Budaya Menatap Layar dan Pentingnya Pengasuhan Digital

Anak-anak kian akrab dengan gawai. Sumber gambar dari Pixabay.


#DigitalBisa #UntukIndonesiaLebihBaik

Bertambahnya waktu yang dibutuhkan anak-anak kita untuk menatap layar gawai menjadi hal yang perlu mendapat perhatian para orang tua masa kini. Jangan biarkan sebagian besar waktu mereka tersedot untuk aktivitas online yang akhirnya berisiko menimbulkan sejumlah gangguan perilaku dan gangguan kesehatan. 

Dulu ketika pesawat telepon genggam hanya memiliki fasilitas untuk menelepon dan mengirim pesan, serta tidak pula terhubung dengan internet, aktivitas kita menatap layar gawai boleh dibilang cukup minim. Kita menatap layar telepon genggam paling-paling ketika membaca pesan atau saat kita menulis dan mengirim pesan.

Akan tetapi, kondisi sekarang tampaknya telah sangat jauh berbeda. Telepon genggam rata-rata terhubung dengan internet dan fasilitas yang dimilikinya pun tak sebatas hanya untuk menelepon dan berkirim pesan. Maka, aktivitas menatap layar pun jauh bertambah kuantitasnya.

Dulu, mereka yang memiliki telepon seluler kebanyakan hanya orang-orang dewasa. Tapi, kini hampir setiap orang menggegam telepon seluler. Termasuk anak-anak. Nyaris setiap anak sekolah sekarang ini mempunyai telepon genggam. Bahkan, boleh jadi mereka memiliki aktivitas menatap layar gawai  jauh lebih banyak daripada orang dewasa.

Tak bisa dimungkiri bahwa budaya menatap layar telah menjadi bagian dari keseharian anak-anak kita. Mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur, mereka dipastikan menghabiskan sebagian waktu mereka untuk menatap layar telepon genggam dan sekaligus melakukan sejumlah aktivitas online.

Sebuah kajian, yang dikutip Mayo Clinic, menyimpulkan  bahwa anak-anak dan remaja rata-rata menghabiskan sekitar 6-9 jam jam per hari untuk menatap layar telepon genggam. Tentu saja dengan durasi waktu sebanyak itu, ada konsekwensi yang harus anak-anak kita hadapi, mulai dari berkurangnya interaksi sosial, risiko menurunnya kecakapan komunikasi lisan, gangguan perilaku hingga ke risiko kesehatan yang cukup serius.

Guna meminimalisir konsekwensi buruk aktivitas menatap layar yang semakin lama dilakukan anak-anak kita, para orangtua masa kini dituntut untuk mampu melakukan pengasuhan digital, sehingga anak-anak mereka tidak terus terpaku menatap layar dan abai terhadap hal-hal lain yang sebenarnya perlu pula mereka lakukan.

Dalam mengupayakan pengasuhan digital ini, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh para orangtua.

Pertama, memberi perhatian. Anak selalu butuh perhatian orangtua. Sayangnya, tak sedikit saat ini orangtua cuma dekat secara fisik, tetapi secara emosional mereka berjauhan. Maka, luangkan waktu khusus buat mereka. Ajak mereka ngobrol atau berdiskusi tetntang berbagai hal secara tatap muka. 

Kedua, singkirkan gawai pada momen kebersamaan keluarga. Bayangkan suasana seperti ini. Di sebuah ruang keluarga, orangtua dan anak duduk berkumpul bersama. Akan tetapi, masing-masing justru sibuk dengan gawai mereka. Hal seperti ini seharusnya tidak terjadi. Oleh sebab itu, di waktu-waktu untuk kebersamaan keluarga, buat aturan untuk mematikan atau menyingkirkan gawai. Matikan atau singkirkan perangkat telepon genggam selama waktu kebersamaan keluarga, seperti pada saat makan malam atau selama aktivitas berbasis keluarga lainnya.

Ketiga, tak membawa gawai ke ruang tidur. Tak sedikit orang membawa gawai mereka ke tempat tidur dan terus menyalakannya. Hal seperti ini kemungkinan pula dilakukan oleh anak-anak kita. Tetapkan aturan keluarga bahwa waktu tidur adalah waktunya perangkat dimatikan dan disimpan di tempat tertentu. 

Keempat, dorong anak melakukan sejumlah aktivitas fisik sehingga tidak terus terpaku memelototi layar gawai di sebagian besar waktu yang mereka miliki.

Selain hal-hal tersebut, yang juga tidak kalah penting adalah teladan nyata orangtua. Anak cenderung meniru kebiasaan orangtua mereka. Perilaku anak sedikit banyak akan dipengaruhi dari apa yang dilihatnya dalam lingkungan keluarga. Oleh sebab itu, berilah contoh nyata pada mereka ihwal penggunaan gawai secara lebih tepat guna.

 

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Tekan ESC untuk keluar