Akselerasi Digital: Perubahan Sebenarnya tentang Rasa Emosional

Ilustrasi beribadah di masa pandemi . Sumber: Unsplash.com | Milada Vigerova


#WritingCompetitionDigitalbisa #Digitalbisa #UntukIndonesiaLebihBaik

Ada alasan mengapa masyarakat berpegang pada budaya dan tradisi. Budaya yang kita pegang mengajarkan berbagai hal positif seperti saling menghargai, berbagi pada sesama, menumbuhkan rasa kekeluargaan dan mengingatkan pada apa yang kita yakini. Tetapi apa yang terjadi ketika budaya dan tradisi yang selalu kita jalani harus bertentangan dengan realitas yang berubah? Bagaimana cara kita terus menghormati budaya dan tradisi sambil menghadapi permasalahan dan perubahan demi dunia yang lebih baik di masa mendatang?

Agama telah menjadi pedoman hidup bangsa Indonesia yang tertanam dalam sila pertama Pancasila. Indonesia memiliki banyak tradisi hari raya, setiap agama di Indonesia memiliki satu bahkan lebih, Islam menjalankan hari raya idul fitri, Kristen merayakan hari natal, Hindu memiliki tradisi nyepi, dan Konghucu merayakan imlek. Tradisi perayaan hari raya sangat beragam, pulang ke kampung halaman atau mudik menjadi salah satu tradisi khas saat libur hari raya. Mudik dilakukan untuk berkumpul bersama keluarga, atau melakukan upacara tertentu. Tradisi berkumpul pada hari raya memiliki makna tersendiri bagi setiap penganut agama.

Namun perubahan situasi, membuat kita dapat melihat kembali bagaimana seharusnya tradisi mudik, dan berkumpul bersama keluarga dilakukan. Berdasarkan kacamata Covid-19 tradisi mudik di hari raya menjadi sulit dilakukan, dan mengancam nyawa. Keselamatan seharusnya menjadi prioritas, namun masih banyak masyarakat yang keukeuh pergi mudik untuk bisa berkumpul dan menikmati kehangatan bersama keluarga. 

Pada liburan hari raya di masa pandemi, pemerintah terus melakukan kebijakan larangan mudik. Namun, di setiap libur hari raya tetap terjadi peningkatan jumlah kendaraan pemudik, dan jumlah positif covid-19. Ambil contoh saat lebaran bulan mei 2021 lalu, mengutip dari katadata, dari 6.742 pemudik yang dites secara acak sebanyak 4.123 pemudik dinyatakan positif covid-19. Meski telah ada larangan, tidak menyurutkan sebagian masyarakat untuk nekat pergi mudik. Mengutip dari Kompas, menurut Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran, Ahmad Buchari, alasan masyarakat nekat melakukan mudik adalah ada rasa rindu dan jenuh, serta lebaran telah menjadi suatu tradisi yang dirasa wajib.

Pemerintah hingga Menteri Agama kompak menyarankan masyarakat melakukan lebaran digital. Sebenarnya lebaran digital tidak terlalu buruk banyak inti dari pelaksanaan lebaran yang tetap kita dapatkan, seperti bersilaturahmi dan saling memaafkan. Mungkin perubahan yang paling terasa jika bertemu langsung ada tradisi sungkeman, jika secara digital hanya bisa saling bertatap muka. Namun di masa depan, akselerasi digital memungkinkan kita melakukan tradisi sungkeman online menggunakan teknologi virtual reality. Di era digital ini kehadiran fisik saat lebaran sebaiknya tidak kita pahami secara kaku, hal yang terpenting kewajiban beribadah dapat terlaksana dengan aman.

Hal serupa terjadi pada perayaan natal yang mengalami pembatasan. Misalnya ibadah misa yang terpaksa dilakukan secara virtual. Teknologi digital kembali menjadi solusi meski menuai berbagai anggapan. Mengutip dari CNN Indonesia, Pastor Romanus Romas merasa sedih saat melakukan misa online, dan kaku saat harus berbicara di depan kamera. Beberapa umat juga menyampaikan perasaan hampa, dan sedih di sosial media Komsos KAS mengenai perayaan Misa online.

Teknologi digital sebenarnya menawarkan berbagai solusi untuk melakukan perayaan hari raya dengan aman. Kita dapat tetap berbagi dengan saudara kita menggunakan uang digital, berbelanja keperluan perayaan melalui online shop atau mengirim paket bingkisan kepada keluarga secara online. Selain aman, menggunakan layanan digital memiliki berbagai keuntungan seperti mudah, dan lebih hemat waktu dan tenaga.

Melihat beberapa peristiwa tersebut, selain keamanan, teknologi digital memberikan kita manfaat efektifitas, dan kemudahan, meski ada penurunan rasa emosional yang sulit diatasi, saat menjalankannya. Pengalaman dua tahun menjalani masa pandemi membantu saya menyadari bahwa teknologi digital membantu banyak aktifitas di kondisi tidak terduga saat ini. Meski nanti pandemi berlalu teknologi digital tetap bermanfaat untuk membantu kehidupan kita menjadi lebih praktis, cepat, dan mudah. Digitalisasi juga dapat membantu berbagai permasalahan sosial dengan menyediakan ruang tidak terbatas untuk berinovasi.

Mustahil untuk membayangkan berbagai tradisi hari raya menghilang di masa depan. Tradisi tersebut merupakan kebudayaan yang telah masuk menjadi kehidupan pribadi masyarakat. Memiliki rasa kekeluargaan yang kuat telah menjadi identitas bangsa Indonesia bertahun-tahun lalu. Meski masih kaku dan tingkat budaya serta emosional tertentu masih sulit untuk dijangkau teknologi digital, bukan berarti hal tersebut menghambat kita melakukan akselarasi digital demi masa depan Indonesia yang lebih baik.

Memasuki era digitalisasi bukan berarti kita meninggalkan kebudayaan dan tradisi kita, digitalisasi adalah cara untuk mempermudah melakukan tradisi, dan kebudayaan.

Referensi:

https://mediaindonesia.com/nusantara/397438/terapkan-digitalisasi-demi-tingkatkan-kompetisi-dan-efisiensi

https://www.itb.ac.id/berita/detail/57625/pemanfaatan-data-dalam-proses-pengambilan-keputusan-di-era-digital

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200409195848-284-492254/gereja-kosong-dan-hati-pastor-yang-meleleh-di-misa-online

Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu, untuk berkomentar memakai akun kamu.

Tekan ESC untuk keluar