Digitalisasi dan Berinovasi Melalui Budidaya Jamur Janggel di Kala Pandemi

Dokumentasi Pribadi


#57TahunTelkom #DigitalBisaUntukSemua

Pertengahan tahun 2020 merupakan waktu di saat pandemi sedang tinggi-tingginya. Pertumbuhan ekonomi macet, serta pendidikan dihentikan. Hal itu berdampak langsung kepada kehidupan saya dan keluarga. Paman yang sebelumnya sebagai tenaga kerja di pulau Bali, harus kehilangan pekerjaannya. Sedangkan saya sendiri memulai hari-hari di depan laptop saja dikarenakan pembelajaran daring. Cukup menyusahkan, apalagi beban yang ditanggung pekerja harian seperti paman saya. Perlahan ekonomi keluarga kami mulai surut dikarenakan tidak adanya penghasilan.

Nah, di suatu saat yang bersamaan pula. Paman tiba-tiba mendapatkan ide yang terbesit setelah melihat postingan di media sosial. Muncul sebuah trend di tengah-tengah masyarakat desa kami untuk dijadikan peluang usaha. Trend tersebut adalah budidaya jamur janggel (tongkol jagung) untuk diperjual belikan. Jual beli jamur bukanlah hal yang asing di desa kami.

Jamur janggel menjadi peluang usaha di kala pandemi
Jamur Janggel | Dokumentasi Pribadi

Sebelumnya, beberapa orang sudah mengembangbiakkan jamur tiram. Serta sebagian lainnya, termasuk ibu saya, memulai usaha mencari jamur ampas tebu untuk dikonsumsi. Namun, keduanya memiliki kelemahan yang tidak semua orang mau melakukannya. Seperti biaya yang mahal untuk budidaya jamur tiram, dan tempat yang jauh untuk mencari jamur ampas tebu.

Paman kemudian menghubungi saya dan berniat untuk bekerja sama. Budidaya jamur janggel ini ternyata sangat mudah dan murah. Dalam prosesnya, mulai dari penyiapan lahan, produksi, hingga distribusi kepada pembeli, kami mengandalkan platform digital untuk memenuhi hal tersebut. Sebagai orang awam dalam hal budidaya jamur, paman dan saya mencari semua informasi yang berguna.

Untuk informasi bagaimana penyiapan lahan saya mengandalkan informasi dari jurnal-jurnal tentang jamur yang bertebaran di berbagai media. Sedangkan paman bertugas dalam mengeksekusi pekerjaannya. Selanjutnya, dalam hal budidaya kami mulai menjaga suhu, kelembaban, dan udara di media tanam. Dari awal kami memulai hingga berhasil menuai panen pertama, kami tidak menemui masalah sedikitpun.

Jamur janggel memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi
Jamur Janggel Pasca Panen | Dokumentasi Pribadi

Masalah mulai terjadi di saat pasca panen. Saya berpikir untuk mencari tempat pemasaran yang tepat, sehingga kami bisa berfokus kepada satu platform tersebut. Beberapa anggota keluarga yang lain memberikan saran untuk menjualnya di pasar seperti biasa. Sistem menunggu pembeli datang dan tertarik pada dagangan kita. Selain itu, pasar di desa kami hanya akan ramai di akhir pekan. Menurut saya itu tidak efektif dan akan mengganggu pertumbuhan jamur jika jarang di panen. Ditambah lagi jenis jamur ini tidak bisa bertahan dalam waktu yang lama.

Pada akhirnya, saya dan paman memilih untuk memasarkannya di grup facebook warga desa. Kami sengaja tidak terlalu memasarkannya begitu luas, karena masalah waktu dan biaya. Postingan pertama kami disambut cukup baik oleh masyarakat. Kami memasang harga yang sesuai pasar, tapi dengan pelayanan gratis ongkir ke tempat pembeli. Terbukti, pada hari-hari selanjutnya kami menerima banyak orderan. Jika bisa dibandingkan, cara kami memasarkannya di media sosial lebih untung besar daripada di pasar tradisional. Meskipun harga yang kami tawarkan sama, secara pelayanan dan ketersediaan stok akan selalu terjaga.

Mungkin, itu adalah sekilas kisah tentang bagaimana saya dan paman mulai berinovasi di masa pandemi. Digitalisasi sangat diperlukan dalam pengembangan inovasi. Pemanfaatan media digital yang tepat dapat memberikan keuntungan lebih besar. Fenomena dalam masyarakat yang berkaitan dengan hal-hal positif perlu ditingkatkan lagi. Digital bisa mengantarkan sebagai sarana ilmu, belajar, hingga pemasaran. Waktunya masyarakat memiliki pola pemikiran kreatif beraspek digital. Hal ini perlu dikenalkan lebih kepada masyarakat, khususnya yang berada di pelosok desa seperti paman saya. Karena kita tahu bahwa "Digital Bisa Untuk Semua."

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

X

Tekan ESC untuk keluar