Kenapa Internet Bisa Serba Tahu Tentang Kita?

Ilustrasi | Pixabay/Edurs34


Dul curiga dan takut ada orang yang selalu mengawasinya. Ketakutan itu muncul bukan tanpa alasan. Belakangan, Dul merasa ada yang aneh dari kegiatannya selama bermain media sosial dan internet.

Keanehan yang dirasakan Dul bermula saat ia sedang mencari tahu perkembangan kasus Covid-19 di internet. Awalnya, dia mencari tahu hal itu dengan cara normal: mengetik kata kunci “Covid-19” dan membaca beberapa artikel tentang pandemi. Akan tetapi, setelah itu keanehan mulai ia rasakan.

Sejak rutin mencari berita dan informasi mengenai pandemi, Dul makin sering mendapat sugesti dari mesin pencarian dan internet untuk membuka konten-konten terkait Covid-19. Sugesti itu bahkan mengikutinya sampai media sosial.

“Apa-apaan sih ini, masa tiba-tiba ada iklan tes PCR dan info Covid-19? Aneh banget,” batinnya suatu hari ketika sedang asyik bermain medsos.

Karena takut, Dul lantas menghubungi sahabatnya, Lindung, untuk bertanya mengenai kondisinya itu. “Semoga Lindung bisa bantu aku. Dia pasti bisa bantu. Lindung kan melek teknologi, nggak seperti aku,” gumamnya sendiri.

Dengan tergesa-gesa Dul menghubungi Lindung. Awalnya, dia kirim pesan singkat via WhatsApp. Setelah lama menunggu, pesannya tak berbalas. Dul pun langsung mengontak Lindung melalui telepon.

“Halo Dul, ada apa? Maaf aku belum balas chatmu. Aku baru saja pegang handphone nih,” seru Lindung menjawab telepon Dul.

BACA JUGA: PeduliLindungi Versi Baru Sudah Keluar, Begini Cara Pasangnya

“Lindung! Ah kamu bikin khawatir saja. Nggak ada apa-apa sih, sebenarnya. Aku cuma mau nanya dan minta bantuan kamu nih,” jawab Dul.

“Mau tanya apa, Dul?” kata Lindung.

Dul langsung menceritakan kisahnya ke Lindung. Dalam ceritanya kepada Lindung, Dul mengungkap keanehan dan ketakutannya tersebut. Dia bahkan bilang ke Lindung bahwa dirinya mungkin akan “puasa” bermain internet dulu karena sebegitu takutnya.

“Ini makin aneh setiap hari, Lindung. Aku merasa kaya diikuti atau dikerjain dukun. Soalnya kok lama-lama sugesti pencarian, iklan, sama pilihan trending topic di medsos aku kok sama persis ya dengan topik-topik yang aku minati. Tolong aku, Lindung,” ujarnya.

Seperti biasa, dengan suaranya yang teduh Lindung menenangkan Dul. Lindung berkata Dul wajar merasa curiga. Akan tetapi, dia meyakinkan sahabatnya bahwa tidak ada orang jahat atau dukun yang mengikutinya.

“Sudah kamu tenang saja, Dul. Wajar kok hal yang kamu alami itu,” tutur Lindung.

“Wajar gimana Lindung? Coba jelasin ke aku, kenapa aku harus tetap tenang di kondisi begini?” Dul mencecar.

Lindung akhirnya memberi penjelasan pada Dul. Dia berkata, kejadian yang menimpa Dul terjadi bukan karena hal gaib, ulah orang iseng, atau penjahat yang mencuri data dan mengikutinya setiap hari. Penyebab dari kejadian yang menimpa Dul tak lain karena kepintaran algoritma internet dan medsos.

BACA JUGA: Cerita di Balik Dapur Produksi Keripik Pisang Asap Khas Samarinda

Menurut Lindung, algoritma adalah hal yang ada di internet dan hadir untuk membantu manusia dalam beraktivitas. Algoritma bisa ditemukan di mana saja, seperti ketika kita sedang membuka aplikasi map, bermain gim, atau memesan makanan dan belanja daring.

“Gampangnya, algoritma itu sistem yang bikin komputer dan internet jadi canggih dan bisa diandalkan. Algoritma juga yang mempermudah kita kalau lagi cari informasi di internet, cari teman di medsos, atau pilih-pilih barang di lokapasar,” kata Lindung.

“Wah keren ya. Tapi kenapa algoritma itu kayak dukun ya? Dia kok bisa tahu aku lagi tertarik isu apa, sampai akhirnya muncul tuh iklan-iklan sama sugesti pencarian yang sesuai minatku?” tanya Dul melanjutkan.

Lindung kembali menjelaskan. Dia berkata, karena kepintarannya, algoritma bisa mengetahui kebiasaan orang ketika bermain internet.

“Nah kebiasaan kita itu yang direkam algoritma, terus jadi dasar sistem buat kasih sugesti. Kalau kamu nggak mau aktivitasmu di internet terekam algoritma, kamu bisa kok Dul membatasi gerak sistem untuk melacak kegiatan di dunia maya. Jadi beda dengan dukun ya. Algoritma itu bergerak berdasarkan data, kalau dukun sih karena kemampuan supranatural!” kata Lindung sambil tertawa.

Mendengar penjelasan itu, Dul sedikit merasa lega. Dia akhirnya tahu, tak ada orang jahat atau kekuatan gaib yang mengintainya. Semua kekhawatirannya itu ternyata muncul karena satu kata: algoritma.

“Wah aku jadi malu nih karena udah curiga ada dukun aja yang ngerjain aku,” kata Dul. “Makasih ya Lindung. Habis ini aku atur deh biar algoritma medsos sama internet di gadget-ku nggak terlalu banyak lacak aktivitasku, hehe,” kata Dul.

“Dasar kamu, Dul. Yasudah, aku tutup ya teleponnya. Kalau ada apa-apa hubungi lagi aja,” ujar Lindung menutup perbincangan.

 

Komentar (1)

  • L

    Looomy

    24 Okt 2021 12.18 WIB

    Cara ngatur algoritma gimana bang?

    Hapus

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Tekan ESC untuk keluar