kerja atau 96,92% dari total tenaga kerja sebanyak 123.368.672 orang. Dari jumlah unit usaha dan jumlah tenaga kerja yang terserap serta kontribusi terhadap PDB sebesar 61,07% atau senilai 8.573,89 triliun menjadikan UMKM mempunyai peranan besar untuk menggerakkan perekonomian.

Hasil survei pada tahun 2020 oleh beberapa lembaga seperti Badan Pusat Statistik), Bappenas, dan World Bank, menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 menyebabkan banyak UMKM mengalami penurunan pendapatan, menghadapi kendala keuangan terkait gaji pegawai dan operasional perusahaan. Kendala lain yang dialami UMKM adalah menurunnya permintaan karena pelanggan juga terdampak pandemi, sulitnya memperoleh bahan baku, cenderung lebih rentan menghadapi resesi ekonomi, karena akses yang terbatas untuk memperoleh pembiayaan. Hal tersebut terjadi, karena berdasarkan studi Bappenas, sebanyak 52% UMKM termasuk kategori informal.

Pengunjung Pusat Sentra UMKM sepi akibat Pandemi Covid 19
Sumber foto: dokumen pribadi

Ketika secara umum sektor UMKM terpuruk terkena dampak pembatasan sosial akibat pandemik Covid 19, ternyata masih ada UMKM yang bertahan, bahkan secara omset mengalami kenaikan, berdasarkan survai oleh Bank Indonesia, UMKM yang mengalami kenaikan penjualan terutama UMKM yang melakukan penjualan secara online, kenaikan omset tersebut berkaitan dengan perubahan perilaku masyarakat saat pandemi yaitu meningkatnya pembelian secara online. Hasil survey online LIPI tanggal 20 April - 5 Mei 2020 di Kawasan Jabodetabek menunjukkan mayoritas warga Jabodetabek melakukan belanja online yang meningkat, dari sebelumnya 1 hingga 5 kali dalam satu bulan, menjadi hingga 10 kali selama PSBB dan WFH. Perubahan perilaku tersebut harus bisa diadaptasi oleh UMKM untuk melakukan tranformasi pemanfaatan digitalisasi dalam rangka meningkatkan daya saing yang lebih kuat serta melakukan inovasi produk. Ekosistem digital UMKM perlu terus di dorong oleh semua pemangku kepentingan, termasuk Pemerintah. Pembuatan ekosistem digital UMKM oleh Pemerintah sebenarnya sudah dilakukan melalui berbagai macam program seperti :

  1. Kementerian Koperasi UMKM bekerja sama dengan Kementerian BUMN mengembangkan program Pasar Digital (PaDi) UMKM. PaDi UMKM mempertemukan UMKM dengan BUMN untuk mengoptimalkan, mempercepat, dan mendorong efisiensi transaksi belanja BUMN pada UMKM, serta mempermudah UMKM mendapatkan akses pembiayaan.
  2. Bank Indonesia menetapkan penyesuaian Merchant Discount Rate (MDR) QRIS menjadi 0% khusus untuk merchant dengan kategori Usaha Mikro (UMI). Kebijakan ini untuk mendorong digitalisasi UMKM yang sejalan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI).
  3. Otoritas Jasa Keuangan mengeluarkan Peraturan OJK Nomor 57/POJK.04/2020 sebagai bentuk dukungan OJK terhadap pelaku UMKM, dimana UMKM dapat memanfaatkan Equity Crowd Funding (ECF) untuk menggalang permodalan dari masyarakat.
  4. Program pelatihan UMKM oleh Kementerian Perdagangan bersinergi dengan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta berupa program pendampingan ekspor bagi para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) agar dapat menembus pasar global.
  5. Perluasan Ekspor Produk Indonesia melalui ASEAN Online Sale Day (AOSD). ASEAN Online Sale Day (AOSD) atau Hari Belanja Daring ASEAN merupakan acara belanja yang dilakukan secara serentak oleh platform niaga-elektronik di sepuluh negara ASEAN.
  6. Ekosistem UMKM SMESCO yang memiliki kekuatan ekonomi digital unggul. Keberadaan UMKM akan didukung dengan tujuh fasilitas layanan usaha bagi pelaku UMKM yakni; Pusat Wastra Nusantara, Xpora, Fulfillment Center, Smesco Hub Timur, Smesco Labo, Pusat Layanan UKM dan Siren.id.
  7. Digitalisasi UMKM yang difasilitasi Pemerintah Daerah seperti program Tuka Tuku Purbalingga. Pemerintah kabupaten Purbalingga bekerja sama dengan salah satu e-commerce Indonesia, membuka marketplace yang dinamakan Tuka Tuku dalam rangka memfasilitasi pemasaran produk UMKM Purbalingga melalui pasar online.
Pandemi menyebabkan sepi pengunjung, perlu digitalisasi UMKM untuk menaikkan omset
Sumber foto: dokumen pribadi

