Belajar Agile Product Development 101 dari CSO Amoeba Netmonk Haidlir Naqvi

Ilustrasi © Freepik


Transformasi digital membuka peluang bagi setiap insan yang ingin berinovasi, menghadirkan solusi untuk menjawab berbagai permasalahan yang ada. Saat ini, hadir begitu banyak produk digital inisiasi anak bangsa di berbagai sektor, mulai dari hiburan, pendidikan, hingga sosial ekonomi.

Dengan komitmen mendukung anak muda dalam menghasilkan inovasi digital, Telkom Indonesia bersama Sprinthink kembali hadirkan kelas pelatihan #DigitalBisa Batch 4 dengan tema “Agile Product Development 101” pada Jumat (30/7/2021). 

Pada kelas ini, mentor Haidlir Naqvi selaku CSO of Amoeba Netmonk berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang penerapan agile dalam pengembangan sebuah produk digital. Netmonk adalah penyedia aplikasi monitoring jaringan Indonesia yang memberikan solusi dan kemudahan untuk memenuhi semua kebutuhan akan pemantauan di perusahaan. Perusahaan rintisan ini termasuk binaan program inkubasi Amoeba, PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom).

Kelas #DigitalBisa Batch 4 © Digital Bisa

Mengawali paparan, Haidlir membahas perbedaan antara proyek dan produk. Proyek diukur dari outputs, penilaiannya atas dasar ruang lingkup, waktu, dan anggaran. Kualitasnya akan terlihat secara abstrak, ketika manajemen kerjanya berjalan baik. Sifatnya terprediksi, waktu mulai dan selesai pengerjaan jelas sesuai kesepakatan. Sistemnya, investasi di awal untuk menjanjikan laba.

Sementara produk diukur dari outcomes, penilaiannya atas dasar nilai yang berkelanjutan. Kualitasnya akan terlihat secara konkrit, ketika hasil nyatanya berkualitas. Sifatnya adaptif, waktu pengerjaan harus terus beradaptasi sesuai dengan umpan balik selama produk masih tersedia. Sistemnya, kembangkan produk di awal untuk membuat nilai atau manfaat tersampaikan, lalu hal ini akan mendorong investasi.

Ia mengungkapkan, “Nyatanya, proyek dan produk dapat berjalan beriringan. Produk bermula saat ide baru hadir. Lalu sebaiknya, lakukan identifikasi ketersediaan kesempatan, tentukan target pasar, serta pastikan hasil matriks. Setelahnya, barulah membangun produk dan meluncurkan sebuah proyek hingga produk tersebut resmi rilis.”

“Sebuah bisnis tidak harus membuat produknya sendiri, tetapi bisa menyerahkannya ke pihak ketiga sebagai sebuah proyek. Saat proyek telah selesai, tidak demikian dengan produk. Produk masih harus melalui siklus hidup yang lebih panjang,” imbuhnya.

Setelah rilis pertama, produk harus melalui siklus hidup serupa untuk pengembangan produk hingga rilis kedua. Produk harus bertambah kualitasnya, baik versi maupun fiturnya. Namun, produk akan berhenti atau tertunda produksinya apabila nilai atau manfaatnya sudah tidak terasa, pelanggannya sudah tidak tersedia, atau permodalannya sudah habis.

Lalu, Haidlir mengenalkan para peserta dengan beberapa metode terkait agile. Di era digital dengan perubahan sangat cepat lekat kaitannya dengan konsep VUCA, akronim dari volatility (volatilitas), uncertainty (ketidakpastian), complexity (kompleksitas), dan ambiguity (ambiguitas).

The Cynefin Framework, sebuah kerangka kerja untuk kepemimpinan. Dalam konteks lebih luas, banyak pemimpin di seluruh dunia menggunakan kerangka ini untuk membantu perumusan kebijakan publik yang lebih baik. Kerangka ini membagi situasi berdasarkan hubungan sebab dan akibat, di antaranya simple, complicated, complex, dan chaotic.

Lebih lanjut, agile manifesto, nilai-nilai yang mendasari agile software development. Metode ini berawal dari rasa frustasi para pengembang perangkat lunak pada metode tradisional saat itu, yakni waterfall model. Mereka sepakat mengadakan pertemuan untuk di Oregon untuk berdiskusi. Akhirnya, agile manifesto tertulis secara formal pada 2001 di The Lodge, Utah, Amerika Serikat.

“Pertemuan ini berhasil membuat 4 nilai agile manifesto dan 12 nilai agile principles. Nilai agile manifesto, terdiri dari individu dan interaksi pelaku pengembangan lebih utama daripada proses dan alat; kolaborasi pelanggan selama proses berjalan lebih efektif daripada hanya saat negosiasi kontrak; perangkat lunak yang bekerja lebih penting daripada dokumentasi komprehensif; dan menanggapi perubahan lebih baik daripada sekadar mengikuti rencana,” terangnya.

Kemudian, ia berbicara tentang scrum, sebuah kerangka kerja sederhana yang membantu individu, tim, ataupun organisasi mengatasi masalah adaptif yang kompleks, sementara secara produktif dan kreatif memberikan produk dengan nilai setinggi mungkin. Ia pun menjelaskan scrum secara mendetail, mulai dari waktu penggunaan, pilar empirisme, peran metode, implementasi, bagian kegiatan, hingga batasan waktunya.

Usai menyampaikan materi, Haidlir membuka kesempatan bagi para peserta yang ingin mengajukan pertanyaan. Jika tertarik, nantikan Kelas #DigitalBisa berikutnya, ya.

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Tekan ESC untuk keluar