Berkah Di Balik Musibah

Enok Siti Juariah, pemilik UMKM Bunga Tanjung Embroidery saat ditemui di kediamannya, Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (18/10).


“Orang Indonesia kebiasaan suka cari-cari berkah dari setiap musibah yang terjadi.”

Kalimat sindiran itu kerap dilontarkan banyak orang setelah mendengar kisah di balik sebuah musibah. Meski terdengar sinis, namun pernyataan tersebut mungkin ada benarnya.

Harus diakui, kita kerap mencari hal-hal positif atau berkah dari sebuah peristiwa yang terjadi. Sebagai contoh, ada banyak orang bersyukur masih bisa sampai kantor dengan selamat meski harus berangkat terlambat dan memacu kendaraan dengan cepat karena kesiangan. Tak jarang juga orang bersyukur karena masih hidup dan “hanya” kehilangan barang-barang kurang berharga saat rumahnya dimasuki maling.

Kebiasaan tersebut belum tentu hanya dilakukan orang Indonesia. Akan tetapi, polah tersebut sudah identik dan sering kita temui sehari-hari.

“Keuntungan” di balik sebuah musibah juga bisa kita temui sejak pandemi Covid-19 melanda dunia per awal 2020 lalu. Meski banyak membawa kerugian, pandemi Covid-19 dianggap turut membawa banyak hal positif bagi manusia.

Salah satu berkah di balik pandemi Covid-19 adalah terjadinya digitalisasi dalam skala masif. Bayangkan, karena pandemi manusia kini dipaksa untuk terbiasa hidup dengan memaksimalkan kehadiran teknologi.

Banyak pekerja yang sebelumnya tak terbiasa menggelar rapat daring, kini hampir setiap hari harus melakukan hal tersebut. Para murid dan guru juga akhirnya terlatih untuk sering belajar dan melakukan ujian secara daring. Selain itu, adaptasi juga banyak dilakukan oleh pelaku usaha demi bertahan selama pandemi terjadi.

Salah satu pelaku usaha yang bisa disebut berhasil melakukan adaptasi demi bertahan selama pandemi adalah Enok Siti Juariah. Perempuan berusia 60 tahun ini adalah pemilik UMKM Bunga Tanjung Embroidery yang bergerak di bidang bordir dan fesyen.

BACA JUGA: Resep Rahasia UMKM Bunga Tanjung Embroidery Bertahan Sejak 46 Tahun Berdiri

Sejak pandemi terjadi awal 2020 lalu, UMKM Bunga Tanjung Embroidery harus merasakan dampak serupa dengan pelaku usaha lain: pendapatan berkurang. Hal ini terjadi karena permintaan produk bordir Bunga Tanjung Embroidery dari pasar dan pembeli berkurang.

“Waktu awal-awal pandemi itu sampai berapa bulan sempat berhenti total produksi. Kemudian sampai sekarang pendapatan masih belum normal seperti sebelum pandemi, soalnya banyak toko di pasar yang tutup,” ujar Siti saat ditemui di kediamannya pada Jalan Air Tanjung, Kawalu, Tasikmalaya, Senin (19/10).

Kondisi sulit yang dialami Bunga Tanjung Embroidery tidak membuat Siti patah arang. Dia terus berjuang mempertahankan usahanya dan membuat agar pendapatan, sekecil apapun, tetap diterima Bunga Tanjung Embroidery.

Menurut Siti, berapapun pemasukan sangat terasa manfaatnya untuknya dan para pekerja. “Minimal ada orderan agar para pekerja bisa dibayar,” ujarnya.

Usaha Siti mempertahankan usahanya perlahan membuahkan hasil. Dia bercerita, sejak akhir tahun lalu mulai ada sejumlah orang yang menghubunginya untuk menjual produk-produk Bunga Tanjung Embroidery di lokapasar (marketplace).

Orang-orang yang menghubungi Siti mayoritas merupakan pelaku usaha reseller. Usaha reseller memang tengah digandrungi dan semakin populer sejak pandemi terjadi karena bisa dilakukan dari rumah, dan tidak memerlukan banyak modal untuk memulainya.

Menurut Siti, biasanya para reseller menghubunginya untuk menjual kembali produk-produk Bunga Tanjung di toko daring masing-masing. Pembelian produk bisa satuan atau grosiran. Siti tidak pernah melarang para reseller menjual kembali produk UMKM-nya di lokapasar. Dia hanya melarang para reseller meniru dan membuat busana dengan desain Bunga Tanjung Embroidery tanpa izin.

“Kalau para reseller mau menjual barang kami di marketplace itu nggak pernah saya larang. Harga yang kami kasih juga di bawah pasar, jadi bisa mereka jual lagi sesuai hitung-hitungannya sendiri,” tutur Siti.

Selain membuka kesempatan masyarakat menjadi reseller produk UMKM Bunga Tanjung Embroidery, Siti juga bercerita kerap mendapat pesanan via aplikasi pesan singkat Whatsapp (WA) sejak pandemi terjadi. Biasanya, orang yang menghubungi Bunga Tanjung via WA adalah para pelanggan lama.

Pemesanan produk Bunga Tanjung via WA bisa dilakukan penikmat busana muslim dengan mudah. Seluruh pesan dari calon pembeli via WA akan dibalas langsung oleh Siti atau anaknya. Calon pembeli bisa meminta foto atau video produk, untuk kemudian dipilih dan ditentukan berapa jumlah barang yang hendak dibeli.

“Nanti kalau sudah dipilih, kami kirim langsung dari rumah ke lokasi tujuan pembeli. Pokoknya kami jamin harga produk Bunga Tanjung sangat terjangkau, tapi kualitasnya nggak perlu diragukan lagi,” katanya.

Adaptasi UMKM Bunga Tanjung berjualan mengandalkan aplikasi pesan singkat dan lokapasar merupakan contoh baik yang perlu ditiru pelaku usaha lain. Menurut Asisten Manager CDC PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Tasikmalaya, Maman Suratman, bantuan bisa diberikan pihaknya kepada UMKM yang hendak melakukan adaptasi atau transformasi bisnis.

“Selama ini Telkom di Tasikmalaya sudah promosikan dan edukasi mitra binaan kami khususnya untuk bertransformasi ke area digital, karena transformasi akan membantu untuk promosi apabila mitra punya produk-produk yang diinginkan untuk dijual ke masyarakat,” kata Maman.

Selama ini, Kantor Telkom di Tasikmalaya telah banyak membantu pelaku usaha untuk bertahan dan mulai bertransformasi digital sejak pandemi terjadi. Bimbingan dilakukan melalui berbagai pelatihan, bantuan pemasaran via aplikasi PaDI UMKM, dan mengenalkan sejumlah aplikasi digital yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan efektifitas berjualan pelaku usaha.

“Jumlah UMKM binaan Telkom di Tasikmalaya dan sekitarnya dari 2019 sampai sekarang mencapai 210 mitra binaan. Rata-rata bantuan yang diberikan ke tiap UMKM mencapai Rp20 juta – Rp75 juta,” ujarnya.

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Tekan ESC untuk keluar