Digitalisasi UMKM Daerah di Depan Mata, Pendidikan Mesti Berbenah Diri

Ilustrasi UMKM dan Pendidikan Digital | Sumber: Unsplash/Marvin Meyer


#DigitalBisa #UntukDaerahLebihBaik

Pada abad ke-21, terjadi perubahan yang masif pada berbagai sektor di seluruh dunia, khususnya Indonesia. Terlebih, pandemi Covid-19 pun memberikan dampak yang cukup besar, terutama dalam sektor ekonomi dan masa depan pendidikan penerus bangsa.

Pasalnya, tak bisa dipungkiri bahwa segala perkembangan perekonomian negeri ini tentu akan terus berlanjut di tangan muda-mudi Indonesia.

Saat ini, adaptasi digital memang sangat penting dalam mendorong perekonomian nasional. Sektor-sektor seperti e-commerce, manufaktur, kesehatan, ritel, perhotelan, transportasi, pendidikan, bahkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) telah melakukan transormasi digital.

Berdasarkan data LIPI, saat ini terhitung 94,69 persen dari total UMKM mengalami penurunan angka penjualan. Padahal, UMKM adalah sektor yang memimpin daya saing ekonomi Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2017 memaparkan, UMKM menyumbang 60,34 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap 96,9 persen total penyerapan tenaga kerja.

Hal ini membuktikan, sektor UMKM sangat terdampak oleh pandemi dan tranformasi digital mesti makin dipercepat. Demi menerapkan digitalisasi ekonomi secara merata, tentunya perlu edukasi dan kerja sama di tiap daerah di Indonesia.

Pengamat ekonomi sekaligus Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira berpendapat, kolaborasi antara UMKM dan ekosistem e-commerce menjadi kunci adaptasi digital pada UMKM daerah. “Sekarang, warung-warung kecil potensinya besar untuk kerja sama dengan platform, integrasi pembukuan, (hingga) pembelian bahan-bahan baku untuk diproses sampai pesan antar makanan lewat aplikasi,” ujarnya dalam perbincangan singkat melalui WhatsApp.

Salah satu penerapan kolaborasi digital UMKM daerah terjadi dalam program Tuka Tuku Purbalingga. Kerja sama ini digagas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga Bersama e-commerce Indonesia, PT Bukalapak.com, untuk membuka marketplace Tuka Tuku Purbalingga sebagai fasilitas pemasaran produk UMKM melalui pasar online.

Dalam sektor pembayaran, Bank Indonesia (BI) mempersiapkan digitalisasi pembayaran BI Fast sebagai infrastruktur pembayaran ritel. Rencananya, BI Fast akan diluncurkan pada pekan ke dua Desember 2021 dengan 22 calon bank yang bekerja sama. Presiden RI Joko Widodo pun telah meluncurkan sistem penerbitan izin usaha secara online melalui Online Single Submission (OSS) berbasis risiko, pada Agustus lalu. Sistem ini digadang-gadang mampu melakukan proses pendaftaran izin usaha kurang lebih lima menit.

Hal ini tentunya makin memperluas akselerasi digitalisasi ekonomi dan berpotensi memasifkan perekonomian digital secara nasional. Namun, bagaimana dengan di daerah?  UMKM daerah, khususnya pedesaan, masih belum optimal memanfaatkan digitalisasi, baik dalam hal pembukuan, logistik, hingga pemasarannya.

“Data terakhir menunjukkan, baru 22 persen UMKM yang bergabung dengan platform digital, berarti 78 persen masih melakukan bisnis secara manual,” lanjut Bhima.

Berbagai infrastruktur untuk digitalisasi ekonomi, sesungguhnya telah banyak tersedia. Meski begitu, Indonesia masih harus menghadapi berbagai tantangan lain di daerah, termasuk koneksi internet yang belum merata, literasi digital yang masih minim, hingga macetnya regenerasi UMKM yang menyebabkan toko-toko kecil di pedesaan sulit menerima perubahan digital.

Berbeda dengan UMKM kecil di pedesaan, UMKM yang digagas oleh kaum milenial cepat beradaptasi dengan digitalisasi industri. “Berbeda dari UMKM yang dikelola milenial (yang) pasti adopsi digitalnya lebih baik,” komentar Bhima. Maka dari itu, tampaknya perlu dilakukan pemantapan digitalisasi ekonomi dengan membenahi dan mengembangkan kurikulum pendidikan. Hal ini demi menguatkan regenerasi UMKM dan mempersiapkan Indonesia agar dapat mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang ahli dalam kemampuan digital.