Kementerian Koperasi dan UKM mencatat hingga Agustus 2021, terdapat 15,3 juta UMKM yang sudah on boarding pada ekosistem digital atau naik 7,3 juta UMKM selama pandemi covid-19. Data dari Kementerian Perdagangan tahun 2021, jumlah transaksi e-commerce tahun 2020 mencapai Rp.266 triliun. Sedangkan sampai dengan triwulan II tahun 2021 jumlah transaksi e-commerce telah mencapai Rp.186,75 T atau meningkat 63,36%.

Potensi digital ekonomi Indonesia masih terbuka lebar dengan jumlah populasi terbesar ke-4 di dunia dan penetrasi internet yang telah menjangkau 196,7 juta orang. Pangsa pasar yang besar tersebut tentu sangat menarik bagi pelaku usaha untuk mengambil keuntungan. UMKM harus bisa bersaing tidak hanya pemain lokal tetapi juga manca negara. Era market place online memungkin konsumen memilih plafon serta penjual tanpa ada batasan negara. Bukan hal yang mustahil dengan adanya digitalisasi, produk UMKM dari Indonesia muncul di plafon market place online negara Asia, Eropa bahkan Amerika Serikat. Dukungan ekosistem nasional untuk transformasi digitalisasi UMKM diharapkan menghasilkan UMKM yang tangguh, mempunyai daya saing di pasar global. Ibarat bertanding tinju, walapun terkena terkena pukulan hook secara telak karena pandemi Covid-19, UMKM mampu bertahan dua belas ronde dan memenangkan pertarungan karena kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.

Daftar Referensi :

Bank Indonesia, Januari 2021, Bersinergi Membangun Optimisme Pemulihan Ekonomi

Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia (2020), Perkembangan Data Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) dan Usaha Besar (UB) Tahun 2018-2019 diakses tanggal 18 Oktober 2021 dari https://kemenkopukm.go.id/data-umkm/?1Fdlt2S5m09quGfO4jtlKMj3CtRyi1pZ6IBqAUlnLlU5r0KmZ3

Kementerian PPN/Bappenas. Desember 2020, Kajian Kebijakan Penanggulangan Dampak Covid-19 terhadap UMKM

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Mei 2020, Peningkatan Sampah Plastik dari Belanja Online dan Delivery Selama PSBB

Siaran Pers 28 September 2020, Bappenas Dorong Transformasi Digital Sektor UMKM, Kementerian PPN/Bappenas Republik Indonesia

Siaran Pers 5 Mei 2021, UMKM Menjadi Pilar Penting dalam Perekonomian Indonesia, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia

The World Bank, Juli 2020, Jalan Panjang Pemulihan Ekonomi

Komentar (7)

  • RA

    Riza Aladin

    04 Nov 2021 20.50 WIB

    Tulisan yang sangat menginspirasi..smoga UMKM semakin maju dengan digitalisasi

  • KW

    Koen Wiguna

    04 Nov 2021 21.04 WIB

    Sangat memberikan pencerahan, ternyata support untuk UMKM untuk berkembang secara digital sangat banyak dari pemerintah baik pendanaan maupun pelatihan. Menjadi fenomenal ketika UMKM yang naik secara omset saat pandemi adalah UMKM yang berhasil bertranformasi menjadi UMKM yang melakukan penjualan secara online.

  • RK

    Reza Kusuma

    05 Nov 2021 14.34 WIB

    Tulisan yang sangat bermanfaat .Semoga ekosistem penunjang UMKM GO digital bisa semakin banyak dan saling melengkapi untuk mendukung UMKM bersaing di pasar global

  • JA

    Jaliani Ahmad

    05 Nov 2021 14.58 WIB

    Tulisan yang menarik, memberikan informasi berdasarkan data dan kajian yang cukup lengkap dan bisa dipertanggung jawabkan..Good Job

  • SS

    Septi Sasongko

    05 Nov 2021 21.09 WIB

    Sangat menarik dengan data yang lengkap untuk sebuah tulisan, semoga UMKM bisa semakin berkembang dengan adanya digitalisasi

  • PW

    prasetyo wibowo

    06 Nov 2021 13.28 WIB

    Penulisan dengan sumber data yg lengkap, sangat mencerahkan untuk UMKM yg berniat GO Digital

  • AB

    Agung Buana

    07 Nov 2021 09.52 WIB

    Tulisan yang mencerdaskan untuk UMKM Go Digital

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Tekan ESC untuk keluar