Cerita di Balik Dapur Produksi Keripik Pisang Asap Khas Samarinda

Ilustrasi | Perkembangan bisnis UMKM Keripik Pisang Srikandi dari Samarinda terjadi berkat peran teknologi digital


Pernah merasakan gurih dan renyahnya keripik pisang? Bagaimana dengan keripik pisang merek Srikandi? Jika kalian belum pernah mendengar dan mencobanya, maka sekarang adalah saat yang tepat untuk mulai menyicipi makanan tersebut.

Keripik Pisang Srikandi adalah produk makanan yang dibuat UMKM asal Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Penganan ini belakangan dikenal sebagai salah satu makanan khas dan oleh-oleh yang harus dibawa pelancong apabila berkunjung ke Samarinda.

Dilihat sekilas, mungkin banyak orang mengira keripik pisang Srikandi tak ada bedanya dengan makanan serupa yang banyak dijual di pasaran. Akan tetapi, anggapan tersebut pasti akan luntur bila kita sudah mencoba sendiri keripik yang dibuat oleh Sri Ruthmiati dan suaminya ini.

Dibanding keripik pisang sejenis, Kudapan bermerek Srikandi ini punya rasa dan tekstur yang khas. Ciri khas dimiliki keripik pisang Srikandi karena dibuat menggunakan bahan dan cara yang unik. Hal itu disampaikan langsung oleh pemilik usaha keripik pisang Srikandi, Sri, melalui pertemuan virtual beberapa waktu lalu.

Menurut Sri, keripik pisang buatannya memiliki rasa unik karena metode produksinya dilakukan menggunakan cara pengasapan. Proses tersebut membuat penganan buatan Sri memiliki rasa memikat, dibalut aroma yang menggugah selera makan.

BACA JUGA: Go Digital Bukan Lagi Mimpi Bagi UMKM dari Sigi

“Beda produk saya dengan orang lain adalah dalam  proses pembuatannya. Produksi sale pisang kami misalnya, dibuat dengan diasapi. Ini berbeda dengan cara pembuatan sale pisang biasa yang umumnya dijemur atau hanya dimasukkan ke dalam oven,” kata Sri.

Setiap hari Sri memproduksi keripik pisang dan berbagai cemilan dari kawasan tempat tinggalnya di Jalan Suryanata, Gang Saka, Bukit Pinang, Samarinda. Bersama suami dan 13 karyawannya yang seluruhnya wanita, Sri mengolah makanan ringan untuk kemudian dipasarkan mengandalkan tenaga para penjual tangan kedua (reseller).

Sri tak pernah menyangka bisa memperoleh pendapatan tetap dari hobinya memasak. Dia bercerita, awalnya produksi keripik pisang dia lakukan hanya untuk kebutuhan pribadi dan sebagai kegiatan pengisi waktu luang. Akan tetapi, semua itu berubah sejak 2014 lalu.

Berkat dorongan suaminya, Sri akhirnya mulai memproduksi keripik pisang untuk dipasarkan ke tetangga, kerabat, dan teman-temannya. Awalnya, Sri mengandalkan cara konvensional untuk membuat produknya dikenal masyarakat. Hampir setiap hari dia berkeliling menjajakan keripik pisang, dan menitipkan dagangannya ke banyak warung di kawasan Samarinda dan Balikpapan.

Lambat laun, upaya Sri mulai membuahkan hasil. Produknya mulai diminati masyarakat. Akhirnya, tawaran reseller pun banyak dia terima. Sejak saat itu, Sri akhirnya mulai terbantu dalam hal pemasaran camilan produksinya.

Mengandalkan bantuan reseller, produk keripik pisang Srikandi makin mudah ditemui di toko, minimarket, serta pusat oleh-oleh di Kalimantan Timur. “Supaya produknya bisa berkembang, saya menggandeng berbagai kalangan untuk memasarkannya,” kata Sri. “Sekarang ada reseller yang tiap harinya minta dipasok seribu bungkus keripik berbagai jenis,” tambahnya.

BACA JUGA: Begini Cara Mudah dan Cepat Lakukan Digitalisasi Bisnis

Berkat kehadiran para reseller, makanan buatan Sri bahkan bisa dikenal oleh masyarakat di luar Kalimantan Timur. Hal ini bisa terjadi karena banyak reseller keripik pisang Srikandi yang menjual kembali camilan dari Sri di lokapasar (marketplace) serta media sosial.

Pemasaran hybrid yang dilakukan para reseller keripik pisang Srikandi berbuah manis. Bayangkan, kini dalam sehari Sri bisa mengantongi omzet minimal Rp15 juta. Pemasukan ini berasal dari penjualan rata-rata keripik seharga Rp15 ribu melalui reseller di berbagai tempat.

Selain karena peran reseller dan adopsi teknologi digital dalam pemasaran produknya, usaha Sri juga bisa berkembang berkat bantuan yang diberikan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Sri mengaku semangatnya menjalani usaha semakin meningkat sejak Telkom Samarinda rutin memberikan bantuan. “Sejak ada bantuan dari Telkom, saya tambah semangat mengembangkan usaha ini.”

Sri mengaku bantuan permodalan dari Telkom kerap ia gunakan untuk membeli peralatan kerja agar bisa meningkatkan produksi dan diferensiasi produk. Selain itu, dia juga merasa terbantu karena Telkom membantu keripik pisang Srikandi memiliki izin usaha. Kini, usaha Sri telah mengantongi SPP-PIRT (Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga), sehingga bisa lebih mudah dipasarkan ke berbagai kalangan.

Berkat berbagai perkembangan dan pertumbuhan yang sudah terjadi, kini keripik pisang Srikandi dikenal sebagai salah satu UMKM percontohan di Kalimantan Timur. Predikat ini disematkan ke UMKM tersebut karena Sri berhasil membuktikan bahwa kesuksesan bisa diraih oleh siapapun, asalkan mau berinovasi dan mengedepankan kolaborasi untuk maju.

Ke depannya, Sri mengaku akan terus mengembangkan usahanya dan mendukung kreativitas para reseller. Dia yakin, melalui pemasaran secara digital yang banyak dilakukan reseller, usahanya bisa semakin besar dan naik kelas nantinya.

“Pemasaran secara digital biarlah dipegang oleh anak-anak muda. Saya cukup fokus di produksi,” kata Sri.

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Dengan mengirimkan komentar, saya menyetujui peraturan berkomentar di #DigitalBisa

Tekan ESC untuk keluar