Bagaimana Bangsa Indonesia Melihat Digitalisasi

Sumber: freepik.com


#WritingCompetitionDigitalbisa #Digitalbisa #UntukIndonesiaLebihBaik

Pada abad ke-21 kini, manusia tidak lagi asing dengan pemanfaatan teknologi. Sejak revolusi industri 1.0 yang menjadi titik balik pemanfaatan teknologi, manusia mulai mengalihkan penggunaan tenaga makhluk hidup dalam melakukan suatu pekerjaan. Manusia memaksimalkan kemampuan otaknya untuk menciptakan teknologi yang memungkinkan seperangkat alat menggantikan fungsi makhluk hidup dalam bekerja. Mesin uap menggantikan manusia untuk menenun kain, kendaraan menggantikan kuda untuk kepentingan mobilitas. Hingga kini, pemanfaatan teknologi bahkan telah masuk ke aktivitas-aktivitas dasar manusia.

Apakah hal tersebut merupakan sesuatu yang baik?

Maksud saya, perubahan-perubahan yang dihasilkan. Dulu, manusia menggunakan tangannya sendiri untuk menciptakan pakaian. Diperlukan keahlian serta ketelitian yang memakan waktu. Keberadaan mesin uap kemudian mendorong tangan-tangan bertalenta itu dan menghasilkan pakaian dengan jumlah yang jauh lebih banyak dalam waktu yang jauh lebih singkat. Manusia tersisih, kini bukan tentang talenta menggunakan jarum dan benang, tetapi tentang pemahaman mengoperasikan mesin.

Lebih jauh, pada era revolusi industri 4.0 ini teknologi bahkan bisa lebih hebat dari manusia sendiri. Revolusi industri 4.0 dikenal juga dengan istiah revolusi digital, di mana sistem komputer berkembang pesat bahkan memungkinkan otomatisasi tanpa kendali manusia. Pengaplikasian kecerdasan buatan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari sangat mungkin, bahkan sudah terjadi. Robot-robot mencuci baju, menghisap debu, bahkan menghaluskan bahan makanan.

Lagi, apakah hal tersebut merupakan sesuatu yang baik?

Konsep “baik” atau “buruk” ini sebenarnya didasari pada budaya. Menurut KBBI, budaya adalah pikiran; akal budi. Budaya sesungguhnya adalah konsep pikiran yang diturunkan. Ketika sesuatu dipandang baik pada budaya tertentu dan dipandang buruk oleh budaya lainnya, hal itu karena kedua budaya sesungguhnya mewariskan konsep pikiran yang berbeda.

Bagaimana dengan budaya bangsa Indonesia sendiri?

Sebagian masyarakat yang merasa dirinya lebih melek terhadap era digital seringkali mengambil keputusan sepihak bahwa digitalisasi adalah hal yang baik. Serba cepat, serba mudah, dan menghemat biaya. Sama halnya dengan masyarakat yang menutup diri dari era digital yang cenderung menganggap digitalisasi sebagai hal yang buruk. Usaha konvensional kehilangan pasar, interaksi antar manusia berkurang, bahkan kehilangan jati diri bangsa.

Sebagai bangsa yang heterogen, tiap masyarakat diwariskan konsep pikiran yang berbeda oleh leluhurnya. Konsep “baik” dan “buruk” pada tiap budaya boleh jadi juga berbeda. Mungkin saja menurut budaya tertentu, hasil akhir adalah tolak ukur konsep “baik” dan “buruk”, tetapi pada budaya lainnya justru proses menjadi hal utama yang menjadi tolak ukur. Proses yang melibatkan banyak manusia dengan sikap gotong royong di dalamnya boleh jadi merupakan hal yang baik bagi suatu budaya, tetapi dianggap pemborosan bagi budaya lain. Hasil akhir yang didapat dalam waktu singkat dengan biaya rendah boleh jadi dianggap baik oleh suatu budaya, tetapi menjadi “penghalang rezeki” bagi budaya lain. Perubahan mobilitas kegiatan yang serba cepat dan mudah boleh jadi merupakan hal yang baik bagi suatu budaya, tetapi menjadi tanda hilangnya identitas bagi budaya lain.

Singkatnya, keberagaman budaya ini yang membuat bangsa Indonesia—secara keseluruhan—tidak seragam dalam memandang sesuatu, termasuk digitalisasi dan perubahan yang dihasilkan. Perubahan yang dihasilkan era revolusi digital ini tidak bisa dengan mudah diklaim sebagai sesuatu yang baik atau buruk, bahkan dari jumlah dampak yang dihasilkan.

Hal ini yang seringkali tidak diperhatikan oleh dua jenis masyarakat tadi. Untuk dapat melihat apa yang dilihat orang lain, akan lebih baik jika kita mengerti budaya (konsep pikiran) orang tersebut. Nantinya, pengertian akan budaya satu sama lain itu akan mempermudah penyeragaman, sehingga masyarakat secara merata dapat seperasaan dan sepemahaman dalam melihat digitalisasi dan menerapkannya.

Komentar (1)

  • T

    Tania

    31 Jul 2021 00.28 WIB

    menyadarkan masyarakat terhadap kesadaran tentang budaya sekarang dan baik buruknya terhadap kemajuan digital sekarang

    Hapus

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Tekan ESC untuk keluar