Ilustrasi Kegiatan Pembelajaran dengan Memanfaatkan Teknologi Digital, Foto: Unsplash.com/Compare Fibre

Menurut Bhima, saat ini masih terdapat kesenjangan kemampuan pada sembilan juta tenaga kerja lulusan perguruan tinggi di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa masih ada ketidakseimbangan antara skill yang dibutuhkan perusahaan digital dengan para lulusan. Masalah ini dapat diatasi dengan meningkatkan kualitas kurikulum, pengembangan dan kelengkapan fasilitas tiap sekolah dan/atau perguruan tinggi, hingga kualitas tenaga kerja.

Misalnya, kurikulum sebaiknya diatur 70 persen untuk persiapan dunia praktik yang terus berkembang, sedangkan 30 persen sisanya literasi teori. Di Singapura, pengetahuan dasar tentang coding telah diperkenalkan pada anak-anak sejak pendidikan Sekolah Dasar (SD). Di Indonesia, hal ini masih minim. Hanya jurusan spesifik komputer yang diberi pengetahuan coding.

Di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, khususnya di SMA Negeri 1 Tabukan Utara, siswanya terakhir kali menerima bantuan produk teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK) dari pemerintah pada 2019, yakni berupa dua unit laptop dan proyektor. Dengan jumlah tersebut, pemakaiannya belumlah optimal. Hal ini juga ditambah batasan akses internet yang minim dan keterampilan civitas sekolah dalam menguasai teknologi.

Melansir Tempo, guru kimia di SMA Negeri 1 Tabukan Utara, Muhammad Yusuf Ibrahim mengungkap, terdapat tiga siswa yang tidak mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pendemi. Ada beberapa sebab, yakni tak memiliki perangkat ponsel, tidak terjangkau jaringan internet, serta siswa yang rata-rata masuk kategori status sosial ekonomi rendah.

Sangat penting untuk meningkatkan fasilitas, kurikulum pembelajaran, serta kesejahteraan siswa untuk bersiap akan kehidupan digital. Selain itu, inkubasi digital di daerah juga perlu didorong melalui pendampingan kepada UMKM yang ingin masuk ke dalam platform digital.

Dibutuhkan kerja sama triple helix demi mendorong pembangunan nasional. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dalam situsnya menyebut, triple helix menekankan pentingnya kerja sama tiga pihak, yakni pemerintah, perguruan tinggi, dan badan usaha dalam mencapai target pembangunan. Kerja sama ini dapat digalakkan dan menjadi langkah “raksasa” yang merata untuk membangun digitalisasi di dalam negeri.

Dengan begitu, perkembangan digitalisasi akan merata, baik dari segi infrastruktur penunjang pada sektor UMKM dan pendidikan, edukasi masyarakat, hingga regenerasi yang dapat terus didorong.

 

Referensi:

Nasional.tempo.co. (2021, 30 Juli). Gagap Teknologi dan Infrastruktur Bayangi Digitalisasi Sekolah. Diakses pada 26 Oktober 2021, dari https://nasional.tempo.co/read/1488872/gagap-teknologi-dan-infrastruktur-bayangi-digitalisasi-sekolah/full&view=ok

Mediaindonesia.com. (2021, 27 September). Digitalisasi UMKM untuk Pemulihan Ekonomi Daerah. Diakses pada 26 Oktober 2021, dari https://mediaindonesia.com/opini/435590/digitalisasi-umkm-untuk-pemulihan-ekonomi-daerah

Nasional.sindonews.com. (2021, 9 Agustus). Tantangan Digitalisasi Ekonomi. Diakses pada 26 Oktober 2021, dari https://nasional.sindonews.com/read/505498/16/tantangan-digitalisasi-ekonomi-1628474886

Kompaspedia.kompas.id. (2021, 20 September). Merunut Potensi, Tantangan, Regulasi, dan Strategi Nasional Ekonomi Digital di Indonesia. Diakses pada 27 Oktober 2021, dari https://kompaspedia.kompas.id/baca/paparan-topik/merunut-potensi-tantangan-regulasi-dan-strategi-nasional-ekonomi-digital-di-indonesia

Komentar (3)

  • MA

    Mohammad Adrianto Sukarso

    03 Nov 2021 21.46 WIB

    Berbobot sekali. Digitalisasi memang sudah di depan mata, sehingga sudah sepatutnya berbagai sektor berbenah agar siap menghadapi ini. Memulai dari sektor pendidikan merupakan cara yang cukup tepat, apalagi mengingat anak-anak ini akan langsung masuk ke era digital

  • AH

    Ahmad Hudayanto

    03 Nov 2021 22.16 WIB

    Keren pembahasannya. Buat anak muda khususnya pelajar memang perlu memahami tentang perkembangan teknologi sekarang ini. Tentunya dengan perbaikan dan pengembangan fasilitas serta kurikulum pendidikan.

  • AH

    Anggita Hutami

    04 Nov 2021 12.23 WIB

    UMKM Indonesia harus maju gais

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Tekan ESC untuk keluar