Akselerasi Digital: Sudah Saatnya, Mau Tidak Mau!

Ilustrasi penggunaan layanan aplikasi digital. Sumber: Unsplash.com | Edi Kurniawan


#WritingCompetitionDigitalbisa #Digitalbisa #UntukIndonesiaLebihBaik

Tanpa permisi virus covid-19 muncul tiba-tiba memberikan dampak di hampir semua sektor kehidupan. Pandemi mengguncang dunia, memaksa masyarakat beradaptasi, memiliki kebiasaan, dan kebudayaan baru demi bertahan hidup. Ki Hajar Dewantara pernah menjelaskan jika kebudayaan adalah buah budi hasil perjuangan manusia menghadapi pengaruh zaman, dan alam. Kebudayaan sejalan dengan ‘teknologi’, dan teknologi merupakan unsur kebudayaan. 

Pandemi covid-19 mendorong teknologi berkembang sangat cepat jauh dari apa yang kita bayangkan. Akselerasi digital tidak dapat kita hindari lagi, beradaptasi bukan menjadi pilihan tetapi suatu keharusan, mau tidak mau. Tanpa permisi teknologi mengambil peran penting mengubah cara hidup masyarakat menuju budaya digital.

Budaya Kita dan Akselerasi Digital

Budaya pertemuan face to face, pembayaran tradisional, transportasi umum, beberapa waktu lalu merupakan kebiasaan yang kita miliki. Saat budaya tersebut terpaksa harus berubah akibat pandemi, terjadi kebingungan, ketidaksiapan, dan kekhawatiran. Di tengah krisis tersebut budaya digital menjadi solusi yang ada untuk masyarakat.

Indonesia cukup tertinggal memasuki budaya digital, saat ini Indonesia berusaha mengejar era digital disaat negara lain telah memulainya beberapa tahun lalu. Jika melihat perbandingannya, bahkan Jepang sudah mulai memasuki era society 5.0 empat tahun lalu. Bukan lagi membangun era digital tetapi telah memiliki teknologi canggih untuk mengatasi berbagai permasalahan masyarakatnya. Di era society 5.0 permasalahan yang muncul di era digital telah teratasi, dan kehidupan masyarakat telah bersatu dengan teknologi. 

Meski demikian Indonesia tetap memiliki peluang. Berdasarkan data yang dirilis Wearesocial bulan februari lalu, Indonesia saat ini memiliki 202.6 juta pengguna internet, yang dapat diartikan 73.7% masyarakat Indonesia sudah dapat mengakses internet. Melesatnya perkembangan perusahaan startup Indonesia menjadi indikasi masuknya masyarakat Indonesia ke budaya digital. Sebut saja Gojek, memulai debutnya tahun 2010 dengan 20 pengemudi, tahun 2020 perusahaan startup anak bangsa tersebut telah memiliki 38 juta pengguna aktif yang tersebar di asia tenggara. Berdasarkan riset yang dilakukan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia masyarakat Indonesia semakin bergantung pada aplikasi digital di masa pandemi. Masyarakat banyak menggunakan layanan digital seperti pembelian makanan, layanan kesehatan, dan pembayaran online, hal ini menunjukkan perkembangan positif akselerasi digital di Indonesia.

Sebenernya apa saja perubahan yang terjadi saat kita masuk era digital? Mengapa akselerasi digital begitu penting saat ini? Digitalisasi dapat menawarkan banyak hal untuk mengatasi berbagai permasalahan yang ada di masyarakat. Pertama digitalisasi memberikan ruang tidak terbatas, untuk menyimpan berbagai data. Digitalisasi juga membuat kita dapat mengambil keputusan dengan lebih cepat, data yang tersimpan di ruang digital dapat diolah untuk memprediksi suatu fenomena tertentu sehingga kita dapat mengambil keputusan lebih cepat dan akurat. 

Selain itu digitalisasi mengarahkan kita pada kebiasaan yang lebih efektif, cepat, mudah, dan praktis. Berdasarkan jurnal penelitian berjudul How to Make Digitalization Better Serve an Increasing Quality of Life yang dirilis MDPI, menunjukan korelasi positif antara pembangunan digital dengan kesejahteraan manusia. Digitalisasi dapat mengubah kualitas waktu menjadi lebih efektif dan fleksibel. 

Mengapa Kita Takut Perubahan?

Perubahan memang tidak hanya menawarkan dampak baik, tetapi bukan berarti kita takut untuk menuju perubahan. Generasi muda yang tumbuh bersamaan dengan teknologi, lebih mudah beradaptasi dan melakukan akselerasi digital. Namun perlu kita akui ada kesenjangan antara generasi muda dan generasi tua atau generasi analog. Generasi analog kesulitan untuk masuk ke era digital karena berbagai faktor, salah satunya sulit menerima, dan adanya ketakutan pada dampak negatif perkembangan teknologi.

