Digitalisasi dan Upaya Pelestarian Kearifan Lokal

Digitalisasi dan Kearifan Lokal | Sumber: Dokumentasi Pribadi


#DigitalBisa #UntukDaerahLebihBaik

Saat ini, seluruh aspek dari kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari teknologi. Peradaban manusia saat ini dianggap telah memasuki tahap Society 5.0 yakni tahap ketika ruang fisik dan ruang maya terintegrasi. Di era serba digital ini, segala macam pekerjaan dan aktivitas manusia begitu terbantu, bahkan banyak bergantung, oleh penggunaan teknologi.

Perkembangan teknologi yang begitu pesat saat ini memungkinkan proses penyelesaian pekerjaan oleh teknologi kecerdasan buatan (atau yang dikenal sebagai Artificial Intelligence/AI) maupun digitalisasi di berbagai bidang baik itu kesehatan, ekonomi, sosial, pendidikan, dan sebagainya. Sejauh ini, digitalisasi menunjang dan memaksimalkan aktivitas masyarakat sehari-harinya seperti dapat melakukan transaksi dagang secara cashless atau tanpa tunai, melakukan registrasi administratif melalui aplikasi berbasis online, melakukan pembelajaran tatap muka dengan layanan virtual conference, berbelanja melalui e-commerce, dan lainnya.

Digitalisasi merupakan konsep atau istilah yang saat ini banyak dibahas dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai suatu konsep, menurut KBBI, digitalisasi dapat diartikan sebagai proses pemberian atau pemakaian sistem digital. Sementara itu, menurut OECD, digitalisasi merupakan proses membawa perubahan bagian-bagian sains, dari pengaturan agenda sampai eksperimen, berbagi pengetahuan, dan keterlibatan publik. Dengan demikian, konsep ini menitik beratkan pada proses transformasi sistem dari sistem konvensional ke sistem digital. Digitalisasi berbeda dengan digitasi, yakni proses mengubah suatu produk dari produk fisik ke produk digital. Jadi, digitalisasi juga mencakup adanya digitasi yang turut dikembangkan untuk menggerakkan transformasi ke arah sistem digital.

Pertanyaan kemudian terbersit dalam benak saya yakni apakah digitalisasi dapat berjalan beriringan dengan kearifan lokal mengingat saat ini tampaknya segala hal mengalami modernisasi. Padahal, kearifan lokal sangat perlu untuk dilestarikan sebagai warisan budaya bangsa kita. Kearifan lokal dipahami sebagai suatu nilai-nilai yang diamini oleh suatu masyarakat sebagai kepercayaan yang dipatuhi dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya jadi teringat pada pengalaman ketika mengunjungi suatu desa yang tidak tersentuh teknologi. Jangankan digitalisasi, teknologi sederhana seperti listrik saja tidak ada. Akan tetapi, banyak hal menarik yang dapat saya petik dari kunjungan saya tersebut sekaligus menjadi refleksi dalam mengamati fenomena digitalisasi saat ini.

Empat tahun yang lalu, saya berkesempatan untuk berlibur di kampung halaman ayah saya di Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan. Desa yang tidak luput saya kunjungi adalah Desa Adat Tana Toa di Kecamatan Kajang. Desa ini dinamakan sebagai Desa Tana Toa karena dipercaya sebagai tanah tertua di dunia. 

Kajang sendiri merupakan nama suku tradisional yang bermukim di Kabupaten Bulukumba. Masyarakat Kajang berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Konjo. Masyarakat Kajang terbagi menjadi dua golongan, yakni Kajang dalam dan Kajang luar. Apabila masyarakat Kajang dalam masih menerapkan tradisi dan budaya sampai sekarang, masyarakat Kajang luar sebaliknya telah menerima peradaban atau modernisasi.

Ketika saya menginjakkan kaki di kawasan Desa Adat Tana Toa, memang benar bahwa masyarakatnya menjalani kehidupan sehari-hari secara tradisional. Masyarakat Kajang dalam tidak memakai sandal atau alas kaki, tidak menggunakan kendaraan bermotor, tidak menggunakan ponsel, tidak memiliki alat penerangan seperti lampu, bahkan tidak menggunakan listrik. Pada saat itu, wisatawan tidak memiliki akses untuk berkomunikasi dengan dunia luar karena tidak ada jaringan seluler dan internet sama sekali. Akan tetapi, wisatawan masih diperkenankan untuk membawa kamera ponsel dengan tujuan dokumentasi. Sebagai pengecualian dan catatan, wisatawan tidak diperkenankan untuk menggunakan ponsel atau alat-alat berteknologi modern sama sekali ketika berada di dalam rumah Ammatoa (Pemimpin Adat).

Sumber : Dokumentasi Pribadi

Dalam kunjungan tersebut, saya menyaksikan dan ikut merasakan bahwa kepercayaan masyarakat Kajang dalam benar-benar diyakini dengan teguh. Bahkan, saya sangat terkesan dengan pesan dari Ammatoa bahwa kita sebagai manusia memiliki kewajiban untuk menjaga alam seiring dengan semakin berkembangnya teknologi karena modernisasi. 

Kunjungan tersebut meninggalkan impresi yang mendalam bagi saya terkait pelestarian lingkungan. Sebagai anak muda yang juga terpapar digitalisasi dan dampaknya, saya kemudian tersadar bahwa pesan-pesan dalam melestarikan kearifan lokal, terkhusus dalam pelestarian lingkungan, perlu kita galakkan. Apalagi, saat ini dunia sedang berfokus dalam upaya bersama mengatasi perubahan iklim. Tentu, hal ini menjadi catatan penting bahwa digitalisasi seharusnya perlu menjadi suatu proses yang turut berkontribusi akan upaya pelestarian kearifan lokal.

