Akulturasi Teknologi Digital Terhadap Tradisi Lisan. Apa Itu?

Tradisi Lisan Internet, Foto: senjahari.com


#WritingCompetitionDigitalBisa #DigitalBisa #UntukIndonesiaLebihBaik

Gema teknologi digital bergerak semakin masif, apalagi di masa pandemi seperti sekarang mau tidak mau dan siap tidak siap kita perlu menyesuaikan diri dengan teknologi digital . Teknologi ini hampir delapan puluh persen bersentuhan dengan aktivitas sehari-hari. Tidak khayal resonansi atau gema digital semakin luas menjangkau masyarakat. Dengan meluasnya resonansi tersebut banyak pengaruh yang terlihat dan tidak terlihat di bidang ekonomi, sosial, dan budaya. Salah satu yang mendapatkan dampaknya adalah perubahan budaya lisan sebagai budaya tertua di masyarakat. Bagaimana teknologi digital mempengaruhinya dan apa yang perlu budaya lisan lakukan agar bisa bertahan?

Apa Itu Budaya Lisan Dan Tantangannya!

Budaya lisan menurut abdul rozak dalam jurnal dari Udayana mengatakan bahwa Tradisi lisan sebagai kekuatan kultural merupakan sumber terbentuknya peradaban dalam berbagai aspek kehidupan penting dilestarikan. Dalam bentuk dan isinya yang kompleks tidak hanya mengandung cerita, mitos, legenda, dan dongeng, tetapi juga mengandung berbagai hal yang menyangkut hidup dan kehidupan komunitas pemiliknya. Misalnya, kearifan lokal (local wisdom), sistem nilai, pengetahuan tradisional (lokal knowledge), sejarah, hukum, adat, berbagai hasil seni dan ;ainnya. Pelaku dalam budaya/tradisi lisan ini menyebarkan informasi melalui mulut ke mulut ke antar generasi.

Budaya atau tradisi lisan sudah ada sebelum manusia mengenal tulisan sehingga menjadi salah satu budaya paling tua yang bertahan hingga sekarang. Dalam sebuah buku berjudul Oral Tradion As History karya Jan Vansina menjelaskan bahwa penyampaian tradisi lisan oleh seseorang bisa menghasilkan dua kategori yaitu berita atau opini terhadap suatu situasi. Tradisi lisan pada zaman sebelum mengenal tulisan memiliki tantangan yang cukup besar karena bisa saja apa yang tersampaikan berbeda dengan situasi yang terjadi. Untuk melakukan penyampaian berita atau opini kepada orang lain mereka memiliki cara khusus seperti pesan melalui benda-benda tertentu, atau penyampaian langsung dari sumbernya.

Tantangan dari tradisi lisan ini cukup besar karena melibatkan persepsi manusia yang berbeda. Melewati beberapa generasi, generasi selanjutnya menemukan cara agar tradisi lisan ini bisa tersampaikan dengan baik yaitu melalui tulisan. Menuliskan tradisi lisan dan menjadikannya sebagai budaya menyebabkan kita masuk pada budaya baru yaitu tradisi tulis. Namun tradisi tulispun masih memiliki tantangan yang besar yaitu masalah pengarsipan, pencarian data dan masalah lingkungan.

Transformasi Budaya Ke Teknologi Digital

ilustrasi budaya digitalsumber: senjahari/design by canva.com

Setelah membicarakan tradisi lisan dan tulis ribuan abad yang lalu, kita terbang jauh menuju era digital. Di era digital segala aspek informasi bisa kita peroleh hanya dengan hitungan menit. Hal itu sangat kontras terjadi pada ribuan abad yang lalu saat tradisi lisan dan tradisi tulisan memegang peranan dalam pemenuhan informasi. Pengumpulan informasi sebelum era digital mengharuskan seseorang menunggu berjam-jam, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk. Dengan adanya teknologi digital manusia yang lapar akan informasi bisa mendapatkan segudang jawaban dari pertanyaan. Teknologi digital akhirnya merebut hati masyarakat dengan kecepatan supernya sehingga lama-kelamaan menggeser budaya lisan dan budaya tulis.

Pergeseran dari lisan ke tulis lalu ke dunia digital memang tidak mudah, banyak sekali menghadapi tantangan dan pengorbanan waktu yang tidak sebentar. Untuk mengatasi lompatan yang cukup besar antara ketiga budaya tersebut maka salah satu pilihannya adalah akulturasi budaya (percampuran budaya). Percampuran dari ketiganya memunculkan istilah baru yaitu tradisi lisan internet. Tidak banyak yang tahu apa istilah ini dan tradisi lisan internet menjadi budaya baru yang tanpa orang sadari kehadiranya.

Budaya Lisan Internet Salah Satu Penyelamat Tradisi Lisan.

Masyarakat dapat mengambil banyak sekali nilai-nilai moral dan juga nilai kearifan lokal dari budaya lisan sebagai bekal diri sendiri. Walau memiliki nilai moral dan kearifan lokal tak sedikit yang menganggap bahwa tradisi ini sudah usang dan kuno, sehingga banyak orang yang mengira tradisi ini tidak terlalu penting di zaman modern. Untuk mengatasi anggapan tersebut tradisi lisan perlu berbenah atau mati digerus zaman. Mengutip dalam halaman muda kompas yang mengatakan bahwa dengan adanya akulturasi budaya lisan dan budaya digital, masyarakat bisa menjadi lebih sadar akan nilai moral sehingga tidak terbawa arus teknologi yang semakin sulit terkendali.

Seperti halnya kutipan Blank dalam artikel dari fakultas ilmu budaya universitas Airlangga bahwa tradisi lisan bisa menciptakan metode pengenalan budaya lisan generasi sebelumnya seperti cerita rakyat, hikayat, prosa, fabel dan lainnya kepada generasi milenial. Masyarakat bisa membuat tradisi lisan internet melalui kanal youtube, twitter, instragram, website, dan lainnya. Lalu mereka bisa memberika tanggapan dalam kolom komentar sebagi respon.

Sumber:
muda.kompas.id
sinta.unud.ac.id
Vansina, Jan. 1985. Oral Tradition As History. London; The University of Wisconsin Press

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

X

Tekan ESC untuk keluar