Beberapa kekhawatiran muncul di masyarakat mengenai perkembangan teknologi. Isu-isu seperti, tidak memiliki pekerjaan karena robot, teknologi mengubah kepribadian menjadi individualis, dan kekhawatiran pada keamanan informasi digital, seringkali muncul di benak masyarakat. Kekhawatiran pada pergeseran budaya juga menjadi alasan beberapa orang takut akan perkembangan teknologi. Contohnya bulan april lalu masih banyak masyarakat yang keukeuh untuk pergi mudik, budaya mudik bagi beberapa masyarakat tidak bisa digantikan dengan sekedar video call. Beberapa orang khawatir jika terus melakukan silaturahmi melalui media sosial akan menyebabkan ikatan antara sanak keluarga melonggar karena semakin jarangnya pertemuan langsung.

Apakah budaya digital dapat menggantikan kebudayaan sebelumnya? Tentu tidak sepenuhnya, budaya, tradisi, kebiasaan tidak bisa hilang begitu saja. Dalam bukunya The Clash of Civilization, Samuel P. Huntington menjelaskan, saat suatu budaya bertemu dengan budaya baru dapat terjadi benturan budaya. Menurut Huntington konflik peradaban yang dihadapi saat ini terjadi karena perbedaan kebudayaan. Perlu dipahami jika digitalisasi perlu kolaborasi antara teknologi dan kemampuan manusia. Budaya digital tidak menghapus budaya sebelumnya tetapi melakukan penyesuain untuk mengatasi permasalahan baru.

Mendukung Akselarasi Digital

Pada titik ini akselerasi digital merupakan perlombaan yang tengah dilakukan oleh seluruh negara di dunia. Menuju era digital adalah langkah yang paling tepat untuk menghadapi pandemi, dan menyelesaikan berbagai permasalahan sosial, mau tidak mau! Berdasarkan SAS Institute transformasi digital dapat dilakukan dengan penyatuan antara orang, strategi bisnis, dan teknologi.

Di tengah perlombaan ini Telkom menjadi tonggak utama akselerasi digital di Indonesia. Telkom Indonesia menjadi pembangun infrastruktur utama akselerasi digital. Telkom Indonesia mendukung akselerasi digital dengan menyediakan berbagai infrastruktur diantaranya backbone broadband yang memanfaatkan satelit dan kabel optik. Telkom juga menjangkau daerah 3T (Terdepan, Terpencil, Tertinggal), dengan VSAT dan Mangoesky. Telkom Indonesia juga tengah menyiapkan jaringan 5G untuk bisa dinikmati di Indonesia. Menciptakan ekosistem digital juga menjadi fokus Telkom Indonesia saat ini. 

Tidak hanya fokus pada infrastruktur, Telkom Indonesia memahami jika SDM yang paham digital tidak kalah penting dalam menyukseskan akselerasi digital. Selain melakukan training dan hiring untuk memajukan SDM internal, Telkom mendukung terlaksananya desa digital, dan membantu pelaku UMKM supaya menjadi masyarakat yang memiliki daya saing. Telkom juga mendukung dunia pendidikan dengan berkolaborasi bersama pemerintah menyediakan kuota murah bagi tenaga pendidik, dan pelajar. Melalui berbagai program dan kolaborasi ini Telkom mengharapkan masyarakat Indonesia tidak hanya menjadi konsumen pasar digital tetapi menjadi pelaku digital yang cerdas dan dapat memanfaatkan digitalisasi dengan baik. 

Ekosistem digital sangatlah banyak, meraih era digital berarti mensejahterakan berbagai sektor kehidupan. Bersama perubahan yang terus dilakukan Telkom bukan tidak mungkin Indonesia dapat mencapai revolusi industri 4.0 bahkan era society 5.0. Perubahan menuju budaya digital dapat kita peroleh melalui akselerasi digital dengan dukungan berbagai pihak.

Sudah saatnya kita dukung akselerasi digital demi Indonesia yang lebih baik di masa depan!

Referensi:

https://datareportal.com/reports/digital-2021-indonesia

https://telkom.co.id/sites/about-telkom/id_ID/news/56-tahun-telkom-komitmen-wujudkan-kedaulatan-digital-indonesia-1389

https://ldfebui.org/wp-content/uploads/2018/03/Lembar-Fakta-Ringkasan-Hasil-Survei-LD-FEB-UI.pdf

https://unpar.ac.id/budaya-digital-membangun-atau-mendestruksi/

Kryzhanovskij, A., Baburina, N. A., & Ljovkina, A. O. (2021). How to Make Digitalization Better Save an Increasing Quality of Life? MDPI.

Komentar (1)

  • FA

    Faiq Aminuddin

    31 Jul 2021 14.54 WIB

    Menarik. Menurut saya, salah satu dukungan untuk digitalisasi adalah kekompakan untuk membangun satu pusat data. >
    http://digitalbisa.id/artikel/diperlukan-pusat-data-digital-nasional-MHRyT

    Hapus

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

X

Tekan ESC untuk keluar