Digitalisasi Untuk Pelestarian Kearifan Lokal

Digitalisasi memang memberi dampak yang cukup serius, baik itu positif maupun negatif. Walaupun digitalisasi sangat lekat dengan modernisasi yang biasanya justru menggerus kearifan lokal, digitalisasi dapat menjadi peluang atau kesempatan untuk melestarikan kearifan lokal. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno berpandangan bahwa digitalisasi dapat memberi manfaat positif bagi pengembangan desa wisata, terkhusus demi melestarikan kearifan lokal.

Digitalisasi sendiri dapat menjalankan fungsinya sesuai dengan sasaran atau target yang dituju: masyarakat desa wisata adat, wisatawan, maupun pemuda. Bagi masyarakat wisata adat, digitalisasi dapat membantu mempromosikan/memperkenalkan desa wisata mereka ke khalayak yang lebih luas. Hal mendasar yang dapat dimanfaatkan dari digitalisasi yakni dengan menghadirkan dan memperluas media atau saluran informasi mengenai desa wisata, tidak hanya bagi wisatawan lokal namun juga wisatawan internasional. Pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan perlu menggalakkan saluran-saluran di berbagai media sosial atau digital untuk hal tersebut.

Bagi wisatawan, digitalisasi membantu akses terhadap informasi akan kebudayaan yang asing atau kurang familiar sehingga wisatawan dapat memperoleh banyak pembekalan informasi yang komprehensif mengenai kebudayaan, persiapan, tantangan, larangan, dan hal-hal lain yang dapat diantisipasi sebelum dan dalam melakukan kunjungan wisata. Selain itu, wisatawan juga dapat dipermudah untuk melakukan pemesanan jasa pemandu wisata secara daring. 

Sementara itu, bagi pemuda, digitalisasi tentu mendorong terbukanya pemahaman akan kearifan lokal bangsa sendiri. Industri budaya digital saat ini telah sangat masif memengaruhi banyak pemuda untuk mengeksplor berbagai tempat wisata yang masih asri dan otentik. Media sosial menjadi bukti konkret bahwa pemuda mudah terpengaruh atau latah dengan tren yang ada. Sehingga, strategi digitalisasi yang cukup efektif yakni dengan menghadirkan promosi wisata yang menarik minat dan rasa penasaran anak muda.

Kekhawatiran bahwa digitalisasi tidak dapat berjalan beriringan dengan kearifan lokal perlu dikesampingkan karena hal yang fundamental untuk menjadi perhatian saat ini adalah bagaimana digitalisasi justru menjadi proses yang membantu pelestarian kearifan lokal. Masyarakat adat setempat memang akan terus memegang prinsip dan aturan adatnya untuk tidak tersentuh dengan modernisasi. Namun, masyarakat luas perlu proaktif dalam membangun kesadaran kolektif dalam pelestarian budaya yang ada. 

Referensi :

OECD. The Digitalisation of Science, Technology and Innovation: Key Developments and Policies. Paris: OECD Publishing, 2020.
https://doi.org/10.1787/b9e4a2c0-en.

Jawapos. "Digitalisasi dan Kearifan Lokal Jadi Elemen Kunci Kemajuan Desa Wisata." Jawapos, 7 Agustus 2021. https://www.jawapos.com/ekonomi/07/08/2021/digitalisasi-dan-kearifan-lokal-jadi-elemen-kunci-kemajuan-desa-wisata/

Komentar (13)

  • LQ

    Laila Qadr

    04 Nov 2021 13.28 WIB

    Sangat menginspirasi

  • NM

    Nada Mahardhika

    04 Nov 2021 17.03 WIB

    Mari dukung pemanfaatan digitalisasi dalam pelestarian kearifan lokal dan pengembangan sektor pariwisata berbasis keberlanjutan.

  • DA

    Devita Aulia

    04 Nov 2021 17.06 WIB

    👍🏻👍🏻

  • AF

    Andi Febrianti

    04 Nov 2021 17.21 WIB

    Semoga digitalisasi dapat selalu menunjang upaya pelestarian kearifan lokal

  • IA

    Isnah Annisa

    04 Nov 2021 18.45 WIB

    A very nice insight!

  • RA

    Rika Angriani

    04 Nov 2021 18.50 WIB

    Happy banget nemu tulisan iniii. Thankyouuu

  • RR

    Ria Ria

    04 Nov 2021 18.59 WIB

    Nice info!

  • FF

    Fitri Fitri

    04 Nov 2021 19.23 WIB

    Insightful thought👏👏👏

  • MC

    Mitha CE

    04 Nov 2021 19.33 WIB

    Nice info 🙏 menambah wawasan terkait digitalisasi dan pelestarian budaya masyarakat

  • SS

    Sisi Sisi

    04 Nov 2021 19.46 WIB

    Nice article, good job👍

  • IM

    Isye Mariza

    04 Nov 2021 20.09 WIB

    I've been there too, nice article👏

  • NF

    nurina f

    04 Nov 2021 21.18 WIB

    informasi yang menarik, menambah wawasan

  • SA

    Shinta Ayu

    06 Nov 2021 18.52 WIB

    Sangat menginspirasi dan informatif sekali. Semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi yang baca. Sukses terus achellll. Ditunggu artikel-artikel selanjutnya ❤❤

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Tekan ESC untuk keluar